Trotoar Hak Pejalan Kaki

Oleh : Lika Maretha

Jurusan Ilmu Komunikasi
FISIP UIN RADEN FATAH PALEMBANG

Ramainya video aksi penolakan sepeda motor yang memakai trotoar sebagai lintasannya seakan kembali mengungkap luka lama terkait belum terlindunginya hak-hak perjalan kaki di Indonesia. Sayangnya, aksi itu justru mendapat amarah dari pengendara motor.

Trotoar yang diperuntukkan bagi para pejalan kaki memang sudah sering dijadikan alternatif bagi pengendara motor untuk menghindar dari kemacetan lalu lintas. Bukan hanya itu, trotoar juga kerap kali dipergunakan bagi pedagang kaki lima untuk berdagang.

Adanya peraturan dasar UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan nampaknya tidak cukup untuk membuat pengendara motor takut melanggar pemakaian trotoar. Dalam Pasal 106 ayat (2) UU 22/2009, dikatakan bahwa pengemudi kendaraan bermotor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki. Sedangkan di PP 34 Tahun 2006, pelarangan penggunaan trotoar disebutkan dalam Pasal 34 ayat (4) yang mengatakan bahwa trotoar hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan’kaki.

Pihak berwajib sendiri sangat berperan dalam perlindungan hak para pejalan kaki. Sampai saat ini, penegasan hukuman bagi pelanggar yang memakai trotoar sebagai tempat berdagang atau jalanan motor belum ditindak secara tegas. Selama ini, masyarakat bertindak secara sporadis dan tanpa koordinasi dengan pihak berwajib dalam penegakan aturan penggunaan trotoar. Sampai sekarang, pemerintah pun tidak menuntut urgensi bagi penegakan hukum di trotoar. Perda (peraturan daerah) harus menertibkan pedagang kaki lima, perda harus menindak sepeda motor yang masuk.

 Secara sosiologis, orang yang menggunakan trotoar dengan tidak semestinya di Indonesia merasa tidak bersalah. Banyaknya pelanggaran yang terjadi dan tidak segera ditertibkan membuat orang terus melakukan pelanggaran tersebut. Kesalahan-kesalahan yang terus menerus dilakukan itu telah menjadi pembenaran kesalahan pejalan kaki masih dianggap sebagai kaum terpinggirkan dan tidak dilindungi hak-haknya. Tidak hanya itu, pedestrian.pun’seringkali.tidak.diurus,dengan,layak.

Trotoar hanya untuk pejalan kaki, apapun alasannya termasuk macet. Yang tidak jalan adalah penegakan hukumnya pihak berwajib dan Pemda yan tidak pernah serius menegakkan aturan,hukum,tersebut

Sebenarnya, trotoar yang sering disalahgunakan tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand atau Malaysia, pedestrian masih menjadi prioritas kedua. Di negara-negara yang banyak memakai penggunaan sepeda motor dan tingkat kemacetan tinggi, di sana tidak ada prioritas bagi pejalan kaki.

Banyaknya tiang-tiang pembatas yang dipancang di ujung trotoar jalan juga tidak bisa menjadi solusi. Masih saja banyak pihak-pihak yang melanggar dan membuat tiang tersebut kadang rusak.