Taman Miniatur 99 Masjid Dunia Bakal Berdiri Megah di Bogor

 

MAKLUMATNEWS.com — Peradaban dalam lintas sejarah umat Islam menjadi salah satu tonggak kemajuan zaman. Masyarakat dunia tidak bisa memungkiri bahwa pisau bedah yang hingga saat ini digunakan oleh semua dokter dan rumah sakit di dunia merupakan penemuan Cendekiawan Muslim, Ibnu Sina.

Begitu juga dengan Ilmuwan Muslim lainnya misal Al-Jabar, penemu angka nol yang ilmunya dikembangkan menjadi berbagai macam algoritma dan perhitungan matematis lainnya. Namun, peninggalan tersebut seolah tidak dikenal karena perilaku orang-orang yang hobinya menghilangkan dan menghancurkan budaya. Belum lagi ketika orang-orang Islam dihadapkan pada konflik berkepanjangan.

Hal itu menjadi kegelisahan tersendiri bagi Hartono Limin, Ketua Umum Yayasan Amanah Kita untuk kembali membangun peradaban Islam berbasis budaya. Misi kebudayaan tersebut akan ia realisasikan dengan mendirikan taman miniatur 99 masjid dunia yang akan dibangun cukup megah di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hartono Limin yang dekat dengan banyak ulama dan habaib di Indonesia ini menegaskan bahwa misi kebudayannya tersebut tidak hanya akan menampilkan sisi religiusitas masjid, tetapi juga aspek kebudayaan yang melekat pada masjid-masjid yang selama ini mempunyai pengaruh penting dalam mewujudkan peradaban dan kemajuan secara umum di tengah masyarakat dunia.

“Taman miniatur 99 masjid dunia ini akan menjadi wahana wisata religi berbasis budaya. Masyarakat Indonesia dan dunia nanti bisa menikmati suasana, arsitektur, dan kebudayaan lainnya sehingga mereka bisa merasakan betapa luar biasanya Islam di Indonesia,” ujar Hartono Limin, Rabu, 15 Mei 2019  di Kantor Yayasan Amanah Kita Gandaria, Jakarta Selatan, sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari NU Online.

Walau pun tahapannya masih panjang, ia bersama beberapa orang timnya telah menyusun konsep yang matang, survei lahan di Bogor, komunikasi dengan sejumlah negara besar yang menjujung tinggi kebudayaan, termasuk merancang masterplan taman miniatur.

“Ini merupakan wahana wisata religi internasional yang dapat mengangkat martabat bangsa Indonesia,” tegas Hartono.

Sebab, imbuhnya, Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Di Republik ini juga hidup berbagai suku dan bangsa yang hidup dengan prinsip kebersamaan sehingga bisa mewujudkan harmoni global.

Ia meyakini ketika ada yang menilai bahwa umat Islam akan kembali maju, maka di Indonesialah Islam dengan segala budaya dan peradabannya bakal menjadi tempat strategis untuk membangun kembali kemajuan.

Hartono menjelaskan secara rinci bahwa taman miniatur telah melalui berbagai macam kajian dan studi banding. Ia bersama timnya sudah mengunjungi negara-negara seperti Iran, Irak, Turki, Tiongkok, dan Rusia. Sementara ini, sambutan negara-negara yang bakal ikut berkontribusi cukup baik.

Taman miniatur berfilosofi 99 Asmaul Husna ini akan dibangun di lahan seluas 260 hektar. Ia bukan berbentuk miniatur kecil yang hanya bisa dipandang, tetapi berbentuk bangunan sebesar ukuran musholla agar bisa dilihat, dimasuki, dan dipelajari arsitektur budaya yang ada di dalamnya.

Berbagai fasilitas umum pendukung wahana wisata religi 99 miniatur masjid dari 86 negara ini juga akan dibangun untuk mendukung kemajuan peradaban. Sejumlah fasilitas yang ada di dalamnya ialah masjid utama (grand mosque) berkapasitas 200.000 jamaah, lembaga penddikan seperti pesantren dan universitas Islam internasional, perpustakaan, hotel, parkir, dan berbagai fasilitas megah lainnya.

Hartono juga mengatakan bahwa nantinya di dalam taman tidak boleh dilalui lalu lalang mobil dan bus. Transportasi dari wahana satu ke wahana lainnya akan disediakan mobil listrik sehingga lingkungan tetap terjaga dengan baik.

“Wahana wisata religi ini juga untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dari aspek budaya,” tegasnya.

Di depan taman miniatur masjid nanti juga akan didukung oleh perangkat kebudayaan dari negara asal masjid tersebut. Mereka akan menampilkan peragaan tradisi dan budaya dari negara asal mereka termasuk menyajikan berbagai macam kuliner khas.

Hartono menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang merupakan negara paling majemuk di dunia bukan merupakan kebetulan. Melainkan sudah menjadi kehendak Allah. Islam yang juga terdapat berbagai macam tradisi dan budaya bisa belajar dari keharmonian bangsa Indonesia agar peradaban dan kebudayaan Islam berkembang.

Solusi Konflik Global

Senada dengan Hartono Limin, Ketua Harian Yayasan Amanah Kita Prof Achmad Mubarok menerangkan bahwa konflik global hampir tidak pernah ada solusinya, baik di bidang ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain. Sehingga harus ada cita-cita untuk membangun harmoni global, salah satunya melalui wisata religi berbasis budaya.

“Taman miniatur ini bermula dari mimpi, bukan dari ide maupun gagasan. Sehingga kita pandangan sebagai amanah yang harus diwujudkan. Wisata religi berbasis budaya ini dalam Al-Qur’an merupakan bentuk aktulisasi dari seorang yang beriman,” jelas Prof Mubarok dalam kesempatan yang sama.

Menurut Guru Besar Universitas Indonesia dan UIN Syarif Hidyatullah ini, harmoni global merupakan misi utama ketika Yayasan Amanah Kita didirikan. Lembaga ini mempunyai logo dengan salah satu kalimat yang ada di dalam Al-Qur’an yaitu ‘Walyatalaththaf’ yang merupakan simbol dalam mewujudkan harmoni global.

Prof Mubarok menegaskan bahwa wisata religi ini akan menjadi interaksi peradaban Islam dunia. Sehingga menjadi salah satu solusi konflik global dengan wahana wisata internasional berbasis budaya.

“Suasana orang berwisata itu kan nyaman. Harmoni global melalui wisata religi berbasis budaya bisa terwujud  manakala kenyamanan itu ada,” ungkapnya.

Saat ini, Yayasan Amanah Kita sudah membangun Kampung Sunda di kawasan taman tersebut. Di kawasan itu juga dimakamkan seorang ulama thariqah dunia kelahiran Amerika Serikat yang telah 17 tahun tinggal di Indonesia, Syekh Fattah, ayah dari musisi Mustafa vokalis grup musik religi, Debu. Selain itu, mantan Presiden RI BJ Habibie juga akan membangun laboratorium Iptek di kawasan tersebut. (*)

 

Editor : Aspani Yasland