Catatan Redaksi

Guru, Sebuah Pengabdian Tanpa Batas

Guru adalah mutiara. Ilmu yang mereka miliki, kemudian diajarkan kepada murid, betapa mulianya

Oleh: Ir. Salamah Syahabudin, MP ( Guru SIT AlFurqon Palembang )

Profesi guru adalah sebuah bentuk pengabdian tanpa batas. Kita membenarkan, bahwa guru, diberikan gaji yang sesuai dengan  jenjang tingkatan antara pendidikan dan jenjang kepangkatannnya.

Tetapi, tentu bukan soal materi saja yang menarik hati seseorang untuk menjadi guru. Melainkan, karena panggilan hati. Terasa terlalu berlebih-lebihan jika kita menyebut panggilan hati. Namun kenyataannya demikian. Banyak guru yang terjun memilih profesi guru karena murni panggilan hati nurani. Makanya, kita boleh menyebut mereka sebagai ‘mutiara yang terpendam’.

Benar, pemikiran soal panggilan hati ini, kita tidak menyebut angka statistic, bahwa mereka bener-benar mengikuti hati nurani untuk menjadi seorang guru. Saya kenal seorang sahabat, bernama Andini (31), setelah berhenti dari tempatnya bekerja sebagi guru di sebuah lembaga pendidikan Islam, tetapi ternyata tidak bisa marasakan kesepiannya di rumah tanpa anak-anak didik yang menganggunya sebagaimana ia ketika mengajari sebelumnya.

Lalu, ia pun kembali melamar di tempatnya yang dulu bekerja, untuk kembali mengabdikan diri, menjadi guru, walaupun materi atau imbalan honor yang diterimanya, tidak lagi sebesar yang diterima ketika mengajar waktu pertama kali menjadi guru. “Ini sebuah kesalahan bagi saya. Memang nurani saya adalah pendidikan bersama anak-anak murid,’’üjarnya sembari bercanda.

Penggilan Hati Nurani

Kemudian ketika saya membaca sebuah artikel di harian Kompas.com, bagaimana perjuangan Dina mengajar di sebuah TK bernama TK Al Hidayah. Dalam wawancara dengan harian itu, Dina menyebut bahwa mengajar baginya adalah sebuah panggilan hati nurani.

Memang, bisa dibilang, banyak guru di Indonesia memperoleh gaji tidak besar. Tapi, mereka memiliki tujuan utama, yakni memperoleh ladang pahala di akhirat. Hal itu tercermin dari banyaknya guru di kota-kota besar Indonesia yang memperoleh gaji sebesar Rp 400 ribu per bulan.

Dina, yang ditulis dalam sebuah artikel; “Kisah Guru TK Mengabdi Puluhan Tahun untuk Ladang di Akhirat”,   Dina menyebut menjadi guru TK sudah selama 22 tahun. Tepatnya, sejak tahun 2000. Dia memilih menjadi guru TK, karena panggilan hati. Sebab, dia sangat menyukai anak-anak kecil yang masih suci dari dosa.

BACA JUGA  Sebuah Refleksi 20 Tahun SIT AL Furqon Palembang : Pengabdian Tanpa Batas

“Kalau saya ditengah anak-anak, serasa beban hidup yang ada di saya hilang. Saya bisa selalu bergembira dengan anak-anak, dan kalau melihat mereka tuh rasanya senang sekali,” ucap Dina, Selasa (12/10/2021) lalu. Dina menyatakan, mengajar siswa dan siswi TK sangat menyenangkan, tapi tetap ada tantangan yang dipikulnya setiap hari.

Tugas Guru yang Mulia

Anda, mungkin pernah membaca banyak artikel, tentang bagaimana pengabdian para guru di negeri ini. Agus Nana Nuryana, M.M.Pd, seorang pengurus KALIMAH (Komunitas Aktifis Literasi Madrsah) Indonesia memaparkan,  “Tugas guru profesional yang tidak main-main semestinya dihargainya dengan tidak main-main pula, sebab ini menentukan masa depan bangsa”

Para guru merupakan  sumber daya manusia, yang mengabdikan dirinya   dengan semangat yang gigih.  Dalam undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2015 pasal 38 disebutkan bahwa pemerintah dapat menetapkan satu hari yakni hari guru nasional. Penetapat hari guru adalah bentuk penghargaan kepada guru yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. Hal ini menegaskan pengakuan pemerintah kepada profesi guru yang harus dihargai sebagai profesi yang professional dengan peran dan fungsinya sangat penting dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ungkapan “Guru pahlawan tanpa tanda jasa” mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Kata-kata tersebut kalau ditelaah sepintas seperti menghargai profesi guru yang perannya sama seperti pahlawan yang berjasa bagi bangsa dan Negara, namun dengan ditambah kata-kata ‘tanpa tanda jasa’ seolah guru tidak diberikan penghargaan semacam honor. Namun bukan demikian. Guru tetap saja diberikan penghargaan, sekalipun masih banyak guru yang memang diberi honor yang membuat hati kita miri. Tetapi, mereka tetap saja mengabdikan ilmunya kepada anak-anak negeri ini.

Kemudian setelah terbitnya undang-undang guru dan dosen,  mulai terasa manfaatnya apalagi setelah ada sertifikasi guru yang merupakan amanat undang-undang dilaksanakan oleh pemerintah apalagi setelah tunjangan sertifikasi guru dapat dinikmati oleh para guru. Tentu guru pun mulai mengimbangi tugas-tugasnya  sehari-hari.

BACA JUGA  Usai Dilantik, Ketum KONI Sumsel Yulian Gunhar Berjanji Segera Bayar Bonus Atlet Yang Tertunda Pembayarannya 

Tugas guru memang sangat berat, dalam menjalankan tugasnya guru tidak boleh terlepas dari aturan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai pegangan guru dalam menjalankan proses pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Stándar nasional pendidikan yang berkaitan langsung dengan tugas guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan di sekolah/madrasah adalah stándar kompetensi lulusan (SKL) yang diatur dalam Permendikbud nomor 20 tahun 2016, standar proses yang diatur dalam permendikbud nomor 21 tahun 2016, standar proses yang diatur dalam permendikbud nomor 22 tahun 2016, standar penilaian yang diatur dalam permendikbud nomor 23 tahun 2016 dan ditambah dengan permendikbud nomor 24 tahun 2016 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu oleh masing-masing guru. Keempat standar tersebut yang dikelompokan dalam standar akademik harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh setiap guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.

Tuntutan yang besar terhadap profesi guru menjadi tantangan bagi seluruh guru untuk meningkatkan kompetensinya sebagai guru atau pekerja yang profesional, sehingga pemerintah tidak sia-sia menganggarkan biaya yang untuk memberi tunjangan profesi kepada guru demi menghargai jasa profesionalitasnya.

Memang profesi guru ini begitu amat mulia.  Ada banyak keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu yang disebutkan dalam Al Quran dan Al Hadits. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Keutamaan seorang yang berilmu atau ahli ibadah adalah sebagaimana keutamaanku atas orang yang terendah dari kalian.”. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh.” (HR. Muslim). Jadilah engkau orang yang berilmu, karena begitu tinggi derajatnya dan begitu tinggi pula kemuliannya. Apalagi membagikan ilmunya kepada orang lain seperti yang dilakukan oleh para guru.

Mudah-mudahan pengabdian para guru di Indonesia yang beban kerjanya sangat besar dapat terjaga dengan baik,  walaupun tingkat kesejahteraan mereka masih sangat jauh dari layak dan pemerintah hendaknya dapat memprioritaskan perhatiannya untuk para guru sebagai pahlawan yang jasanya betul-betul dihargai dengan penghargaan yang setimpal.(*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button