Tetap Semangat Merebut Lailatul Qadar Ditengah PSBB

 

MAKLUMATNEWS.com – Alhamdulillah, tak terasa kita sudah memasuki 10 hari di penghujung Ramadhan 1441 H, yang dikenal dengan malam-malam Lailatul Qodar, malam-malam istimewa bagi orang yang berpuasa untuk mendapatkan satu malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Di saat yang bersamaan, warga kota Palembang khususnya umat islam yang tengah berpuasa ini harus menjalani kebijakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa pandemi Covid-19 atau virus corona ini.

PSBB yang diajukan Pemerintah Kota Palembang sudah disetujui Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto melalui Keputusan Menkes RI Nomor HK.01.07/MENKES/307/2020 yang ditanda-tangani Selasa, 12 Mei 2020, bertepatan dengan mulainya 10 hari terakhir ramadhan 1441 H. PSBB ini bertujuan  untuk menekan penyebaran Covid-19 di Kota Palembang yang akhir-akhir ini semakin bertambah.

Bagi umat islam di kota Palembang yang tengah menjalani ibadah puasa ini, sebenarnya sudah terbiasa dengan suasana kehidupan di tengah wabah covid-19 ini. Oleh sebab itu, seolah tak terasa bahwa ramadhan kali ini, akan segera berakhir. Padahal, ramadhan tahun 2020 ini, nyaris tidak diwarnai amaliah ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa sholat jumat di masjid, tanpa sholat tarawih di masjid, tak ada iktikaf, tak ada tadarussan di masjid. Maka di hari-hari dan malam-malam Lailatul Qadar di ramadhan tahun ini, juga tidak akan ada iktikaf di masjid menunggu dan mengisi malam lailatul qadar dari dari jam 12 malam hingga menjelang sahur.

Pola hidup di tengah pandemi covid-19 ternyata sudah menjadi rutinitas sehari-hari umat islam meski tengah melakukan ibadah puasa. Atau dengan kata lain, Covid-19 tidaklah menjadi sesuatu hal atau perkara yang menakutkan sehingga mengurangi semangat menjalankan ibadah puasa.

Tak terasa memang, kita sudah memasuki gerbang malam-malam Lailatul Qadar di 10 hari terakhir ramadhan 1441 H, maka tetaplah semangat seperti hari-hari kemarin dan bahkan harus ditingkatkan meski dalam suasana PSBB.

PSBB sebenarnya peningkatan disiplin lagi dari pola hidup sebelumnya ketika menjalani pandemi covid-19, jadi tidak begitu berpengaruh dengan ibadah puasa, bahkan justru umat islam bisa lebih konsentrasi lagi ibadahnya di rumah masing-masing.

Malam-malam Laitul Qadar harus direbut dalam suasana PSBB ini. Sebab, inilah waktunya untuk merengkuh hari kemenangan Idul Fitri. Kita semua haru bersyukur karena Allah Swt masih memberikan waktu dan kesempatan beribadah di malam-malam Lailatul Qadar.

Sebagaimana sering kita dengar dari berbagai ceramah para da’i dan ulama mengenai Lailatul Qadar tersebut, yang menyebutkan bahwa malam di 10 hari terakhir ini memang lebih istimewa.

Bagi umat muslim di seluruh dunia, 10 hari terakhir bulan ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa. Mengapa demikian? Karena di dalamnya terdapat satu kejadian yang jarang orang bisa mendapatkannya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah, dia berkata, “Ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Nabi Shollallahualaiwassalam   mengencangkan sarung, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah” (H.R. al-Bukhari).

Berdasarkan hadis tersebut, rasulullah sebagai teladan terbaik dari Allah mencontohkan pengkhususan waktu 10 hari terakhir ramadhan untuk memperbanyak ibadah.

Karena begitu istimewanya, disebutkan bahwa Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari seribu bulan itu, terdapat di dalam 10 hari terakhir Ramadhan.

Di malam itulah Alquran diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah dan kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah selama 20 tahun.

Ustadz Abdul Somad yang berceramah di  Youtube mengemukakan pada bulan ramadhan ini, ada malam yang selalu ditunggu-tunggu umat islam yang berpuasa yaitu malam Lailatul Qadar. Namun tak ada yang mengetahui kapan datangnya malam kemuliaan itu.

Ulama ahli hadist bergelar doktor, ini mengemukakan, malam Lailatul Qadar jatuh pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

“Ada hadits yang mengatakan 10 malam terakhir, jadilah malam Lailatul Qadar pada malam terakhir Ramadhan, 21, 23, 25, 27. Lalu diperkecil lagi pada malam ke-10,” ujar Ustadz Abdul Somad sembari menambahkan hal itu Cuma prediksi.

Menurutnya, berdasarkan tafsir Al Kadir karya Al Razi, kunci-kunci (hari) gaib pada ayat surat Al Qadar disebutkan, Allah tidak sebutkan siapa yang dapat taubah nasuha, Allah tidak sebutkan siapa yang dapat haji mabrur.

“Allah tidak sebutkan siapa yang dapat sholat wushto, Allah tidak sebutkan siapa yang dapat Lailatul Qadar,” ucapnya.

Ustadz Abdul Somad menambahkan, tidak disebutkannya waktu malam Lailatul Qadar agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah. Supaya manusia menghidupkan malam dari malam 1 hingga malam 30 Ramadhan.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Abu Daud, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda mengenai Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ke-27. Namun pendapat yang kuat, hadist ini mauquf, yaitu hanya perkataan sahabat.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa tanda-tanda turunnya Lailatul Qadar itu seperti ini :

 1. Matahari terbit tanpa sinar yang terik di pagi hari

Ubay bin Ka’ab dalam sebuah hadis mengatakan, “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami yaitu (matahari) terbit (pada pagi harinya) tanpa sinar (yang terik).”

Hadis tersebut merupakan potongan kalimat Ubay bin Ka’ab yang menggambarkan bagaimana suasana Lailatul Qadar dalam hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ahmad.

  1. Malam indah yang tidak panas maupun dingin

Dalam sebuah hadis, Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Rasulullah  bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadar: ‘Malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin, matahari terbit dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik)'” (H.R. Ath Thayalisi, disahihkan oleh Al Albani).

 

  1. Di 10 malam terakhir yang ganjil

Ubadah bin Ash Shamit dalam sebuah hadis mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah  bersabda: ‘Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.

Dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan,'”

  1. Malam cerah dan pagi yang indah dan tentram

Masih dengan hadist oleh Ubadah bin Ash Shamit, “Dan Rasululullah  bersabda: ‘Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah malam yang cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas.

Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadar adalah matahari pagi terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu'” (H.R. Al Bukhari dan Muslim).

Betapa istimewanya Lailatul Qadar yang berada di 10 hari terakhir ramadhan ini, maka rugi besar kalau tidak bersemangat untuk merebutnya, meskipun ada penerapan PSBB di kota Palembang ini. Sebab, momentum meraup ibadah yang bernilai lebih dari seribu bulan ini, belum tentu bisa kita temui di tahun-tahun mendatang.[*]

Editor : Aspani Yasland