EDISI TERBARU JANUARI 2020 : Musibah di Awal Tahun, Ujian atau Azab?

AWAL TAHUN 2020 kali ini menjadi catatan tersendiri manakala berbagai musibah silih berganti terjadi di negeri ini. Negeri yang konon disebut sebagai Gemah ripah lohjinawi toto titi tentrem kerto raharjo ini, terus dikejutkan musibah yang terjadi.

Mulai dari banjir, harga sembako naik, ancaman harimau, kecelakaan lantas, belum lagi musibah pribadi seperti sakit yang berkepanjangan. Belum lagi, masih segar diingatan kita beberapa nyawa manusia hilang ditangan harimau di Pagaralam.

Lantas, bagi seorang mukmin musibah itu adalah ujian hidup dari Allah SWT, inilah ujian kualitas ketauhidan kita kepada Allah SWT, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana ajaran Islam menghadapi musibah tersebut, agar nilai-nilai ketauhidan itu tidak luntur atau hilang? Bahkan ada yang mengatakan justru Musibah itu Indah, bagaimana ini bisa?

Salah satu ulama Kota Palembang  KH Nawawi Dencik Al Hafidz mengatakan musibah yang menerpa bangsa ini silih berganti di berbagai daerah seharusnya menjadi momen introspeksi diri.

Lewat musibah ini apakah seorang manusia melakukan kontemplasi, muhasabah, meningkatkan ketaatan atau malah saling menyalahkan. Maka sesungguhnya semua musibah harus dikembalikan kepada Allah Subahanahu wataalah

“Sebagaimana dalam QS Ar Rum ayat 41 yang artinya telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar,” jelas  Nawawi yang juga Imam Besar Masjid Agung Palembang ini.

Lalu apakah semua musibah yang terjadi dimuka bumi adalah ujian bagi semua manusia, termasuk berbagai permasalahan hidup? Maka jawabnya adalah kembali ke pribadi masing-masing. Tentu semua mukmin lah yang tahu dosa atau pun pahala apa yang telah dilakukan sehingga terjadi berbagai bencana dan musibah.

“Sehingga ujian atau azab, masing-masing kita lah yang tahu. Boleh jadi ujian untuk meningkatkan derajat kita manusia dihadapan Allah, karena tanda Allah cinta terhadap hambanya maka Allah uji, atau boleh jadi sebaliknya,”urainya.

Seperti misalnya kejadian musibah di Sumsel, munculnya harimau yang kemudian merenggut beberapa korban nyawa manusia. Peristiwa ini seharusnya jadi ajang introspeksi diri.

“Bisa jadi manusia yang telah menggangu habitatnya, menghabiskan makanannya di hutan, oleh karena sifat serakah manusia, nah inilah juga menjadi introspeksi,” kata KH. Nawawi Dencik.

Introspeksi ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat dan pribadi masing-masing dengan berbagai kesalahan dimasa lalu tapi juga pemerintah yang memiliki kekuasaan. Sudahkan menjalankan amanah dengan baik?

“Seperti misalnya dalam QS Al Anfal itu, Allah tidak akan mengazab umat Nabi Muhammad SAW kecuali mereka selalu beristighfar dan mohon ampun kepada Allah SWT,”jelasnya.

Artinya, semua musibah yang terjadi sebaiknya seorang mukmin harus terus beristighfar dengan berbagai dosa yang telah dilakukan.

Begitu juga dengan pemerintah, sudahkah menjalankan kekuasaannya dengan baik. “Boleh jadi banyak fakir miskin yang harus menjadi kewajiban pemerintah, ada yang pagi makan, sore tidak tahu harus bagaimana. Nah inilah seharusnya jadi momen perbaikan semuanya,” papar KH Nawawi Dencik Al Hafidz.

Sementara itu, tokoh ulama di Palembang yang juga merupakan Ketua Yayasan Masjid Agung Palembang, H. Syarnubi mengatakan, banyak orang yang kemudian berputus asa setelah dirinya ditimpa musibah, namun tidak jarang juga yang menjadikan musibah sebagai bahan introspeksi diri.

“Bahkan, ada yang dari mereka menghadapi musibah dengan keyakinan dan tekad yang kuat untuk merubah diri menjadi individu yang tegar dan kokoh,” katanya.

Sebagai orang beriman, mestinya kita yakin dan percaya akan setiap kejadian mengandung hikmah yang berharga. Musibah yang terjadi di muka bumi ini boleh jadi merupakan azab Allah Subhanahu Wata’ala terhadap hamba-hamba-Nya yang ingkar.

“Tidak menutup kemungkinan juga musibah tersebut adalah bagian dari kecintaan Allah yang ingin menguji hamba-Nya,” katanya.

Seperti dalam firman Allah QS. At-Thagabun : 11, yang artinya “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Dari ayat Allah tersebut, siapa pun yang ditimpa musibah harus meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah. Maka bersabar dan mengharap petunjuk Allah agar mampu menjalani dan meraih keberkahan dari musibah yang dijalaninya. Selain itu, katanya, berserah diri kepada Allah semata-mata mengharap Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

“Sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah, maka bersabarlah, mohon ampun dan pertolonganlah kepada Allah,” katanya.(*)

Editor : Aspani Yasaland