Bupati Muaraenim Non Aktif H. Ahmad Yani Minta Kado Ultah Sepatu Seharga Rp 12 Juta

 

MAKLUMATNEWS.comBupati Muaraenim non aktif H.Ahmad Yani, terdakwa korupsi fee 16 paket jalan, pernah meminta hadiah kado ulang tahun (Ultah) sepatu seharga Rp 12 Juta kepada saksi penyuap Robi Okta Fahlefi yang kini sudah dihukum 3 tahun penjara.

Permintaan kado ulang tahun H.Ahmad Yani tersebut terungkap ketika saksi  Robi bersaksi untuk terdakwa Bupati Muara Enim non aktif H.Ahmad Yani dalam sidang lanjutan di pengadilan Tipikor PN Kelas 1A Palembang, Selasa, 18 Februari 2020.

Saksi Robi mengungkapkan disaat Bupati Ahmad Yani berulang tahun dirinya juga memberikan kado berupa sepatu yang harganya mencapai sekitar Rp 10 juta hingga Rp 12 juta.

“Saya memberikan sepatu itu berawal dari telpon A Elfin MZ Muchtar yang mengatakan jika Pak Ahmad Yani sedang ulang tahun dan meminta kado. Untuk itulah saat itu saya memberikan sepatu tersebut. Selain itu, Elfin juga pernah meminta uang Rp 1 miliar kepada saya, yang kata Elfin uang tersebut untuk membeli sebidang tanah di Muara Enim buat Bupati Ahmad Yani,” ujarnya.

Lebih jauh Robi menerangkan, jika semua pemberian uang, mobil hingga sepatu tersebut merupakan bagian dari komitmen fee atas 16 paket proyek pekerjaan jalan terkait dana aspirasi DPRD Muara Enim di Dinas PUPR Muara Enim yang didapatkannya.

Dikatakan Robi, jika dalam dugaan kasus ini selain dirinya memberikan uang fee kepada Bupati Muara Enim Ahmad Yani melalui terdakwa A Elfin MZ Muchtar (berkas perkara terpisah) dengan total Rp 12,5 miliar dari pagu anggaran 16 paket proyek senilai Rp 129 miliar, dirinya juga memberikan fee kepada Ketua DPRD Muara Enim Aries HB dengan jumlah Rp 3 miliar.

“Saya memberikan uang itu karena Ketua DPRD Pak Aries HB selalu menelpon meminta jatah bagian fee proyek kepada saya. Kemudian saya menghubungi A Elfin MZ Muchtar dan menyampaikan permintaan Ketua DPRD tersebut. Lalu Elfin menelpon Pak bupati, setelah itu Elfin kembali menelpon saya dan mengatakan jika kata bupati berikan saja permintaan uang fee yang diminta Pak Aries HB,” ungkap Robi dalam persidangan sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari KoranSN.com.

Masih dikatakan Robi, dari itulah lantas dirinya menyerahkan uang kepada Ketua DPRD Muara Enim yang pemberian uangnya dilakukan secara bertahap.

“Awalnya saya menyerahkan uang Rp 2 miliar kepada Pak Aries HB, tak lama kemudian saya pun kembali menyerahkan uang Rp 1 miliar. Jadi totalnya ada Rp 3 miliar, semua uang ini saya yang langsung menyerahkannya kepada Ketua DPRD Muara Enim,” terangnya.

Lebih jauh dikatakannya, selain itu dirinya juga memberikan uang Rp 3 miliar untuk Wakil Bupati Muara Enim.

“Kalau uang untuk Wakil Bupati Muara Enim Pak Juarsa, awalnya A Elfin MZ Muchtar menelpon dan menyampaikan pesan dari Pak Ahmad Yani jika Pak Wakil Bupati juga meminta uang fee. Dari itulah saat itu saya juga memberikan uang tersebut kepada Wakil Bupati Muara Enim,” katanya.

Dijelaskannya, selain pemberian uang-uang tersebut dalam perkara ini dirinya juga memberikan satu unit mobil jenis minibus dan satu unit mobil pick up kepada terdakwa Ahmad Yani.

“Mobil tersebut saya berikan atas pemintaan Bupati Ahmad Yani. Namun dari kedua mobil ini, kalau untuk mobil jenis minibus awalnya Pak Bupati menyampaikan jika dia meminta dicarikan mobil untuk tamu yang datang di Muara Enim, sehingga saya membelikan mobil itu. Kemudian untuk surat-menyurat kendaraan serta BPKB saya serahkan kepada A Elfin MZ Muchtar,” jelasnya.

“Saya diberikan 16 paket proyek ini bermula saat A Elfin MZ Muchtar menyampaikan jika kalau saya mau mendapatkan proyek maka harus membayar fee dimuka. Setelah itu saya diajak Elfin bertemu Bupati Ahmad Yani di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Pak Bupati menyampaikan tentang paket pekerjaan, dan ketika itulah bupati mengatakan kepada saya dengan kata-kata ‘Silahkan saja asalkan kerja bagus, untuk teknis satu pintu melalui A Elfin MZ Muchtar,” paparnya.

Diungkapkan Robi, tak lama dari pertemuan dengan terdakwa Ahmad Yani di Jakarta tersebut lalu dirinya diarahkan oleh A Elfin MZ Muchtar menemui Ketua Pokja Lelang, Ilham Sudiono. Sehingga akhirnya dirinya diberikan bocoran terkait persayaratan lelang proyek.

“Karena mendapatkan bocoran persayaratan makanya ketika mengikuti lelang saya memenangkan 16 proyek pekerjaan tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, jika sebelum terjadinya Operasi Tangkap Tangan (OTT) dirinya sudah memberikan semua uang fee dari 16 proyek pekerjaan yang didapatkan kepada Ahmad Yani melalui A Elfin MZ Muchtar.

“Namun, tiba-tiba A Elfin MZ Muchtar kembali menelpon dan menyampaikan jika Bupati Ahmad Yani meminta uang 35 ribu dolar. Uang tersebut kata Elfin merupakan uang fee untuk proyek kedepannya. Dari itulah saya menyiapkan uangnya, akan tetapi disaat uang dolar ini saya berikan kepada Elfin di salah satu rumah makan mie, kami tertangkap OTT KPK,” tandasnya.

Setelah mendengarkan keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim Erma Suharti SH MH didampingi Hakim Anggota Abu Hanifah SH MH dan Junaidah SH MH menutup sidang dan akan kembali membuka sidang pada Selasa 25 Februari 2020 mendatang.

“Sidang dengan ini ditutup dan akan kembali dibuka pada senin depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi lainnya,” pungkas Hakim.

Usai persidangan, Jaksa Penuntut Umum KPK, Budi Nugraha mengungkapkan, dalam perkara iniRobi Okta Fahlefi telah menjadi terpidana. Hal ini dikarenakan setelah divonis oleh Hakim, Robi tidak mengajukan banding hingga batas waktu 14 hari usai vonis tersebut dijatuhkan. Dengan demikian,vonis terdakwa telah inkrah (berkekuatan hukum tetap).

“Jadi dalam perkara ini Robi Okta Fahlefi menerima vonis hakim selama 3 tahun penjara. Sedangkan terkait keterangan Robi sebagai saksi untuk Bupati Ahmad Yani di persidangan tentunya mengungatkan fakta jika Robi selaku kontraktor terbukti memberikan sejumlah uang dan dua unit mobil kepada Ahmad Yani guna mendapatkan 16 paket proyek pekerjaan dari aspirasi DPRD Muara Enim di Dinas PUPR Muara Enim,” pungkas JPU KPK. (*)

 

Editor : Aspani Yasland