Manfaatkan Bantuan Sarana Untuk Siswa Inklusi

MAKLUMATNEWS.com, PALEMBANG–Sarana dan prasarana menjadi salah satu penunjang yang sangat penting di dalam pendidikan inklusi, hal ini terlihat di SD Negeri 30 Palembang. Sekolah ini telah memanfaatkan bantuan sarana peraga yang diberikan pemerintah sebagai sarana taman bermain bagi siswa/siswi inklusi atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kepala SDN 30 Palembang Nuraini mengatakan, pendidikan inklusi ini sudah lama diterapkan, sebab pendidikan inklusi tidak hanya mengajarkan anak dapat belajar, menulis atau menghitung, melainkan menjadikan anak-anak ini bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Makanya ada sebagian tanah dibuat tempat khusus, seperti dijadikan sarana alat peraga atau tempat bermain anak inklusi. Dalam permainan ini juga sebagian besar berbahan dari kayu atau papan, jadi sangat aman apabila siswa inklusi dalam bermain.

“Dalam menghadapi siswa inklusi, pihaknya tidak menekan melainkan mereka diberikan kebebasan bereksplorasi dengan keadaan sekitar sekolah. Makanya tempat praktek ini dijadikan sebagai taman bermain anak inklusi, kadang dalam bermain mereka ditemani temannya yang bukan inklusi,” jelasnya, Selasa (12/2/2019).

Saat jam belajar juga ada beberapa siswa yang main keluar, sehingga guru selalu mengarahkan untuk memanfaatkan alat peraga sebagai mainan mereka.

“Perlu diketahui 1 kelas ini berjumlah 5 sampai 6 siswa inklusi, sehingga saat mereka berbaur dengan siswa lain, secara tidak langsung mereka pun menjadi siswa yang normal. Akan tetapi ini juga membutuhkan waktu dan peran orangtua siswa melatih anaknya di rumah. Jika semua ikut membantu maka siswa inklusi bisa bermetamorfosi menjadi siswa pada umumnya,” paparnya.

Menurut dia, siswa inklusi di SDN 30 bermacam-macam ada yang hyperaktif, gagu, pendiam, dan lainnya.
“Menghadapi siswa inklusi ini harus banyak besabar, sebab tidak setiap guru bisa mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Perlu keahlian khusus, dan kesabaran yang lebih,“ terangnya.

Menurutnya, anak berkebutuhan khusus itu memiliki tiga tingkatan, yaitu ringan, sedang dan berat. Masing-masing tingkatan butuh perlakuan berbeda. Mulai dari siswa yang tidak mau bersosialisasi dengan teman, baik itu menulis, membaca dan menghitung.

“Memang kalau dilihat IQ tidak sama dengan IQ siswa lainnya. Alhamdulilah setelah dilatih mereka mulai menurut, bahkan banyak anak ABK yang memiliki IQ sama dengan anak normal lainnya,” pungkasnya.

PENULIS :Zahid Blandino