Kejujuran dan Kebenaran

Tragedi Kematian Haringga dan Memori Pesan Albert Camus  Oleh Anggoro Pramudya

Sepak bola bukanlah sekadar kepiawaian mengolah si kulit bundar. Banyak daya magis keutamaan di sana yang mampu menyedot perhatian penghuni jagat bumi. Keutamaan dalam sepak bola itu juga menyeret filsuf jempolan asal Prancis yang memiliki darah Aljazair, Albert Camus.

Albert Camus mungkin satu-satunya sastrawan yang pernah mengatakan, bahwa ia mendapatkan pelajaran moralitasnya dari olahraga. Dia menyambut sebuah bentuk perjuangan seperti pertandingan sepak bola tidak dimaksudkan untuk menghabisi musuh.

Bahkan, pria yang mengaku pernah menjadi seorang kiper amatir di salah satu tim gurem menyebut pemberontakan. Yaitu, sebuah perjuangan keras yang justru untuk melahirkan sebuah dunia bersama, baik untuk tim yang bertanding atau pun pendukungnya.

Pertandingan Si Kulit Bundar sejatinya merupakan refleksi keberadaan dunia universal yang multikultural. Di dalam hal tersebut, ketika semua pemain dan suporter fanatik sepak bola serentak berjanji membentangkan spanduk dan berteriak ‘Say no to racism‘ maka di sana sebenarnya sedang terjadi perayaan kemanusiaan.

Ya, perayaan kemanusiaan seharusnya dapat diresapi dengan baik oleh pendukung kesebelasan mana pun baik pendukung layar kaca, maupun pendukung fanatik yang hampir tak pernah absen pergi ke stadion. Stadion pun tak ubahnya menjadi altar (medium) ibadah para suporter kepada klub tercinta, sebagai bentuk bermuaranya ekspresi kemanusiaan yang disuarakan oleh banyak suporter.

Tapi, kuil-kuil (stadion) tersebut kini tampak suram dan mencekam. Rapalan doa (nyanyian/chants) penyemangat tim berganti menjadi teror kepada para pemain dan suporter tamu.

Seperti memasuki arena rumah hantu di tempat hiburan malam, mereka menjanjikan kesan mencekam ketimbang rasa kemanusiaan itu. Koreo dan spanduk yang membentang di pinggir lapangan pun terlihat lebih banyak mengintimidasi ketimbang mendukung tim sendiri.

Fragmen di atas sepertinya cukup untuk menggambarkan insiden memilukan yang menimpa salah satu pendukung Persija Jakarta, Haringga Sirla pada pertandingan Liga 1 antara Persib Bandung versus Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Ahad (23/9). Almarhum merupakan korban dari rivalitas barbar suporter Indonesia yang sudah jauh dari kata ‘manusia’.

Reaksi lantas mengapung di lini masa, ucapan belasungkawa datang dari segala penjuru seperti Kemenpora Imam Nahrawi, Ketua PSSI Edy Rahmayadi, dan tak ketinggalan pentolan Viking serta Ketua Umum PP Persija Ferry Indrasjarief.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, penyesalan yang berlarut tak dapat menghadirkan jalan keluar untuk menghentikan kultur kekerasan dalam suporter Indonesia. Toh siapa yang dapat menggaransi bahwa dendam tak akan terjadi? Selama tak pernah ada ketegasan dalam menjalankan regulasi dari pihak terkait khususnya PSSI, yang dengan dewasa patut menggunting putus permasalahan antarsuporter di Indonesia.

Mengutip dari video yang diunggah Emha Ainun Nadjib atau yang biasa disapa Cak Nun, sepak bola dapat dipetik sebagai hal positif untuk menjalankan ibadah sebagai umat manusia yang taat. Karena sejatinya dalam hidup ini kita tidak boleh melakukan apa pun kecuali beribadah.

“‘Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya budun‘. Kalimatnya ini kan bukan saya ciptakan jin dan manusia untuk beribadah tetapi terbalik, saya tidak menciptakan jin maupun manusia, kecuali untuk beribadah. Jadi gak boleh kalau tidak beribadah. Maka apa saja harus kita ibadahkan. Sepak bola untuk bersyukur, bersaudara, untuk menciptakan ghirah, dan saling tolong menolong,” tulisnya dalam video tersebut.

Semoga insiden di atas menjadi akhir bagi salah kaprahnya fanatisme buta dan regulasi alot sepak bola Indonesia. Selamat jalan, istirahat dengan damai Haringga Sirla.

*penulis adalah wartawan Republika