LIFESTYLE

Baca Edisi Terbaru Media Islam As SAJIDIN Februari 2022/Rajab 1443 H

Saatnya Kembalikan Kodrat Palembang

MAKLUMATNEWS.com — Untuk pertama kalinya, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H.Herman Deru berperahu menikmati indahnya Sungai Sekanak Lambidaro Palembang, bahkan orang nomor satu di Bumi Sriwijaya ini, mengajak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Walikota Palembang H. Harnojoyo.

Peristiwa bersejarah tersebut, terjadi Ahad, 23 Januari 2022 seusai Herman Deru gowes bersama dengan para alumni UGM dimana Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo selaku Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama), yang mengadakan perhelatan alumni di Palembang.

Gubernur Herman Deru berjanji alur Sungai Sekanak Lambidaro akan diuji-coba untuk sarana transportasi air. “ Dalam waktu dekat akan segera dilakukan uji coba untuk angkutan air, setelah dilakukan restorasi ini tentu sungai ini sudah layak untuk digunakan kembali,” tutur Herman Deru.

Dia pun mengajak masyarakat untuk tidak lagi mengotori sungai sehingga dapat membawa manfaat di berbagai sektor. “Yang harus terus kita perbaiki adalah kecintaan kita terhadap lingkungan. Jangan lagi mengotori sungai, agar bisa terus kita manfaatkan,” ujar Gubernur Sumsel.

Sungai Sekanak Lambidaro memang berada melintasi jantung kota Palembang. Sungai ini adalah anak Sungai Musi yang menjadi ikon kota ini. Jadi restorasi sungai yang mengalir dari Sungai Sekanak disamping Kantor Walikota Jalan Merdeka, menjalar hingga leintasi perkampungan padat penduduk di 26 Ilir, Rumah Susun, hingga kawasan Pakjo. Sungai ini kini sudah dipercantik dan dibersihkan, sehingga sedap dipandang mata setiap orang yang berkenderaan di kanan kirinya.

Momentum berperahunya Gubernur Herman Deru dan Gubernur Ganjar Pranowo serta Walikota Harnojoyo tersebut, bisa jadi menjadi titik balik dari kodrat kota Palembang sebagai kota sungai atau kota Palembang sudah kembali ke kodratnya.

Konsep pembangunnan kota Palembang memang harus kembali ke kodratnya sebagai kota sungai. Peristiwa kota Palembang dikepung banjir dimana-mana dan besar pada 25 Desember 2021 lalu, membuat berbagai pihak mengingatkan kembali bahwa Palembang sudah melenceng dari kodratnya ketika membangun kota ini yang sekarang sudah menjadi kota metropolitan ini. Anak Sungai Musi yang dulunya berjumlah 300 buah, mengitari kota dan kini hanya tinggal puluhan dan itu pun tidak terfungsi dengan baik. Hilangnya anak sungai yang menjadi penampung air hujan dan penanggulang banjir, disebabkan berbagai aktivitas pembangunan yang mendaratkan, menimbun aliran sungai.

BACA JUGA  Ngobrol Sejenak dengan Dea Shakila, Peraih Juara Favorit Duta Bahasa Sumsel 2023

Akibatnya hujan sebentar saja, Palembang sudah dikepung banjir. Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda dalam beberapa kesempatan juga tidak menampik hal ini sebagai bagian dari kesalahan yang sangat fatal. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang bekerja keras untuk memperbaiki 200 titik lokasi penyumbatan air yang mengakibatkan banjir Palembang kian buruk.

“Penyempitan aliran sungai ini diakibatkan pendirian bangunan yang tidak sesuai,. Ditambah lagi karena pendirian bangunan di atas saluran yang menghambat aliran air ke Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disusul akibat curah hujan yang begitu tinggi. Sehingga mengakibatkan kondisi banjir kian parah. Kita akan mengoptimalkan seluruh pompa-pompa yang ada, disamping tentu, menormalisasikan sungai-sungai adalah prioritas berkala yang diharapkan dapat meminimalisir keadaan Palembang lebi baik,” ujarnya.

Menyikapi fenomena yang terjadi, Ustadz Abdul Somad dalam tausiyahnya “ Abdul Somad Official” menyebut jika setiap bencana alam yang terjadi adalah akibat dari perbuatan tangan-tangan manusia yang menyalahi kodrat alam.

“ Manusia lebih suka menjalankan yang di larang dan meninggalkan yang di perintahkannNYa. Hutan di gunduli, sungai dan alirannya ditutup, ditimbun dengan bangunan. Maka, semua itu adalah kemungkaran terhadap alam, yang kemudian kembali untuk dirinya sendiri. Begitulah, Al Quran dalam surat Ar Rum ayat 41 menjelaskan,” tuturnya.

Oleh sebab itu, kata UAS, mari jadikan sabar sebagai perisai diri dalam menerima bencana ini dengan kembali ingat kepada-Nya.

Lebih jauh UAS mengatakan, Firman Allah SWT dalam QS: Ar Rum ayat 41 dan 42 bisa menjadi sebuah jawaban akan pentingnya suatu kewajiban umat manusia tentang ikhtiar menjaga, melindungi, dan melestarikan seluruh ekosistem baik di darat maupun laut yang ada di muka bumi ini.

“ Yuk berbaik sangka pada Allah, mungkin balak ,bencana, banjir, angin, api dan bumi yang terbelah adalah cara Allah menyadarkan kita. Ingat kita ini hamba, jangan mengaku Tuhan. Oleh karenanya, saling ingat mengingatkan adalah salah satu ajaran Islam yang dianjurkan, baik mengingatkan dalam mengajak kebaikan maupun keburukan,” ajaknya.

Rakaryan (2010) dalam tulisannya yang berjudul, “ Palembang Berkembang Menyalahi Kodrat” menunjukan bahwa sejarah zaman Kerajaan Sriwijaya sampai masa penjajahan Belanda sebenarnya cukup jelas menggambarkan, idealnya seperti apa Kota Palembang dikembangkan. Sebutan “Venice from the east” atau Venesia dari Timur” yang pernah disandang ibu kota Sumsel, ini semakin menguatkan kekhasan kota yang dibelah dan dikelilingi Sungai Musi dan anak-anak sungainya, sumber mata air untuk Palembang sangat melimpah karena Sungai Musi dan berbagai anak sungainya mengelilingi kota ini.

BACA JUGA  Singgah Sejenak di Dapur Komering JKB SU I, Nikmatnya Nyicip Pindang Kerang dan Udang Satang

Dari sisi geografis, Palembang sebenarnya mempunyai keunggulan dibanding banyak kota besar lainnya di Indonesia, yaitu kekhasannya sebagai “Venice from the east”. Namun, pola pembangunan pada era lalu sangat kuat dengan visi penyeragaman. Alhasil, Palembang yang kodratnya lebih tepat menjadi kota sungai dibentuk sedemikian rupa menjadi kota daratan sebagaimana kotakota lain di Pulau Jawa.

Pada masyarakat awal, Sungai Musi memiliki peran besar terhadap kehidupan masyarakat Palembang. Manusia hadir mendekatkan dirinya untuk hidup dan berkehidupan. Manusia mulai membentuk kelompok, membangun permukiman dan mengembangkan kebudayaan.

Pengaruh ini akan berdampak pada jejak arsitektur yang dihasilkan, seperti hunian maupun bangunan lainnya, seni, kreativitas, busana, kerajinan, maupun cerita rakyat. Hasil-hasil peradaban tersebut akan merefleksikan dan merekam jejak-jejak pola pikir masyarakatnya.
Namun, yang menjadi masalah adalah dibutuhkan perjuangan sangat besar dan tidak sebentar untuk mengembalikan Palembang ke kodratnya untuk mewujudkan peran dan keberadaan Sungai.

Sebagaimana dikutip dari makalah berjudul : “Perubahan Orientasi Permukiman Tepi Sungai sebagai Pengaruh Eksistensi Sungai Musi Palembang Bambang Wicaksono1 , Ari Siswanto2 , Susilo Kusdiwanggo3 , Widya Fransiska Febriati Anwar4 1 Program Studi S3 (Doktor) Ilmu Teknik BKU Arsitektur Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya/Lab Perumahan Permukiman Prodi Perencanaan Wilayah Kota Fakultas Teknik Universitas Indo Global Mandiri Palembang. 2,4 Lab Permukiman, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. 3 Lab Permukiman, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, mengemukakan, permukiman yang terpengaruh pasang surut sungai tidak lagi berciri rumah bertiang/panggung seperti terlihat pada rumah tepi sungai di 3-4 ulu yang tidak lagi bertiang/panggung dan berada di bawah peil jalan depan rumah.

Saatnya restorasi Sungai Sekanak Lambidaro menjadi momentum mengembalikan kodrat kota Palembang sebagai kota Sungai dalam setiap konsep pembangunan menuju Palembang Darussalam yag maju dan jaya. Saatnya sungai tidak dijadkan got, tempat pembuangan sampah, tidak ditimbun untuk perumahan, mal, perkantoran dan lain perilaku warga yang menyalahi kodrat dan ingkar lingkungan nyaman dan sehat[]Jemmy Saputera/Aspani Yasland

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button