Menakar Rendahnya Minat Baca Generasi Milenial

312

MAKLUMATNEWS.com, — SEMAKIN menjamurnya teknologi dengan fitur-fitur canggih membuat para pemuda malas unutk membaca buku. Pada zaman sekarang sulit sekali menemukan generasi milenial yang gemar membaca, generasi milenial sekarang lebih fokus bermain game, jalan-jalan, bermain gadget,selfi-selfi dan update sosial media. memang gadget lebih praktis, lebih ringan, dan juga lebih gampang dibawa kemana-mana tidak masalah memiliki gedget asalkan digunakan dengan baik dan benar digunakan dengan hal-hal bermanfaat seperti untuk belajar. di zaman sekarang yang semakin maju dan teknologi yang semakin canggih.

Minat baca semakin lama semakin berkurang sekarang lebih banyak anak-anak maupun orangtua yang menggunakan gadget dari pada menggunakan buku, lebih banyak yang membaca tulisan di gedget dari pada tulisan dibuku. akibat dari kurangnya minat baca oleh generasi milenial ini mengakibatkan banyak perpustakaan-perpustakaan di berbagai daerah menjadi sepi bahkan buku-buku di perpustakaan tidak terbaca dan menjadi tumpukan debu.

Generasi milenial saat ini tidak memahami bahwa banyak manfaat dari membaca, padahal membaca buku kunci utama seseorang untuk memahami suatu hal secara jelas. itulamengapa buku dikatakan jendela dunia, maka dari situlah seharusnya generasi milenial meningkatkan minat baca agar memiliki wawasan yang luas serta mengetahui perkembangan yang sedang terjadi saat ini dengan cara membaca buku, dorongan dari berbagai pihak umtuk menigkatkan minat baca sangat dibutuhkan, terutama dari pihak keluarga, Instansi pemerintah atau non pemerintah, pengamat pendidik serta elemen masyarakat bersedia duduk bersama untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha secara maksimal demi mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat.

Membaca adalah proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan menggunakan bahasa tulis. Membaca sangat penting bagi semua orang, membaca juga memiliki banyak sekali manfaat, dengan membaca kita dapat memperoleh informasi seta pengetahuan, semakin banyak membaca maka semakin banyak juga pengetahuan yang didapat.

Apa penyebab rendahnya minat baca generasi milenial? Pada era milenial ini banyak sekali generasi muda yang malas membaca hal itu terbukti karena seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi maka generasi milenial lebih memilih bermain game dan bermain sosial media selain itu faktor lingkungan juga menjadi hal penyebab rendahnya minat baca generasi milenial.

Pada zaman sekarang sulit sekali menemukan generasi milenial yang gemar membaca generasi milenial zaman sekarang lebih fokus bermain game, jalan-jalan, bermain hp, berfoto-foto dan update sosial media. Generasi milenial saat ini tidak memahami bahwa membaca lebih penting untuk kedepannya dari pada hanya bermain game, jalan-jalan, bermain hp, berfoto-foto bahkan update sosial media, karena dengan membaca banyak sekali ilmu-ilmu yang bisa di dapat karena buku adalah jendela dunia.

Akibat dari kurangnya minat baca oleh generasi milenial ini mengakibatkan banyak perpustakaan-perpustakaan di berbagai daerah menjadi sepi bahkan buku-buku di perpustakaan tidak terbaca dan menjadi tumpukan debu, sangatlah di sayangkan padahal buku-buku di perpustakaan itu memiliki banyak sekali manfaat dan sumber pengetahuan bagi pembaca.

Adapun manfaat membaca itu antara lain :

1. Mendapatkan pengetahuan dan wawasan
2. Dapat mencerdaskan
3. Dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi
4. Dapat memperluas pemikiran
5. Dapat meningkatkan hubungan sosial

Manfaat membaca sangat banyak sekali salah satunya lima manfaat diatas, maka dari sudah seharusnya generasi milenial meningkatkan minat baca agar memiliki wawasan yang luas serta mengetahui perkembangan yang sedang terjadi saat ini dengan cara membaca buku. Faktor dorongan untuk generasi milenial agar meningkatkan minat membaca sangat dibutuhkan untuk saat ini, agar generasi milenial menyadari bahwa membaca itu sangat penting dan bisa membuat cerdas serta membuka wawasan lebih luas, oleh karenanya mari tingkatkan minat baca kita semua.

Penulis : Marisa (Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Prodi Ilmu Perpustakaan)