DARI MASJID AGUNG MEMULAI AMANAH

     

    Masya Allah !!! Spektakuler !!! Tak berlebihan rasa takjub itu disandangkan kepada Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H.Herman Deru dan Wakilnya H.Mawardi Yahya.

Betapa tidak salut, untuk pertama kalinya dan ini mengukir sejarah baru bahwa seremoni hari pertama kerja Herman Deru dan Mawardi Yahya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel yang baru dilantik 1 Oktober 2018 lalu, ditandai dan dilakukan di area keramaian publik yakni di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), di sekitaran kaki Jembatan Ampera, Palembang. Di semangati ruh pejuang Sumsel, Herman Deru pidato resmi, yang sebelumnya dilakukan di gedung yang berhawa dingin.

Dan selanjutnya, Herman Deru yang didampingi Mawardi Yahya langsung sujud syukur di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin, sekaligus sholat zuhur berjamaah dengan ratusan jamaah masjid yang bersejarah dan terbesar di Sumsel tersebut. Dan, malamnya melakukan tasyakuran di Griya Agung.

Dari Masjid Agung, Herman Deru secara implisit ingin mengajak segenap masyarakat Sumsel hendaknya selalu tidak memutuskan tali Allah, hablumminallah, hubungan vertikal natara Sang Pencipta dan umat, yang bermuara adalah keberkahan hidup warga di Bumi Sriwijaya ini.

Bahkan, secara eksplisit Herman Deru dalam pidatonya di Monpera, Selasa, 2 Oktober 2018, mengajak rakyat dan semua pihak untuk senantiasa berpegang teguh pada tali agama dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

“Ini bermakna, agar kita selalu menjalankan ajaran agama kita masing-masing.Jangan sekali-kali melenceng dan melupakan apa yang telah diatur dalam agama,” ujarnya.

 

Sementara, pidato resmi di ruang terbuka Monpera, Herman Deru yang sukses dua periode menjadi Bupati OKU Timur ini, menyampaikan pesan masyarakat tidak boleh melupakan dan selalu menghargai jasa para pahlawan dan semua tokoh yang telah membangun Sumsel.

“Pertama, agar kita tidak pernah lupa terhadap seluruh jasa pahlawan dan pemimpin terdahulu yang telah mengorbankan harta, jiwa, dan raganya untuk Indonesia dan Provinsi Sumatera Selatan,”ucap Herman Deru memberikan alasan kenapa pidatonya dilakukan di Monpera.

 

Lantas Herman Deru mengutarakan prinsip kepemimpinannya dilandasi semangat keterbukaan, makanya dia memilih pidato perdananya di area terbuka seperti Monpera ini.

“Saya mengajak semua masyarakat terutama jajaran pemerintah daerah untuk selalu terbuka dan memegang prinsip keterbukaan. Tidak boleh tertutup dengan masyarakat apalagi menutupi hal hal negatif,” tegas Herman Deru.

Oleh sebab itu, dia mengajak untuk menerapkan transparansi dan keterbukaan dalam menjalankan tugas untuk menuju Sumsel yang lebih baik dan lebih maju. Memulai dengan apa adanya dan jangan pernah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Kemudian Herman Deru dan Mawardi Yahya juga ingin mempertontonkan bahwa selain menjaga habluminallah, yang tak kalah pentingnya dan guna menjaga keseimbangan dan kesuksesan hidup, yakni menjaga hubungan sesama manusia, habluminannas. “Kami mengajak semua masyarakat Sumsel untuk menjaga rasa cinta, hormat, dan sikap saling menghargai tanpa memandang status sosial dan jabatan,” ujar Herman Deru.

“Kita pelihara apa yang sudah disajikan oleh pendahulu kita. Jangan pernah menyalahkan masa lalu untuk menutupi kegagalan di masa yang akan datang. Jangan pernah saling mencaci maki siapupun,” tegasnya.

Herman Deru dan Mawardi mengharapkan dukungan, support, bantuan, dan doa dari seluruh masyarakat Sumsel.

“Jangan pernah merasa diri kita tidak punya peran, tidak dapat berbuat apa-apa. Asal kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan, kita bisa berbuat dan berperan untuk Sumsel, karena Sumsel adalah milik kita semua. Sumsel Bersatu Maju Bersama Masyarakat,” pungkasnya. []Aspani Yasland