EDISI OKTOBER 2019, Polemik The Santri  

 

MAKLUMATNEWS.com — Di Hari Santri 22 Oktober ini, ada Film The Santri yang akan mulai shooting. Namun demikian trailer atau cuplikan film besutan sineas muda Livi Zheng bekerjasama dengan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) sudah beredar, bisa ditonton dan bikin heboh lantaran timbul polemik, kontroversial alias pro kontra di tengah umat islam, terutama di jabat dunia maya.

Bahkan, film yang dibintangi anak da’I kondang Ustadz Yusuf Mansur, Wirda Mansur ini, mendapat respon keras Hanif Alathas, yang mengatasnamakan diri sebagai Ketua Forum Santri Indonesia (FSI), menantu Habib Rizieq Shihab, Imam Besar Front Pembela Islam ini menegaskan, boikot terhadap film The Santri. Alasannya, film tersebut tidak mencerminkan budaya santri di Indonesia.

Menurut Hanif, santri yang sebenarnya adalah orang yang berpegang teguh dengan tali Allah yang kuat, mengikuti sunnah Rasul, dan teguh pendirian setiap saat. Dan The Santri dianggap tidak mencerminkan itu. Front Pembela Islam (FPI) bahkan menganggap The Santri adalah film liberal. Soalnya di sana ada adegan pacaran, membiarkan laki-laki dan perempuan bersama, serta membawa tumpeng ke gereja. Film itu juga melanggar syariat, vonis mereka.

Senada dengan itu juga dilontarkan oleh Ustadz Maher At-Thuwailibi dalam postingannya. Tapi kemudian dibalas oleh Ustadz Yusuf Mansur dengan pernyataan meminta doa.  .

Film ini diperankan oleh Guz Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansur dan Emil Dardak ini, menurut  Ketua Umum PBNU K.H.Said Aqil Siroj, sebagai media dakwah dalam konteks pendidikan, budaya dan akhlak. Film ini, lanjutnya, sekaligus sarana memperkuat, memperkokoh Islam di Nusantara.

“Ciri khas Islam Nusantara, Islam yang harmonis dengan budaya, kecuali budaya yang bertentangan dengan syariat,” tegasnya sembari menambahkan, “melalui film ini kita dakwahkan Islam yang santun, menjadikan Indonesia kiblat peradaban bukan kiblat solat yaa”.

Sementara itu Sutradara Livi Zheng menyatakan proses syuting film The Santri akan berlangsung di Indonesia dan Amerika Serikat mulai Oktober ini. Diprediksi, The Santri bakal tayang pada April 2020.

Wakil Sekretaris Jenderal   PBNU  sekaligus produser eksekutif The Santri Imam Pituduh lantas merespons penolakan ini dengan meminta FPI menontonnya terlebih dulu.

“Tunggu dan tonton The Santri Oktober nanti. Baru dilihat apakah ada pertentangan [dengan Islam] atau tidak,” kata Imam.

Kritik itu, katanya,  tak tepat disampaikan sekarang karena trailer itu tidak menggambarkan isi film secara utuh. Imam bahkan mengajak kelompok yang tak sependapat dengan substansi film berdiskusi.

“Kalau penasaran, datang. Bedah scene plot dan diskusikan bareng-bareng hukum agamanya seperti apa.” Isi film sebenarnya menggambarkan tiga cinta, kata Imam: cinta kepada sesama muslim, cinta kepada sesama warga negara, dan cinta kepada sesama manusia tanpa melihat identitas.

Adegan santriwati mengantar tumpeng ke gereja, yang jadi sasaran kritik FPI, terinspirasi dari budaya saling kirim makanan, kata Imam.

Dalam masyarakat Jawa, budaya yang disebut “ater-ater” itu punya makna dalam: kepedulian antarsesama tanpa memandang latar belakang identitas. “Liberal yang berlebihan gimana? Rasul mencontohkan, setiap hari menyuapi pengemis buta beragama Yahudi. Bukan sekadar dibawakan tumpeng ke gereja. Rasul menyuapi. Itu yang harus dicontoh,” tutur dia.

Sementara itu, Kepala Madrasah Ponpes Al Hikmah Palembang, Ustadz Rahmad Irwani, SH mengajak semua pihak berpikir dengan kepala dingin dengan tetap menjaga kemurnian ajaran syariat islam yang salah satunya melihat dari kehidupan pesantren.

“Film ini kan baru menayangkan trailernya dan belum melihat film ini seutuhnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, ada baiknya sebelum film tersebut ditayangkan seutuhnya, marilah kita meminta pendapat kepada para ulama yang netral saja dulu artinya bukan dari ormas tertentu.

“Pada akhirnya nanti kita mendapatkan film yang jelas dalam upaya memberikan pelajaran bagi masyarakat melihat bagaimana kehidupan santri di pesantren,” ujar Ustadz Rahmat Arwani.

“Karena ini film memakai label santri jadi melibatkan seluruh pesantren yang ada di Indonesia. Jikalau film tersebut tidak mencerminkan kehidupan pesantren, maka film tersebut tidak layak diberi judul The Santri, karena santri itu menonjolkan kehidupan pesantren,” katanya saat ditemui As SAJIDIN Group, 23 September 2019.

Sementara itu, Santri dari Ponpes Al Amalul Khair, Sri Ariani mengatakan film tersebut mengandung dua sisi positif dan negatifnya melihat dari trailers tersebut.

“Sisi negatifnya dilihat dari trailernya memalukan santri ponpes yang memang benar meraih ridho dengan menunjukkan film berduaan dengan yang bukan makhram di hutan, berjalan sampingan, sedangkan positif anak santri dikirim ke negara Amerika untuk mencari ilmu dan membanggakan anak santri,” kata Sri Ariani.

Sedangkan menurut Mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang, Melati Putri Arsika mengatakan saat dengar kata The Santri, terlitas dalam benak tentang kehidupan santri menuntut ilmu. Tetapi setelah melihat trailler filmnya ada 2 hal yang tidak mencerminkan kehidupan santri.

“Pada trailers tersebut, Pertama itu mengenai pergaulan anak santri ,contoh pada adegan tidak adanya pembatas antar santriwan dan santriwati ketika berjalan beriringan, pada saat peran perempuan yang duduk di kuda berjalan berdua dengan laki-laki tanpa ditemani siapapun. emang benar saat syuting ditemani para crew, tetapi ketika ditonton hanya mereka berdua berjalan menyusuri hutan, dan membuat interpretasi yang berbeda dalam menafsirkan makna dari adegan tersebut,” papar Melati Putri.

Kemudian, mengenai memasuki rumah ibadah agama lain, untuk hal ini ia sepakat yang disampaikan Ustadz Abdul Somad mengenai penjelasan tersebut.

“Beliau berkata jika memasuki rumah ibadah yang terdapat berhalanya dalam mazhab imam syafi’i itu diharamkan. Jika mengenai ketentuan syariat pastinya kita harus mematuhi dan pada pembuat film tersebut lebih baik orang yang memahami dunia santri. Disini saya tidak tahu apakah sutradara Livi Zheng memenuhi hal tersebut,” pungkasnya.[]Tri Jumartini/Berbagai Sumber

 

 

 

e