Laporan Kecurangan Masuk Capai 60-an, Bawaslu Sumsel : Akan Banyak Yang Masuk Bui

MAKLUMATNEWS.com, PALEMBANG — Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) selama pelaksanaan Pemilu 2019 telah menerima banyak laporan terkait penyelenggaraan pemilu yang “nakal”. Kecurangan yang dilakukan penyelenggara Pemilu mulai dari tingkatan PPK dengan modus mengubah bahkan menghilangkan suara saat rekapitulasi.

“Di Sumsel ada sekitar 60-an laporan yang menyatakan PPK itu mengubah, menambah, mengurangi bahkan menghilangkan nilai sebuah rekapitulasi,” ungkap komisioner Bawaslu Sumsel, Junaidi kepada wartawan, Kamis (16/5).

Dikatakannya, pihaknya akan segera menyikapi laporan-laporan yang telah diterima mereka dan akan segera mengambil sikap.
“Dalam waktu dekat mungkin banyak yang jadi tersangka dan masuk bui. Bukan main-main, hari ini ramai sekali dari kabupaten kota ke Bawaslu menyampaikan laporan. Ini maling, ini hilang, ini merubah rekap dan lain-lain, sedih saya,” katanya.

Menurutnya, setiap hari ada saja warga yang mendatangi Bawaslu Sumsel untuk menyampaikan laporan kecurangan yang dilakukan oleh sejumlah oknum penyelenggata Pemilu. Mereka yang melapor adalah caleg-caleg yang kalah dari berbagai kabupaten/kota di Sumsel terutama dari kabupaten Empat Lawang yang jumlahnya belasan orang.

“Kemarin saja sudah 18 orang datang ke Bawaslu Sumsel untuk melapor dengan laporan suara hilang, dicurangi dan lain-lain. Jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.
Selain itu ada juga laporan dari Muratara dan Mura juga datang untuk melapor,” ujar Junaidi.

Dijelaskannya, dari sejumlah laporan yang sudah diterima itu, pihaknya sudah merapatkan 8 dugaan pelanggaran pidana. Laporan-laporan yang sudah dibahas Bawaslu Sumsel semuanya memenuhi unsur baik itu PPK maupum KPU, termasuk di dalamnya ada lurah dan kades.

“Saya dan Bawaslu kemarin termasuk ada jaksa dan polisi sudah menyidangkan itu pada tingkat pertama dan memenuhi unsur, itu pertama bahwa pemilu masih menyisahkan masalah,” jelasnya.

Junaidi menilai pelaksanaan Pemilu 2019 yang baru selesai dilaksanakan terlalu bebas dan menyisakan banyak hal. Pemilu yang dilaksanakan secara serentak untuk pertama kali ini layaknya sebuah pertempuran politik yang banyak memakan korban.

“Ini Pemilu seperti pertempuran yang berdarah-darah. Diawal tidak ada pembahasan tentang pileg tapi setelah rekap semua bicara soal pileg se-Sumsel, pilpresnya hilang. Padahal sebelum pelaksanaan Pilpres yang mengemuka, tapi sekarang terbalik jadinya,” ujarnya.

Reporter : Jon Morino