Mencapai Akhirat Yang Dimulai Dari Dunia

Barangsiapa yang mengehendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”(QS. Ash Shuraa: 20)

Oleh: Bangun Lubis [ Pimred Maklumatnews.com ]

 Tiada yang paling sulit, tetapi begitu mulia dan memberikan faedah yang begitu bermanfaat bagi diri, kecuali berusaha keras mencari akhirat. Namun, Ibadah yang diusahakan sekuat tenaga karena Allah untuk memperoleh kemualiaan di akhirat nanti, maka akan serta merta dapat pula menggapai dunia.

Selama ini kita sebagi orang mukmin selalu ragu, bila mengerjakan amal salih yang bertujuan untuk memperoleh kenikmatan dan kemuliaan dari Allah di akhirat nanti,  bahwa kita juga bisa sekaligus menggapai keberuntungan di dunia ini. Karena alasan keraguan itu, maka manusia selalu mengejar kenikmatan dunia   dan melupakan tujuan mulia akhiratnya sebagai tempat terakhir manusia.

Mengutip Ustads Imron Rosyidi, dalam sebuah Buku Hikayat Amal, menulis dengan luas menafsirkan sejumlah ayat yang terkait dengan tujuan hidup manusia yang nantinya akan berakhir ketika ajal menjemput.

Keberuntungan

Suatu akumulasi ibadah yang harus dikerjakan oleh seorang yang menamakan dirinya seorang muslim yang tujuannya adalah hari akhirat nanti. Tiada lain, bagaimana mengamalkan seluruh keawajiban yang disuruh oleh Allah SWT, kepada hambanya yang beriman, tanpa tawar menawar. Dan meningalkan kemunkaran.

Sebagaiman yang diungkapkan Allah dalam firmannya.” Barangsiapa yang mengehendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”(QS. Ash Shuraa: 20). Begitu nistanya dan meruginya mereka yang hanya mencari keberuntungan dunia saja.

Firman Allah dalam Al Quran ;”  Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56) . Sedemikian Nyata. Tak ada setetes pun kenikmatan yang hakiki akan diperoleh seorang hamba yang lemah dan penuh dengan kekurangan, kecuali dengan cara tunduk dan taat kepada Rabb yang menciptakannya. Siang dan malam terus menerus menjalankan ibadahnya.

Oleh sebab itu, Allah mengingatkan segenap insan di alam dunia ini bahwa keberuntungan dan kebahagiaan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar taat dan mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman :“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3). Allah juga mengingatkan :“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan binasa.” (QS. Thaha: 123).

Amal Akhirat

Perlu ada dorongan untuk setiap kita untuk terus mencari ilmu dan amal yang ditujukan untuk akhirat. Karena melaksanakan kegiatan amal akhirat itu sama halnya dengan mencari keberuntungan bagi diri sendiri di dunia ini.

Allah menjanjikan bagi mereka yang berbuat baik kepada Allah, maka Allah pun akan mengganjarnya dengan perbuatan baik pula kepada manusia yang beriman itu.”Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”(QS. Luqman :22)

Allah juga memberikan bagaimana menjaga antara dunia dan akhirta tersebut. Dalam firmanNya:” Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada mu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qasas : 77)

Banyak kebaikan yang dapat dilakukan untuk amal akhirat itu dan bisa juga meraih keberuntungan di dunia ini, kesemua itu berpijak pada janji Allah SWT. Sebut saja dalam menunaikan salat setelah salat wajib. Bangun pada pertiga malam, untuk bersujud merendahkan diri di hadapan Allah. Tahajjud untuk melengkapi harimu.

Sebab, seorang yang bersujud di malam hari melaksanakan tahajjud, maka Allah pun mengganjarnya dengan mengangkat derajat kita sebagai manusia ke tempat yang paling tinggi kemuliannya. “  Dan pada sebagian malam hari salat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat derajatmu ke tempat yang terpuji (mulia).”(QS. Al Isra’: 79).

Itu menunjukkan bagaimana Allah dengan kerendahan ‘Rahmat-Nya memberikan kemulian bagi manusia disaat manusia itu mengerjakan amal salih akhiratnya, yang dibarengi pemberian kemuliaan baginya di dunia ini, bahkan di tempat terpuji. MasyaAllah.

Tiadalah alasan lagi untuk meningglkan amalan akhirat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada kita, dengan alasan yang kita buat sendiri, malas dan ragu atas janji Allah kepada hamba-Nya. Semua ayat-ayat Allah telah jelas makna dan buktinya, bagaimana Allah memberikan dunia yang lebih mulia dan nikmat, setelah mengerjakan kewajiban hamba-hamba ini untuk mengejar akhirat sesuai perintah Allah SWT yang tertera dalam Al Quran da Sunnah Rasulullah SAW

Indahnya pesona dunia membuat banyak manusia terpedaya dan tertipu karenanya. Mereka mengerahkan segenap kemampuannya untuk meraihnya, tanpa sadar usia dan tenaga mereka habis untuk itu. Bila pun kemewahan dunia berhasil diraihnya, namun itu bukan sarana utama meraih kebahagiaan hakiki.

Menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir dari kehidupan, membuat kita sadar bahwa dunia ini tidak lebih dari sebuah ladang tempat menanam benih kebaikan untuk kita petik buahnya kelak di akhirat. Kesadaran ini membimbing kita untuk mempersembahkan kehidupan kita yang terbaik untuk Allah Taala; harta dan jiwa kita sekaligus. Karena kita sesungguhnya telah melakukan transaksi jual beli dengan Allah.

Dalam hadits di atas Rasulullah saw, member garansi bagi mereka yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, hidup dan matinya hanya untuk Allah semata disertai keikhlasan penuh kepada-Nya, maka dunia itu akan mendatanginya, Allah mudahkan berbagai urusannya dan Ia letakkan kebahagiaan dalam dirinya.

Inilah salah satu maksud firman Allah: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu..” (QS. Muhammad: 7)

Allâh subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya mencela sikap tamak kepada dunia. Allâh berfirman (artinya): “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al-Hadîd/57:20]

Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, maka Allâh   akan menjadikan urusan dunianya berantakan dan menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allâh juga menjadikan kefakiran di depan matanya dan hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang Allâh subhanahu wa ta’ala karuniakan kepadanya.

Dunia yang didapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allâh.

Cinta kepada dunia adalah pokok semua kejelekan, oleh karenanya tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman: Allâh berfirman (artinya): “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [Al-Isrâ’/17:18]

Mencintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh subhanahu wa ta’ala. Termasuk dosa yang paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh subhanahu wa ta’ala.

Allâh mengutuk, memurkai, dan membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-Nya. Karena itu, siapa saja yang mencintai apa yang dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allâh maka ia akan berhadapan dengan kutukan, murka, dan kebencian-Nya. Orang yang mencintai dunia akan menjadikan dunia sebagai tujuannya dan ia akan menjadikan amalan yang seharusnya menjadi sarana menuju Allâh dan negeri Akhirat berubah menjadi sarana meraih kepentingan dunia.(*)