Masya Allah, Ibu dan Anak Bisa Wisuda Bareng dengan Predikat Cum Laude  

 

MAKLUMATNEWS.com — Memang takdir dan nasib manusia tiada yang tahu. Hanya Allah Swt, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak-lah yang mengatur seluruhnya. Atas iroodat-Nya-lah, siapa nyana seorang ibu dan anak gadisnya ditakdirkan sama-sama bareng wisuda sarjana. Masya Allah…sebuah peristiwa sakral yang jarang terjadi. Inilah yang dialami ibu Patricia Lestari Taslim dan anaka gadisnya Maria Clara Yubilea Sidharta. Bagaimana kisah keduanya bisa diwisuda bareng, berikut sebuah features yang dikutip MAKLUMATNEWS.com dari JawaPos.com.

Sembilan belas tahun umumnya merupakan usia mahasiswa saat awal menginjakkan kaki di kampus. Namun, tidak demikian Maria Clara Yubilea Sidharta. Gadis yang biasa disapa Lala itu justru sudah menyabet gelar sarjana. Mengantongi IPK 3,76, Lala lulus dari Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan predikat cum laude.

Dalam wisuda di rektorat UNY Sabtu lalu (31/8), gadis yang mampu berbahasa Jerman, Inggris, Prancis, dan Jepang itu dinobatkan sebagai wisudawan termuda. Lala diketahui sebagai anak gifted. Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Saat ini IQ-nya 145. Tantangannya, Lala mengalami kesulitan berkomunikasi.

”Mama sering bilang, vonis (sebagai gifted) dan tes IQ itulah awal musibah (karena semakin tinggi IQ umumnya menambah masalah komunikasi). Tapi, ternyata dari penemuan dan bimbingan mama, musibah ini punya banyak potensi,” ungkap Lala dalam taklimat media UNY.

Sejak SD Lala berbeda dengan teman sebayanya. Dia bagaikan punya dunia sendiri. Sulit diatur guru. Predikat nakal membuatnya harus berpindah-pindah sekolah. Sampai lulus SD, Lala sudah lima kali pindah sekolah.

Sang ibu, Patricia Lestari Taslim, mengaku belum paham bahwa apa yang dihadapi putri semata wayangnya tersebut adalah kebutuhan khusus. ”Yang saya tahu, Lala troublemaker. Saya memaksakan dia sekolah umum dan sekolah negeri,” katanya.

Patricia yang merupakan mantan guru dan sang suami, Rahardjo Sidharta, yang berprofesi dosen teknobiologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta merasa sudah benar meng-handle Lala dengan cara seperti itu.

Sampai menjelang unas kelulusan SD, Lala mogok sekolah. Dia merasa tidak nyaman dengan kegiatan sekolah dalam mempersiapkan ujian. Namun, orang tua berhasil memaksa dia menuntaskan unas. Tanpa persiapan ujian sama sekali, Lala ternyata mendapat nilai yang sangat memuaskan. ”Saat itulah saya mulai memahami dia berbeda,” ungkap Patricia.

Lala diperiksakan ke dokter. Pada 2013, hasil tes menunjukkan IQ-nya 131. Setiap dua tahun Lala menjalani tes. Dan setiap itu pula IQ-nya diketahui naik. Hingga terakhir pada 2017, IQ Lala 145.

Sejak itu, Lala homeschooling. Dia juga aktif di berbagai komunitas seperti Komunitas Sesama Homeschoolers, komunitas menari, serta komunitas musik. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi tempatnya menghabiskan waktu bersama kawan-kawan.

”Saya juga suka menulis di blog,” tutur dara kelahiran Sleman, 13 Mei 2000, itu.

Lala berhasil menuntaskan ujian kejar paket B (setara SMP) pada usia 13 tahun dan kejar paket C (setara SMA) dua tahun berikutnya dengan nilai bagus. Lala juga giat belajar bahasa asing. Selesai kejar paket, dia menyampaikan keinginan kuliah. Lala ingin bergabung dengan teman-teman yang tidak berkebutuhan khusus.

”Dari hasil tes IQ, disarankan mengambil jurusan bahasa. Akhirnya, diambillah bahasa yang belum dia kuasai, yaitu pendidikan bahasa Jerman,” jelas Patricia.

Selama kuliah, dosen dan teman-teman sangat suportif membantu Lala. Bahkan, Lala kerap dijadikan rebutan apabila ada tugas beregu maupun pembentukan kelompok. ”Ada dua alasan sebenarnya. Pertama, Lala masih imut, anak usia 15 tahun. Kedua, Lala cepat belajarnya. Setahun belajar Jerman, dia sudah fasih,” cerita Patricia.

Sejak hari pertama Lala kuliah, Patricia mengantar jemputnya. Setahun berjalan, Patricia mulai bosan jika hanya datang ke UNY untuk antar jemput. Di sisi lain, kemampuan Lala terus berkembang. Patricia merasa bekalnya dalam mendampingi Lala kurang.

”Seizin suami, saya kuliah lagi agar punya ilmu yang bermanfaat dalam mendidik Lala maupun anak-anak gifted lainnya,” katanya.

Genap setahun Lala kuliah, Patricia diterima di program S-2 pendidikan luar biasa kampus yang sama dengan Lala. Masuk sebagai angkatan 2016, Patricia merupakan satu-satunya yang tidak berlatar belakang pendidikan luar biasa di jenjang S-1. ”Saya guru seni musik,” ujar Patricia.

Pada 13 Mei, tesis Patricia disetujui dosen pembimbing. Hari itu tepat Lala berulang tahun ke-19. Kelulusan Patricia menjadi hadiah bagi sang putri. Patricia dijadwalkan mengikuti wisuda pada Juni.

Pada waktu yang sama, Lala sedang menuntaskan bab terakhir skripsi. Patricia pun meminta izin kepada rektor dan direktur Pascasarjana UNY supaya dirinya bisa ikut wisuda Agustus saja. ”Saya punya keyakinan bahwa tidak lama lagi Lala wisuda. Toh, tinggal bab akhir,” jelasnya.

Perkiraannya tak meleset. Pada 31 Juli, tepat ulang tahun ke-48 Patricia, Lala menuntaskan yudisium. Mereka berdua berhasil mengikuti wisuda bersama. Sama dengan putrinya, Patricia juga lulus dengan predikat cum laude. Skripsi dan tesis bukan akhir jejak akademis mereka. Saat ini Lala berencana melamar beasiswa program pendidikan khusus maupun psikologi di AS.

Selain itu, akhir bulan nanti, ibu-anak tersebut bersama komunitas orang tua anak gifted di Jogjakarta merilis buku bunga rampai bertajuk Menyongsong Pagi. Buku itu mengisahkan pengalaman mengasuh dan menjalani kehidupan sebagai anak gifted.

Lala menjadi satu-satunya anak gifted yang menulis buku tersebut sekaligus sebagai penulis termuda. Patricia dan Lala berharap pengalaman mereka bisa berguna bagi orang lain. ”Tidak banyak yang seberuntung kami mengenal ilmu pendidikan luar biasa di UNY. Kami ingin ilmu ini membumi,” ungkap Patricia.(*)

Editor : Aspani Yasland