Catatan Redaksi

Jurnalis Bodong, Abal – Abal, WTS  Hingga  Opera Sabun Colek

Oleh : Hasandri Agustiawan

MAKLUMATNEWS.com, PALEMBANG – Dalam  sebuah rapat redaksi pada media tempat saya berkerja muncul banyak istilah terhadap profesi wartawan dulu dan saat ini. Istilah – istilah ini muncul ketika  dalam rapat itu mengemuka tentang bagaimana tanggapan masyarakat terhadap profesi wartawan saat ini. Maklum pada Februari mendatang dalam kalender tanggal bersejarah tepatnya pada 9 Februari akan diperingati sebagai hari Pers Nasional.

Dalam rapat itu muncul berbagai tanggapan tentang bagaimana keberadaan pers saat ini. Ternyata image miring tentang para pelaku pers yang dikenal dengan jurnalis maupun wartawan terus mendera para pekerja pers. Imaga negatif itu secara menohok diarahkan kepada profesia yang menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran ini. Sebagian berpendapat jika image negatif tetang profesi wartawan itu tetap tidak bisa dihindari. Masyarakat pembaca sudah kedaung tidak percaya, risih bahkan alergi dengan keberadaan wartawan. Ini semua akibat ulah oknum –oknum yang memanfaatkan posisi strategis pers dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Banyak istilah dan macam,  sebagai stempel negatif masyarakat kepada para oknum yang menggadaikan profesi untuk kepentingan pribadinya itu. Ada istilah, Wartawan Bodrek, WTS ( Wartawan tanpa surat kabar), pasukan udur –udur, wartawan abal –abal dan lain sebagainya. Yang terbaru ada istilah yang baru saya dengar yakni ‘ Jurnalis Opera Sabun Colet’. Ini bagi saya sangat menggelitik, bukankah sabun colet identik dengan pembersih yang banyak busanya tetapi tidak bisa membersihkan dengan baik. Menurut empunya kalimat ini, ‘ H Bangun Lubis” ( Jurnalis senior di Sumsel), julukan ini sebenarnya sudah cukup lama muncul dikalangan jurnalis. Pribahasa ini menggambarkan betapa ada oknum wartawan yang banyak mengumbar tulisan atau berita, namun dari segi isi tidak punya manfaat sama sekali. Beritanya hanya membuat jagat raya ramai, menebar keraguan, penuh suudzon bahkan bisa berakhir dengan fitnah. Padahal ruh dari seorang wartawan itu adalah kejujuran dan sebuah kepastian.

BACA JUGA    “Women are pearls”,  Islam Membantah Dunia Barat

Saat ini seiring dengan kemajuan tekhnologi, dan mudahnya mengakses berita dalam media sosial, maka profesi jurnalis semakin terpuruk. Kondisi diperparah dengan mudahnya masayarakat mendirikan media masa, pola rekrutmen SDM jurnalis yang tidak mengindahkan kriteria – kriteria yang layak. Jika dalam persyaratan profesional seorang jurnalis pendidikan minal S1, dizaman yang semua orang bisa menjadi jurnalis ini, maka syarat – syarat itu tidak lagi dipenuhi. Akibatnya, hasil karya jurnalistik menjadi amburadul, tulisan sangat dangkal, kalimat yang digunakan ngalur ngidul, prihatinnya lagi ada kecenderungan oknum jurnalis seolah hanya menyebar curiga, memfitnah dan cenderung menghakimi. Tidak jarang banyak kalimat yang mengarah kepada suudzon seperti setiap berita selalu diawali dengan kata diduga.

Tidak hanya itu, lahirnya Undang-undang nomor 40 tentang Pers membawa era baru  bagi perkembangan pers nasional. Era ini dianggap sebagai lahirnya kebebasan pers di Indonesia setalah lebih dari tiga dekade merasa dipasung oleh pemerintahan orde baru. Arinanto dalam bukunya Politik Hukum Pers Indonesia jika yang spektakuler dari Undang-undang Pers ini adalah setiap orang berhak menerbitkan pers tanpa memerlukan SIT dan sejenisnya. Ini artinya akan menjamurnya produk-produk pers yang tidak diimbangi oleh kualitas pendidikan SDM-SDM nya. Hal ini yang kemudian juga dinilai sebagai salah satu sebab lahirnya wartawan abal-abal, karena untuk mendirikan perusahaan media atau sekedar menerbitkan produk pers tidak dibutuhkan izin.

Orang bisa langsung membuat dan mengedarkannya. Maka sejalah dengan menjamurnya perusahaan pers, menjamur pula pekerja yang dilabeli wartawan. Ada yang memang berpendidikan kewartawanan tapi tak sedikit yang mengambil orang seadanya dengan kemampuan yang coba diasah instan. Maka tak heran jika akhirnya lahir banyak wartawan tak memiliki kemampuan jumalisme atau bahkan tak mengerti tentang profesi mereka dan aturan-aturan tentang profesi mereka, namun sudah bertugas dalam peliputan berita.

Dalam buku yang lain yang beijudul Potret Jurnalis Indonesia yang diterbitkan oleh AJI, diulas jika berdasarkan Kode Etik Jurnalistik yang mereka keluarkan tidak dibenarkan jika wartawan menerima amplop. Amplop didefinisikan sebagai uang imbalan peliputan, atau fasilitas lain seperti tiket perjalanan, akomodasi dan lain sebagainya. Hal tersebut tidak dibenarkan karena dianggap akan mampu mempengaruhi independensi wartawan.

Kedepan, menjadi PR besar bagai para pekerja pers maupun pemilik perusahaan pers yang profesional untuk mengembalikan marwah jurnalis yang sebenarnya. Bukankah marwah jurnalis itu adalah kebenaran. Dalam tulisan sebelumnya, penulis mengibaratkan jika profesi wartawan atau jurnalis itu layaknya para perawi hadist dan para pecatat Alquran dalam sejarah Islam. Mereka adalah orang – orang terpercaya, jujur, berilmu dan profesional. Seorang jurnalis yang baik dan profesioanal, adalah jurnalis yang mengedepankan kebenaran, kejujuran, keberimbangan, kepastian, fakta dan tidak berbohong sebagaimana yang sudah diatur dalam Kode Etik Jurnalistik. #

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button