Rekor MURI Kado 17 Agustus :   102 Anak Lapas Palembang Tari Kolosal “ Indonesia Bekerja”  

 

MAKLUMATNEWS.com – Sebanyak 102 anak binaan  Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas I Palembang bakal menggelar tari kolosal “Indonesia Berkerja” untuk memecahkan rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) sebagai kado dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2019 yang ke-74.

Berdasarkan pemantauan MAKLUMATNEWS.com, Rabu, 14 Agustus 2019, ratusan anak binaan lembaga pemasyarakat (Lapas) anak di Palembang ini, tengah latihan serius tari Kolosal Indonesia Berkejas tersebut agar tampil prima dalam perayaan kemerdekaan tersebut.

Kasubsi Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan LPKA Klas I Palembang, Fahruddin Jusep mengemukakan, kegiatan Tari Kolosal Indonesia Bekerja ini bertujuan untuk memecahklan rekor Muri sekaligus memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-74.

Dia mengungkapkan, tari kolosal ini akan dilakukan oleh seluruh warga binaan dengan total 102 anak dan para petugas dengan menggunakan pakaian dan atribut yang sudah ditentukan.

“Tari kolosal ini diiringi musik dengan gerakan yang sudah ditentukan, berdasarkan petunjuk baju warna merah dan bawahan warna gelap, ikat kepala merah putih,” katanya.

Tari Kolosal yang dipersembahkan anak-anak lapas Palembang untuk meriahkan hari kemerdekaan ke-74. Foto:Pitria

Tari Kolosal Indonesia Bekerja merupakan salah satu bentuk ekspresi warga binaan pemasyarakatan dan para petugas pemasyarakatan. Bahwa selama ini warga binaan menjalani pidana hilang kemerdekaan tetap belajar, bekerja dan berkarya di bawah bimbingan petugas pemasyarakatan.

“Kegiatan dibuat secara kolosal yang dilaksanakan secara serentak untuk memupuk rasa kesatuan dan persatuan. Diharapkan dapat memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-74 Republik Indonesia sekaligus mencetak rekor MURI,” katanya.

Selain itu juga, anak-anak binaan LPKA ini sebelumnya sudah menyelesaikan berbagai lomba dalam rangka memeriahkan kemerdekaan ini. Seperti lomba futsal, puisi, menghapal surat pendek, azan juga makan kerupuk.

“Lomba ini sudah selesai, anak-anak yang menang lomba kita beri hadiah agar mereka semangat dan bahagia seperti anak-anak lain di luar sana,” ujarnya.

Setiap harinya, 102 anak binaan ini selain sekolah di pagi hari, ada juga diberi penyuluhan agama setiap hari dari Kemenag, tausiah dan belajar mengaji.

“Kita berikan keterampilan, ada alat musik, membuat tanjak dari kain songket. Ada juga kita berikan keterampilan dasar-dasar komputer,” jelasnya.

Jusep mengatakan, setiap anak membutuhkan pendidikan yang layak termasuk mereka yang masuk di lapas. Sehingga selain disediakan sekolah formal, dalam berbagai kegiatan diikutsertakan.

“Pernah juga di 2017 anak-anak ini serentak se-Indonesia menari Poco-Poco, mereka senang dan antusias juga,” terangnya.

Dari total warga binaan, 59 anak yang bersekolah mulai dari SD, SMP dan SMA. “Karena kita sediakan juga sekolahnya disini, jadi jika sudah habis masa tahanan, anak itu boleh lanjut sekolah disini atau yang dari luar kota bisa juga pindah sekolah, karena disini statusnya sekolah negeri,” katanya. (*)

 

Reporter : Kamayel Ar-Razi

Editor      : Aspani Yasland