Membunuh Gajah Menghancurkan Sejarah

MAKLUMATNEWS.com  PAGARALAM.- Keberadaan Gajah sumatera, tidak lepas dari sejarah peradaban manusia. Jika dulu, kebesaran peradaban bangsa Mongol dan Amerika dibangun bersama kuda, maka berbagai bangsa di Asia dan Afrika, seperti Indonesia, dibangun bersama gajah. Dahulunya, mamalia besar ini begitu dihormati dan mendapat tempat terhormat, baik sebagai penyambut tamu hingga sebagai pasukan perang. Mengapa sekarang dibunuh?

Peradaban megalitikum Pasemah, yang tumbuh dan berkembang sekitar 2.000 – 3.000 tahun silam, di wilayah Bukit Barisan Sumatera, secara tersirat meninggalkan jejak erat persahabatan antara manusia dengan gajah. Hal ini dapat dibuktikan dengan  temuan sejumlah arca megalit atau patung yang dinamis —bukan patung totem yang ditemukan pada sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun MaklumatNews.com dari sejumlah catatan penting peradaban manusia dengan Gajah yang dituangkan oleh Van Der Hoop, seorang arkeolog Belanda pada 1930-an di Tebat Kotaraya, Pagaralam, Sumatera Selatan.

Dalam tulisannya Ia menyebut penemuan , Batu Gajah yang ditemukan di Pagaralam  berbentuk telur, dipahat berwujud dua manusia menyerupai prajurit. Satu prajurit digambarkan mengapit satu individu gajah. Arca ini seakan menjelaskan jika para prajurit dari masyarakat yang kemungkinan besar menguasai Bukit Barisan sepanjang Pulau Sumatera itu, menjadikan gajah sebagai kendaraan atau pasukan perangnya.

Arca atau patung lain mengenai gajah dalam peradaban megalitikum Pasemah, di kemukakannya berdasarkan hasil  temuan di Gunung Megang (Jarai, Lahat) dan memperlihatkan seekor gajah telentang dan ada seorang manusia duduk di atasnya. Kemudian, ada arca gajah yang ditemukan di Pulau Panggung (Kecamatan Pulau Bulan, Lahat), dan situs Tegurwangi (Pagaralam). Keberadaan patung atau arca gajah peninggalan peradaban megalitikum Pasemah ini, dapat dikatakan lebih dominan dibandingkan arca hewan lain seperti babi atau harimau.

Dari sekian temuan tersebut, lalu memunculkan pertanyaan dalam benak kita akan pentingnya Gajah dalam kehidupan masyarakat Pasemah ? Sebuah penghormatan, jawabnya. Penghormatan ini diberikan, karena gajah adalah sahabat manusia dalam hal transportasi tenaga kerja, dan juga dinilai sebagai hewan yang mampu menghadapi medan Bukit Barisan yang berbukit dan berhutan tropis lebat, yang dipenuhi binatang lain sebagai ancaman hidup manusia. Dengan kata lain, arca-arca itu ingin menyampaikan pesan, jika manusia dan gajah lah yang membangun peradaban Pasemah.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menunjukkan, pada 2016 terjadi sekitar 46 konflik antara manusia dan Gajah . Jumlah ini meningkat pada 2017 menjadi 103 kasus. Sementara dari Januari – Juli 2018, konflik sudah terjadi 47 kali. Dimana dari sekian banyak kasus tersebut ratusan Gajah harus kehilangan nyawa akibat ulah tangan oknum yang memanfaatkan satwa di lindungi tersebut untuk komoditi komersial.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, konflik manusia dengan gajah tidak akan berhenti bila habitat gajah terus dirusak untuk berbagai kepentingan. Termasuk, untuk perkebunan. Selain itu, di sekitar habitat dan jalur lintasan gajah banyak dikembangkan juga tanaman yang disukai gajah, seperti sawit, pinang, karet, padi, dan jagung.

“Jika tanaman-tanaman yang disukai gajah terus diperluas, konflik akan terus terjadi,” jelasnya seperti dilansir dari Mongobai.co.id

Sapto mengatakan, kebiasaan masyarakat untuk menanam tanaman yang disukai gajah harus diubah. Memang butuh waktu, tapi tetap harus dilakukan untuk mengakhiri cerita pahit ini.

“ Saya berharap kesadaran masyarakat harus ditingkatkan. Manusia harus memahami bahwa gajah pun berhak untuk hidup. Hanya karena memburu gadingnya, kalian tegah membunuh mahluk hidup,” sedih rasanya,” tutupnya.

Editor : Jemmy Saputera