Warahan, Seni Sastra Tutur Milik OKU Selatan Yang Terlupakan

Terselip Pesan Dakwah Didalamnya

MAKLUMATNEWS.com, — ADA yang paling berkesan dalam hidup dan masa kecil Penulis ketika itu. Setiap sulit untuk tidur ibuku atau ayahku selalu mengawali tidur kami dengan “Warahan”. Alur ceritanya banyak ragam dan dinamika. Terkadang saya harus menangis sembari memeluk erat ibuku ketika Beliau ‘Warahan’ tentang ‘Siamang’. Ya siamang adalah sejenis lutung hitam yang suaranya menggelagar setiap pukul 09.00 di kampungku.

Cerita Siamang ini tragis dan menyedihkan bagiku. Betapa tidak, secara lengkap dan teratur ibuku menceritakan jika siamang adalah jelmaan seorang ibu yang menjadi monyet hitam akibat ulah anaknya yang mempunyai sifat pelit dan kikir. Betapa tidak, kecewa seorang ibu yang mendalam akibat tabiat anaknya yang kikir bin medit. Suatu hari, sang anak mempunyai buah Limus ( sejenis mangga) yang manis. Karena kepingin dan ingin mencicipinya sang ibu meminta bagian dari anaknya. Sang anak karena limus itu hasil perjuangan dan keringatnya tidak memberikan sedikitpun dengan sang ibu. Karena rasa kecewanya, si ibu pergi ke hutan untuk mencari limus yang sama. Tapi apa daya sibuah limus sudah habis. Iapun hanya menahan kecewa yang mendalam.

Betapa kecewanya ia, akhirnya Sang Ibu berdoa kepada Tuhan untuk menjadi seekor Siamang. Doanyapun di ijabah Tuhan sehingga iapun menjadi Siamang. Sang anak yang menunggu kepulangan ibunya tak kunjung datang. Ia sadar jika ibunya pergi ke hutan untuk mencari limus yang sama. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Kekecewaan ibunya berbuah petaka, atas izin Tuhan ibunya menjadi Siamang. Kekecewaan sang bunda sangat dalam. Anak yang selama ini dibesarkan dan disayang, tak bisa membalas untung. Tak ada guna tangis dan penyesalan jika semuanya sudah terjadi. Air matakupun menetes ku peluk erat ibuku sembari berjanji tidak akan melakukan hal yang sama pada ibuku.

Warahan ini, menjadi pijakan dan bekal yang sangat berharga bagiku, betapa jangan pernah menyakiti ibu dan mengecewakkanya. Banyak sudah bukti kesaktian doa ibu. Kisah Simalin Kundang di Sumatera Barat harus dijadikan iktibar betapa Tuhan sangat dekat dengan doa – doa ibu kita. Wajar jika Nabi Muhammad terus mewanti –wanti umatnya untuk menghargai dan menghormati ibu.

Berpijak dari cerita warahan ini, sudah sewajarnya jika seni tutur Warahan ini harus tetap dibumikan. Pesannya yang memiliki daya hifnotis harusnya jadi rujukan bagi para orangtua untuk menanamkan jiwa – jiwa sosial dalam diri anaknya sejak dini.

Beruntung pada 14 Nopember 2016, sastra lisan Warahan menjadi warisan Budaya Tak Benda yang diakui keberadaannya oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, berasal dari Kabupaten OKU Selatan.

Warahan merupakan sastra tutur yang hidup di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, yang dituturkan dalam bahasa berirama (prosa, liris) pada acara tertentu. Penutur warahan biasanya Ketua Adat atau orang yang dipilih oleh rapat adat.

Ada beberapa Suku atau Marga di OKU Selatan yang mempunyai budaya Warahan ini, di antaranya Marga Haji, Daya, Ranau dan Suku Kisam. Khusus Kisam warahan dikenal juga tahdut, sejenis sastra lisan yang berkembang di tengah adat masyarakat suku Kisam.

Tetapi sangat disayangkan, warahan dan tahdut ini sudah jarang dipentaskan di acara acara persedekahan atau acara resmi lainnya. Selain peminatnya sedikit, yang bisa membawakan warahan dan tahdut ini sudah tidak banyak lagi.
Untuk menjaga warisan budaya ini, idealnya sastra asli daerah ini segera didokumentasikan.

Karena itu, pada saat acara resmi tingkat kabupaten, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berusaha menampilkan sastra asli ini. Karena sastra warahan dan tahdut ini dapat berisikan kisah-kisah kepahlawanan, dan nasehat-nasehat. Bila disampaikan oleh ahlinya biasanya meriah dan mengundang tawa penonton.

Di Kisam, ada tokoh sastra lisan yang diberi julukan Tiga Serangkai. Karena mereka biasanya tampil selalu bertiga, yaitu Burnan, Jasri, dan Syahrul. Tapi sayang sekali, belum ditemukan anak-anak muda yang tertarik untuk belajar seni ini.
“Anak muda lebih suka orgen tunggal”, kata Burnan dalam satu kesempatan.

Padahal seni Warahan dan tahdut adalah seni asli OKU Selatan untuk menangkal pengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan adat istiadat kita.

Penulis : Sandrie Gawoh