Kejujuran dan Kebenaran

Potensi Devisa dari Asian Games 2018 Capai Rp3 Triliun

MAKLUMATNEWS.com — Kementrian Pariwisata mengungkapkan dampak ekonomi langsung dari penyelenggaraan Asian Games 2018. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan potensi penerimaan devisa dari pesta olahraga Asia ini diperkirakan mencapai US$230 juta atau sekitar Rp3 triliun.

Arief mengatakan, 150 ribu penonton wisatawan mancanegara (wisman) akan berbelanja masing-masing sebesar US$1.200. Hal itu dengan asumsi satu penonton berkunjung selama tujuh hari di Indonesia. Total proyeksi devisa dari penonton adalah sebesar US$180 juta.

Sementara 20 ribu atlet, official, dan media akan menyumbangkan devisa masing-masing sebesar US$2.500 atau total keseluruhan sebesar US$50 juta. Kelompok tersebut diasumsikan akan tinggal selama 18 hari di Indonesia.

Direct impact Asian Games itu penting, tapi yang paling penting adalah media value-nya. Maka dari itu, selama ini Kemenpar selalu mengeluarkan biaya media yang lebih tinggi daripada biaya event,” kata Arief di Jakarta, Ahad, 13 Mei 2018 sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari Warta Ekonomi.com.

Pandangan yang sama dikatakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro yang memperkirakan dampak langsung pengeluaran peserta dan pengunjung Asian Games 2018 mencapai Rp3,6 triliun.

Bambang menuturkan bahwa pengeluaran sebesar Rp2,5 triliun terjadi di Jakarta dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung 70%. Sisanya, Rp1,1 triliun, terputar di Palembang dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 30%. Diestimasikan 88% pengeluaran berasal dari penonton dan wisatawan, 4,67% oleh atlet, 3,96% awak media, 2,34% officials, dan 0,77% pengeluaran sukarelawan.

“Akomodasi diperkirakan menjadi komponen pengeluaran terbesar yang mencapai Rp1,3 triliun. Sementara komponen terbesar kedua adalah transportasi Rp640 miliar, makanan dan minuman Rp628 miliar, belanja Rp560 miliar, dan pengeluaran hiburan Rp280 miliar,” paparnya.(*)

 

Editor : Aspani Yasland