Dukungan Ulama pada Pilpres 2019 : Sami’na  Wa Atho’na (Kami Dengar dan Kami Patuh)

 

MAKLUMATNEWS.com — Tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia, terutama para warga yang punya hak pilih, akan mencoblos dan memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024.

Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini, ada pasangan putra terbaik Indonesia saat ini, yang akan dicoblos rakyat pemilih yakni pasangan nomor 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo SubiantoSandiga S Uno.

Kedua pasangan yang akan memimpin bangsa Indonesia lima tahun ke depan ini, masing-masing mendapat dukungan para ulama dengan berbagai alibi dan  pertimbangan dari  masing-masing ulama itu sendiri. Ulama sebagai pewaris para nabi, tentulah menjadi pegangan kuat bagi pemilih umat islam, yang mayoritas untuk mematuhinya.

Oleh sebab itu, kalimat “Sami’na wa Atho’na”  yang artinya, “Kami Dengar Kami Patuh”, sangat relevan bagi umat islam untuk menentukan hak pilihnya dengan melihat peran dan dukungan ulama para Pilpres 2019 ini.

Selanjutnya, bilamana sudah terpilih pemimpin baru pada pesta demokrasi tersebut, tentu pula umat islam harus, “sami’na wa atho’na”.

Sebagaimana diketahui kalimat, “Sami’na Wa Atho’na” ini, tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]:285, dalam ayat tersebut menggambarkan orang-orang beriman yang bersama Rasulullah, dimana mereka telah beriman kepada Allah, Para Malaikat, Kitab-kitab-Nya dan kepada Para Rasul-Nya.

Bagaimana dukungan ulama dalam Pilpres tersebut,  mantan Ketua DPW PKS Sumsel H. Yuswar Hidayatullah, S. IP., M. AP  menegaskan suara umat Islam dalam Pilpres 17 April 2019 sangat menentukan arah bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lima tahun ke depan.

Oleh sebab itu, katanya, tidak heran jika masing-masing kubu pendukung capres dan cawapres menggunakan ulama sebagai penopang suara.

“ Itu kan jelas merupakan suatu kewajaran dalam kehidupan negara demokrasi, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Semua itu adalah bentuk ikhtiar atau usaha masing-masing pihak yang harus pula di hormati,” tutur mantan anggota DPRD Sumsel ini.

Hanya saja, kata Yuswar, memang tidak bisa dihindari tatkala paslon masing-masing mengklaim dirinya didukung para ulama. Baik calon petahana Joko Widodo dan KH. Mahruf Amin dan Prabowo Subianto- Sandiaga Salahuddin Uno.

“ Kalau kita lihat sih memang benar, keduanya merasa didukung para ulama. Jokowi merasa menggandeng KH Ma’ruf Amin yang berlatar ulama itulah faktanya. Namun tidak bisa disalahkan juga, ketika Prabowo mengklaim di dukung berdasarkan Ijtima Ulama. Itu pun faktanya,” urainya sembari memperjelas dari ini kan bisa disimpulkan, rakyat kita semua sudah cerdas kok.

Lebih lanjut mantan Wakil Ketua Forum Parlemen ini menilai meskipun demikian tentu harus dengan beberapa catatan penting yang harus diperhatikan. Mengingat pesta demokrasi tersebut hanya dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, Yuswar menghimbau sebagai warga negara yang baik harus menggunakan hak pilihnya.

“ Kita janganlah membenturkan urusan Pilpres ini dengan umat. Karena kepentingan diatasnya adalah jauh lebih penting. Lagi pun siapa yang bakal memimpin negeri ini kedepan sudah tercatat dalam takdirnya. Allah maha tahu yang terbaik untuk bangsa ini, pasrahkan kepada-Nya, namun kita tetap harus berusaha,” ungkapnya.

Lebih lanjut Yuswar menguraikan jika, para ulama adalah nahkoda di dalam perahu keselamatan, pemandu di pantai yang tenang, dan penerang di tengah gelap gulita. Allah SWT berfirman QS : As Sajdah:24;  “Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Dan mereka adalah orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat Kami”.

Mereka adalah hujjah Allah di atas muka bumi, mereka lebiih mengetahui ilmu yang dapat membuat manusia cinta kepada Allah dan perkara yang dapat memperbaiki urusan dunia dan akhirat seorang muslim dengan apa yang datang dari Allah berupa ilmu, dan dengan apa yang dapat menumbuhkan kecintaan mereka kepada Allah melalui pemikiran dan pemahaman

Sementara itu,  Ustadz KH. Ahmad Taufik Hasnuri  menuturkan bahwa umat Islam harus ingat kehidupan bernegara dalam hal ini politik tidak bisa dipisahkan dari agama, karena agama ikut mengatur kriteria dalam memilih seorang pemimpin. Tujuannya jelas agar pemimpin yang terpilih nanti mempunyai kepedulian terhadap agama.

Menyoal bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap hak suaranya dan mau dibawa kemana, Ustadz Taufik mengajak masyarakat kota pempek ini untuk melek politik, lebih peduli terhadap perkembangan politik, karena yang mengatur dalam pemerintahan itu orang-orang politik.

“ Tidak ada soal, beda pilihan itu wajar. Mau ke Jokowi silahkan mau ke Prabowo syukur. Yang jelas, umat Islam harus ambil bagian dalam kontestasi politik ini.

“ Ibarat kata pepatah berhati-hatilah sebelum membeli. Waspadah lah sebelum memilih,” pesan Ustadz Taufik.[]Jemmy Saputera dan Aspani Yasland