Tsai Ing-wen Terpilih Kembali Jadi Presiden Taiwan

 

MAKLUMATNEWS.comPresiden Taiwan Tsai Ing-wen kembali memenangkan pemilu untuk jabatan periode kedua. Tsai meraih kemenangan besar usai warga Taiwan memberikan suara mereka, Sabtu, 11 Januari 2020.

Politikus berusia 63 tahun itu mengumumkan kemenangannya di hadapan ribuan pendukung yang gembira bersorak dan melambaikan bendera di luar markas besar partainya.

Penghitungan suara memang masih berjalan, tetapi Presiden Tsai menunjukkan keunggulan yang tidak tergoyahkan.

“Taiwan menunjukkan kepada dunia betapa kami menghargai cara hidup kami yang bebas dan demokratis dan betapa kami sangat menghargai bangsa kami,” kata Tsai seperti dikutip AFP, Sabtu, 11 Januari 2020 sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari  MediaIndonesia.com.

Saingan utamanya, Han Kuo-yu dari partai Kuomintang (KMT) telah mengakui kekalahan sesaat sebelumnya. Han dikenal sebagai politikus yang pro terhadap Tiongkok.

Hasil resmi menunjukkan suara Tsai naik hingga 57% atau lebih dari 8 juta suara. Sedangkan Han tertinggal di belakang dengan 38%.

 

Komisi Pemilihan Umum Taiwan masih menghitung suara ketika Tsai menyatakan, tetapi Han tahu dia tidak bisa menutup kesenjangan dari petahanan.

Hasilnya adalah pukulan besar bagi Beijing, yang tidak merahasiakan keinginan untuk melihat Tsai turun dari kekuasaan dan KMT menggantikannya.

Selama empat tahun terakhir ini, meningkatkan tekanan ekonomi dan diplomatik di pulau yang diperintah sendiri itu, Tiongkok berharap pulau itu akan mendorong pemilih untuk mendukung oposisi Tsai.

Tapi taktik senjata yang kuat menjadi bumerang dan pemilih berbondong-bondong mendukung Partai Progresif Demokratik (DPP). Ini didorong oleh respons garis keras Tiongkok terhadap rotes prodemokrasi yang besar dan keras di Hong Kong

Tsai menyatakan dirinya sebagai pembela nilai-nilai demokrasi liberal terhadap bayangan otoriter yang semakin meningkat yang dilemparkan oleh Tiongkok di bawah Presiden Xi Jinping.

Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berikrar merebut kembali pulau itu suatu hari, jika perlu dengan kekerasan.

Kampanyenya sering mengundang protes Hong Kong sebagai peringatan tentang apa yang akan terjadi jika Tiongkok suatu hari mengambil kendali Taiwan.

Selama pidato kemenangannya pada Sabtu (11/1) malam, Tsai mengatakan dirinya berkomitmen berdialog dengan para pemimpin Tiongkok dan menginginkan perdamaian.

Tetapi, dia meminta Beijing menghentikan pedang yang berderak menuju Taiwan dan menghormati gagasan bahwa hanya 23 juta penduduk pulau itu yang dapat menentukan masa depan mereka.

“Saya juga berharap pihak berwenang Beijing memahami bahwa Taiwan yang demokratis dan pemerintah kita yang terpilih secara demokratis tidak akan menyerah pada ancaman dan intimidasi,” tegasnya.

Tsai dibenci Beijing karena dia menolak mengakui gagasan bahwa Taiwan adalah bagian dari Politik Satu Tiongkok.

Tetapi Tiongkok juga merupakan mitra dagang terbesar Taiwan. Akibatnya Taiwan sangat tergantung dalam urusan ekonomi.

Sedangkan Han, wali kota 62 tahun dari selatan Kota Kaohsiung, menyukai hubungan yang lebih hangat dengan Tiongkok.

Menurutnya, itu akan meningkatkan kekayaan Taiwan dan menuduh pemerintah saat ini memusuhi Beijing.

Tetapi kampanyenya berjuang untuk mendapatkan momentum atau melarikan diri dari persepsi bahwa ia terlalu nyaman dengan tetangga raksasa Taiwan itu.

“Warga negara Republik Tiongkok telah membuat keputusan dan sebagai kandidat saya menaati hasil pemilu,” katanya dalam pidato konsesi, menggunakan nama resmi Taiwan. (*)

Editor : Aspani Yasland