Sejarah Pers Sumsel, Sejarah Hidup Mereka Juga

 

MAKLUMATNEWS.com –Tanpa mengenyampingkan eksistensi media mainstream lokal, yang ada di kota Palembang, peran dan konstribusi pers nasional yang ada koresponden atau wartawannya yang ditugaskan di daerah Sumatera Selatan [Sumsel], tidak pula bisa ditampik keberadaannya.

Di penghujung kepemimpinan Gubernur Sumsel Letjen TNI [Purn] H.Ramli Hasan Basri, kemudian meletusnya reformasi dan selama Gubernur Laksamana Madya TNI [Purn] H. Rosihan Arsyad, geliat dan eksistensi koresponden atau wartawan media nasional cukup memberi warna dalam menjalankan fungsi persnya, terutama sekali fungsi kontrol sosial. Bahkan tidak sedikit isu pembangunan Sumsel merebak dan mencuat ke permukakan lantaran diungkap para koresponden dan wartawan koran nasional tersebut, termasuk juga media elektronik, televisi swasta dan radio. Istilah sekarang jadi trending topic.

Mereka memang kompak dan bergiat menggali informasi-informasi yang “sepi” serta menuliskan dan menyiarkannya ke publik Sumsel dan Palembang. Tak sedikit pejabat di daerah tiba-tiba sontak dan “tercengang” sembari bergumam,” kenapa bisa begitu ya..”. Dari deretan kasus yang pernah diungkap, ada kasus yang fenomenal yang diinvestigasi oleh para koresponden dan wartawan media nasional tersebut yakni kasus bagi-bagi uang anak jatah anak yatim oleh 74 anggota DPRD Sumsel dan nama Gubernur Rosihan Arsyad ikut pula terseret-seret.

Di era “keemasan” para koresponden tersebut, mereka membentuk organisasi wartawan yang bernama “Arisan Koresponen Palembang” yang disingkat AKP, lalu kemudian terbentuk pula “Forum Wartawan Sumsel” yang dipendekan dengan FWS. Yang menarik adalah organisasi ini sama sekali tidak “head to head” dengan Persatuan Wartawan Indonesia [PWI] Sumsel yang saat itu dipimpin oleh H.Asdit Abdullah dan juga masa kepemimpinan H.Kurnati Abdullah. Bahkan, banyak kegiatan seperti seminar, diskusi dan pelatihan kedua organisasi ini berkolaborasi untuk menyukseskannya. Termasuk juga mendapatkan petuah-petuah dari tokoh pers H.Ismail Djalili [alm], yang mengemongi para wartawan muda untuk maju.

Di era mileneals ini, mereka para koresponden media nasional tersebut sudah “meninggalkan” ritme kerja wartawan tersebut seiring dengan berjalannya usia, hanya yang patut disyukuri mereka saat ini masih diberikan kesehatan, umar yang barokah untuk menyaksikan kinerja para wartawan di era digital sekarang ini.

Untuk memperingati Hari Pers Nasional 2019 ini, berikut profil mereka yang pernah menghiasi dan menggoreskan catatan dalam sejarah pers di Bumi Sriwijaya ini. Tak salah dan tak berlebihan juga bila dikatakan, “sejarah pers Sumsel, sejarah hidup mereka juga”.

 

Syahnan Rangkuti

Sampai saat ini, dia masih aktif menjadi wartawan harian Kompas dan kini bertugas di Provinsi Riau. Selain pernah meliput berbagai event nasional dan internasional, Syahnan pernah lama bertugas di Palembang, Sumatera Selatan.

 

Mad Ridwan

Usai bertugas di Palembang, wartawan Republika ini hijrah ke Jakarta. Sempat di ANTV dan mendirikan berbagai Lembaga pelatihan pers, dia sekarang memiliki media online Bening Media dan Ketua DPD Aliansi Jurnalistik Online [AJO] Indonesia DKI Jakarta.

 

Afdhal Azmi Djambak

Sebelum mendirikan koran TRANSPARAN di Palembang, dia aktif sebagai wartawan Pelita usai berhenti dari harian Sriwijaya Post.Sekarang ini mengelola koran TRANSPARAN MERDEKA.

Ajmal Rokian

Sampai saat ini dia masih aktif di media elektronik yakni STCV, yang sekarang berkolaborasi dengan MNC, Indosiar dan lain-lain. Ia juga pernah menjadi wartawan harian Sumatera Ekspress. Dia pernah memimpin organisasi pers Majelis Jurnalis Cinta Sumsel yang disingkat MJCS di masa kepemimpinan Gubernur H.Syahrial Oesman.

Musnadi Thabrani

Di era keemas an koresponden Sumsel tersebut, dia bertugas sebagai Koresponden RCTI yang sebelumnya mengabdi di harian Media Indonesia dan Sumatra Ekspres. Saat ini diserahi tugas sebagai Pemimpin Redaksi INews TV, dulunya Sky TV.

Mala Derita

Dia adalah wartawan senior LKBN Antara  yang cukup lama bertugas di wilayah Sumsel, setelah itu hingga pension dini bertugas di Jakarta.

Helmy Marsindang

Senior wartawan dan pernah menjadi berbagai koresponden koran dan tabloid nasional, namun dia dikenal sebagai Koresponden Harian Ekonomi Neraca. Dia juga pernah menjadi Sekretaris PWI Sumsel.

Bangun Lubis

Sebelum menjadi Koresponden Suara Pembaruan, dia pernah menjadi wartawan mingguan Suara Rakyat Semesta dan Harian Sumatera Ekspress. Saat ini memimpin media islam As SAJIDIN Group dan Ketua DPD AJO Indonesia Sumsel.

 

Aspani Yasland

Sama seperti Bangun Lubis, pernah juga menjadi wartawan Sumatera Ekspress dan koresponden Media Indonsia dan Metro TV,  saat ini ikut Bangun Lubis mengabdi di media Islam As SAJIDIN GROUP.

Yurnaldi

Sekarang ini menjadi Komisioner Komisi Informasi Publik [KIP] Sumatera Barat. Waktu di Palembang, dia sebagai Koresponden Kompas yang berpindah-pindah tugas. Banyak buku pers yang telah ditulisnya dan pernah juga mendirikan Harian Vokal Sumsel.

FJ Adjong

Mantan wartawan harian Sriwijaya Post ini, pernah menjadi Koresponen harian Pelita dan Harian Bisnis Indonesia. Dia pernah membongkar praktek penyelundupan jeruk ke Palembang yang dikelola oleh keluarga Cendana.

Maspril Aries

Dulu dan sampai sekarang jadi Koresponden Republika di Palembang dan hobi menulis artikel dan opini. Selain itu seringkali diundang sebagai pembicara para diskusi dan seminar pers.

Dewi Gustiana

Sebelum menjalani bisnis travel umroh sekarang ini, wartawati ini pernah menjadi koresponden Suara Pembaruan dan pernah jadi trending topic ketika mengungkap kasus Kundi, Bangka. Dia juga pertama kali terjun ke dunia wartawan setelah diterima di harian Sumatera Ekspress.

Dahri Maulana

Juga bersama Helmy Marsindang, menjadi koresponen harian ekonomi Neraca. Saat ini mengabdi di Pulau Batam, Provinsi Kepri. Dia pernah mengungkap kasus Judi terselubung di kota Palembang.

Yudi Dewanto

Wartawan TPI [Televisi Pendidikan Indonesia], saat ini mengelola Yayasan Pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Ilmu Politik [Stisipol] Candradimuka Palembang.

Aina Rumiyati Aziz

Pernah menjadi koresponden Majalah TEMPO, Forum Keadilan milik Karni Ilyas, Kepala Biro Koran Sindo Sumbagsel dan juga pernah aktif sebagai pengacara dan aktivis perempuan.

Syahril Fauzi

Koresponden Harian Jakarta, beberapa surat kabar juga pernah diabdikannya seperti Harian Prioritas yang dibredel, Media Indonesia, Majalah Vista, Harian Sumatera Ekspress dan sekarang mengelola beberapa tabloid di daerah ini.

Alfrenzi Panggarbesi

Dia wartawan junior, tapi bergaul dengan seniornya, sehingga aktif di berbagai pertemuan FWS. Dia wartawan Palembang Pos dan pernah juga di Koran Sindo Sumbagsel. Beberapa buku juga pernah ditulisnya. Sekarang sebagai Staf Khusus Gubernur H. Herman Deru dan terjun ke dunia politik praktis.

Azwir

Sampai sekarang tetap mengabdi sebagai Wartawan Sriwijaya Post.

Rustam Imron

Juga seperti Azwir, hingga sekarang ini ia menjadi wartawan senior di harian Sriwijaya Post.[]Aspani Yasland