PALEMBANG

Kenang Kembali Keberadaan Keraton Beringin Janggut

MAKLUMATNEWS.com,PALEMBANG –Nama Keraton Beringin Janggut kembali disebut setelah ditemukannya enam nisan kuno dengan aksara Arab di galian proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kawasan Komplek Pertokoan Tengkuruk Permai Blok C, 17 Ilir.

Tak banyak orang tahu jika kawasan ini pernah jadi Keraton Beringin Janggut pusat Keraton Kesultanan Palembang Darussalam pada masa Sultan Abdurahman.

Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang Kemas Ari Panji mengatakan, masa Keraton Beringin Janggut ini cukup panjang dan berpindah-pindah. Setelah hancurnya Keraton Kuto Gawang di 1 Ilir yang kini jadi Pabrik Pusri, pendiri Kesultanan Palembang Darussalam memindahkan ke Beringin Janggut.

Dipilihnya Beringin Janggut yang masa itu merupakan ‘pulau’ yang aman dari musuh. Karena dibatasi oleh Sungai Musi, Sungai Tengkuruk, Sungai Rendang dan Sungai Penedan.

“Kawasan itu memang dulunya bekas Keraton Beringin Janggut, masa Sultan Abdurahman, ini rentang waktunya sangat lama, sekitar abad ke-17,” katanya.

Lalu, bekas wilayahnya ini kemudian jadi perkampungan, tapi bukan untuk masyarakat umum. Melainkan keluarga bangsawan yang tinggal di kawasan bekas keraton ini.

“Kawasan ini juga kemudian jadi Ungkonan (tempat pemakaman keluarga) sebelum digusur menjadi pertokoan seperti sekarang ini,” katanya.

Menurut Perawat Naskah Kuno Kesultanan Palembang Darussalam dan juga Imam Masjid Agung Palembang, Kemas Andi Syarifuddin, dengan ditemukannya batu nisan di 17 Ilir membuktikan bahwa disana ada komplek pemakaman.

“Lokasi itu dulunya Keraton Beringin Janggut masa Sultan Abdurrahman dan dulunya juga pemakaman,” katanya.

Makam-makam raja Palembang awalnya di makamkan di Situs Makam Gede Ing Suro. Lalu ke Keraton Beringin Janggut yang didirikan di abad ke-17. “Sultan Abdurrahman mendirikan keraton baru dan masjid, yang sering disebut Masjid Lama,” katanya.

BACA JUGA  Tekan Inflasi, Pemprov Sumsel Gunakan Dana Insentif Daerah 

Lalu komplek pemakaman Candi Walang yang ada di deket Pasar Cinde dan ada juga makan keluarga Sultan Muhamad Mansyur di deket Jembatan Musi VI.

Pada masa itu, adik Sultan Muhamad Mansyur bernama Sultan Agung Komarudin bernama Keraton Kuto Kerancang di daerah 17 Ilir di belakang Masjid Lama.

Keraton Kuto Kerancang ini tidak jadi ditempati oleh Sultan Agung. Tapi ada Ratu Randga/Rando, janda beranak tiga yang menempati di Beringin Janggut.

Kemudian Ratu Randga ini menikah dengan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I Jayo Wikramo. Namun karena Sultan ini mendirikan keraton baru yang dikenal Keraton Tengkuruk atau saat ini yang jadi Museum SMB II, maka istrinya diajak juga.

“Sehingga pada abad ke-18 kosong, tidak berpenghuni yang akhirnya jadi tempat pemakaman keturunan Sultan,” katanya.P

ada akhir kesultanan pada masa kolonial, kawasan 17 Ilir dijadikan pemakaman umum. “Sehingga masyarakat Palembang boleh menguburkan makan disitu, itu kisaran 1823 sampai 1908,” katanya.

Pada 1908 baru ada TPU-TPU umum yang resmi seperti kandang kawat dan lain-lain. Maka, kawasan 17 Ilir saat itu tidak boleh dijadikan tempat pemakaman, karena sudah ada TPU resmi di tempat yang lain.

“Makam digusur dan Sungai Tengkuruk ditimbun, jadilah Jalan Sudirman. Makanya kalau gali tanah bertemu kuburan wajar saja karena memang lokasinya pemakaman,” katanya.

Reporter : Pitria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button