Dimana Pembeli, Keluh Kesah Pedagang Di Pasar Pagaralam

MAKLUMATNEWS.com, PAGARALAM- Awan pagipun mulai menutupin pemandangan indahnya gunung dempo. Matahari mulai menampakkan diri dengan kesilauan dan teriknya membuat kulit terasa menyengat, siang itu begitu panas yang biasanya ramai orang tawar menawar. Bukan hanya persoalan tentang ramai, berjalanpun juga sulit karena ribuan orang berdesakan.

Mulai dari mereka membeli kebutuhan pokok dibulan Suci Ramadhan untuk keluarganya hingga persiapan kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Bukan hanya soal kuliner dan takjil untuk menu berbuka puasa, hingga pakaian berbagai macam model sering kali ramai kita jumpai sebagai sebuah tradisi menjelang lebaran yang serba baru.

Begitulah seharusnya yang ada dipasar square Pagaralam, sebagai pasar tradisional yang ada di Bumi Besemah ini.

Suasana Ramadhan hingga Idul Fitri harusnya sebuah momentum yang tak hanya di nanti oleh para pembeli dari berbagai pelosok dusun yang ada di Kota Pagaralam di pasar ini,  melainkan mereka pedagang dari berbagai jenis pedagang emperan hingga tokoh pun sangat menanti suasana ini. Tapi, tampaknya jauh dari harapan hati.

Yang terjadi adalah terdengar jeritan merdu pedagang di square ini. Teriakan keluh kesah yang dibungkus dengan bahasa Kota Besemah ini pun terjadi saut menyaut sesama mereka untuk sekedar menghibur diri.

Mereka tak punya kekuatan apa-apa selain pasrah dan berdoa agar wabah virus Corona ini segera cepat selesai.

“Pecak mane, dide ade harapan pecaknye jualanku tini uyy,” ucap salah satu pedagang.

Keluh-kesah mereka seolah saling sahut menyahut sembari sembari menunggu pembeli datang.

Ayu salah satu pemilik tokoh menjual berbagai macam pakaian  pun terus terdiam sembari melamun melihat ke arah dagangannya.  Sesekali ia memantau karyawannya yang terus berdiri menunggu dan siap menyapa pembeli.

“Saat ini pun belum ada pembeli, kalau sebelumnya siang ini sudah ramai pembeli, apalagi saat bulan Ramadhan Menjelang lebaran,” ucapnya.

Ia pun juga sama seperi pedagang lainnya, hanya bisa pasrah dengan keadaan sembari menunggu para pembeli. Sebab suasana sepeti ini memang tak diinginkan oleh semua orang.

Hal senada dikatakan Siti, salah satu pedagang kue  di pasar tersebut. Lebih dari 5 tahun ia menekunin dagangan ini bersama keluarganya.

Meski tak separah pedagang sebelumnya, namun Siti tak menyangka daya beli masyarakat begitu sangat turun. Padahal kue-kue menjadi incaran para pembeli untuk lebaran nanti.

“Sudah seminggu puasa ini tidak terlihat begitu banyak tanda-tanda pembeli yang datang. Biasanya awal puasa orang mulai bebondong” membeli bahkan ada sampe memesan,” tuturnya, sabtu (2/5/2020).

Sebagai seorang pedagang yang begitu sangat lama berjualan kondisi tersebut harus di hadapin tanpa adanya tekanan. Menurutnya, kondisi seperti ini tidak diinginkan oleh siapapun. Sehingga ia pun harus berusaha tegar dan bangkit layaknya pedagang lain.

Mereka pun punya cara untuk menghibur diri dengan seksama melempar keluh kesah candaan yang dibalut dengan bahasa Kota Besemah.

“Ya gimana lagi, kami harus tetap bersabar aja, mudah-mudahan wabah virus ini cepat hilang dan bisa kembali seperti biasanya,” ucapnya.

Reporter : Dicky Wahyudi