Kejujuran dan Kebenaran

CALON MADRASAH PERTAMA YANG TERKIKIS OLEH ZAMAN

Oleh : Rusdiana
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang

 

MAKLUMATNEWS.com, — WANITA adalah tempat paling penting dalam membangun generasi bermartabat. Di sana, tersemai bibit-bibit unggul yang Allah hadiahkan dalam rahim perempuan mulia bernama IBU. Jika ia reot, rusak, tak berpendidikan, maka jangan heran jika bibit-bibit itu tumbuh menjadi layu, rapuh, dan liar. Nilai-nilai Islam yang sejatinya tumbuh mengakar didalam rumah, namun terkikis dengan warna-warni kemajuan teknologi yang memberi kesenangan sesaat. Tentu menjadi dambaan bagi siapapun, disaat menjadi seorang ibu berhasil mencetak anak-anak menjadi penghafal Al-Qur’an dan hadits, bukan bangga ketika seorang anak lebih hafal lagu-lagu yang melalaikan bahkan lebih mementingkan ilmu dunia dibandingkan ilmu agama yang tak hanya untuk kebaikan akhirat namun juga untuk kebahagiaan di dunia. Betapa banyak perempuan sekarang yang menyepelekan hal ini, bahwa kelak seorang perempuan akan menjadi calon madrasah pertama menjadi pusat peradaban yang akan melahirkan generasi terbaik atau para pejuang yang akan mengemban tugas dakwah.

Seorang penyair Arab mengatakan, “Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadtaha Sya’ban Khoirul ‘Irq” (Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa berakar kebaikan). Di zaman yang berkembang pesat dengan teknologi saat ini, tak heran jika perempuan lebih mementingkan penampilan, fashion, karir, bahkan rasa malu yang menjadi sifat istimewa perempuan makin sulit ditemukan ditengah kehidupan yang serba di update ke media sosial. Selain itu , mengalah saat budaya bebas menggerus kepercayaan yang sudah lama ada, dengan berlomba-lomba mempercantik diri agar menarik setiap mata lelaki yang memandang. Memperbanyak isi lemari dengan baju-baju dan barang-barang trend baru, namun mengabaikan isi kepala yang seharusnya di isi dengan ilmu yang akan bermanfaat untuk generasinya kelak.

Perjalanan napas anak keturunan kelak bukan hanya dilanjutkan oleh anak-anak yang terlahir dari satu rahim seorang perempuan, namun berlanjut hingga generasi-generasi selanjutnya. Sungguh hal ini merupakan tanggung jawab seorang perempuan sebelum masa itu tiba. Menjadi calon madrasah yang akan membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak tentu harus dipersiapkan dari sekarang.

Di balik tantangan menjadi calon madrasah yang mulai terkikis oleh zaman, maka mulailah dengan memperbaiki diri sendiri dan mengedepankan kehormatan diri sehingga menjadikan kualitas diri yang baik agar tak kehilangan jati diri sebagai perempuan. Perlu dipahami secara mendalam bahwa pendidikan adalah hal yang terpenting bagi perempuan, teruslah mencari ilmu yang dapat meluruskan akidah, menshalihahkan ibadah, dan membaguskan akhlak baik itu lewat bangku sekolah atau perkuliahan, maupun datang ke majelis ilmu yang mengajarkan ilmu Syariat Islam serta belajar menghafal Al-Qur’an.Selain itu, tak kalah penting juga ialah menjaga diri dari pergaulan buruk dan pengaruh dalam euforia kecintaan kepada publik figur di dunia maya yang kurang mendidik sampai lupa bahwa ada Sayyidah Fatimah Azzahra sang putri Rasulullah Saw yang lebih layak dijadikan idola karena kepandaiannya dalam menjaga malu serta kesederhanaannya dalam bernampilan meski baju yang dikenakan telah lusuh dan terdapat 12 jahitan. Ada juga Sayyidah Aisyah sang istri Rasulullah yang dikenal sebagai perempuan yang sangat cerdas, kemampuannya dalam menghafal ribuan hadits telah membuktikan dedikasi terhadap Islam dalam hal intelektualitas. Serta Sayyidah Siti Khodijah binti Khuwailid sang perempuan kaya raya yang merelakan harta kekayaannya untuk perjuangan dakwah Islam, dan berani meninggalkan zona nyaman untuk hidup yang sederhana dengan Rasulullah. Wajar bila Fatimah Az-Zahra yang begitu tinggi adabnya berasal dari rahim seorang ibu yang luar biasa pula akhlaknya.
Maka jangan kendorkan semangat, jangan lengahkan ikhtiar, tetap berjuang dan bertarung dalam menjaga diri untuk generasi-generasi kelak agar mampu terbang mengangkasa dengan cita-cita mulia.