LIFESTYLE

Kisah Wartawan Senior Helmy Marsindang, “Wah Gawat, Bakal Masuk Sel Bawah Tanah Kodam Ini”

MAKLUMATNEWS.com — Setiap tanggal 9 Februari, bangsa Indonesia memeringati Hari Pers Nasional. Berikut kisah seorang wartawan senior di kota Palembang, Sumatera Selatan bernama Helmy Marsindang. Mafhum kiranya, baik di kalangan wartawan dan pejabat di Bumi Sriwijaya ini, sosok jurnalis berambut gondrong murah senyum dan selalu berpakaian parlente ini, sangat familiar serta termasuk wartawan yang disegani. Dalam kaitan Hari Pers Nasional tahun 2022 ini,  MAKLUMATNEWS.com sengaja menurunkan kisah episode kehidupan Helmy Marsindang yang dinukil dari Buku “Wartawan Hebat Sumatera Selatan 789” yang diterbitkan tahun 2019.  Bagi wartawan junior, semoga dapat mengambil manfaat dari kisah wartawan mantan Sekretaris PWI Sumsel dan sekarang Ketua Dewan Kehormatan PWI Sumsel ini.

Menjadi jurnalis (wartawan), sebenarnya bukanlah cita-cita sejak kecil, tapi bukan pula karena kebetulan. Semangatnya adalah ingin sukses dan berhasil. Maklum sebagai anak desa, dari kecil saya dididik keras belajar dan bekerja membantu orangtua.

Lahir dari keluarga petani sederhana di Desa Muara Sindang, Kecamatan Pulau Beringin (sekarang jadi Kabupaten OKU Selatan), pada 4 Juli 1952. Lulus Sekolah Rakyat (SR) tahun tahun 1965 kemudian melanjutkan ke jenjang SMP Satria di Ulu Danau. Namun ketika menginjak Kelas 2 tahun 1966/1967, sempat terhenti, lantas fokus membantu orangtua mengurus sawah dan kebun kopi.

Lanjut sekolah lagi di SMP swasta Cokroaminoto di Muaradua (sekarang OKU Selatan), mulai dari Kelas 2 hingga tamat dengan mengikui ujian negara pada tahun 1970. Semasa sekolah SMP ini, saya sudah gemar membaca buku-buku pujangga seperti karangan Suman HS, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka dan buku-buku pujangga baru lainnya.

Mewawancari Gubernur Ramli Hasan Basri

 

Setelah lulus SMP, hijrah ke Palembang melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 3 Palembang. Lulus pada tahun 1972. Usia SMA ikut tes APDN di Bandung namun gagal. Awal 1973 kembali ke Palembang. Kemudian Juli 1974, bekerja di perusahaan asuransi Jiwa Pura Nusantara hingga Februari 1975. Kemudian 21 April 1975 bekerja di Uniliver Indonesia. Di penghujung tahun yang sama ikut tes CPNS di Departemen Keuangan dan lulus pada 27 November tahun 1975, ditempatkan di kantor IPEDA wilayah Sumatera Selatan di Jalan Kapten A.Rivai Palembang dengan pangkat Juru Muda Tingkat I Golongan I/b, namun surat panggilan itu saya abaikan dan tetap bekerja di Unilever Indonesia.

Bersama Gubernur Rosihan Arsyad

 

Saya mulai merintis karier di dunia jurnalistik sejak tahun 1981. Saat itu saya berada di Matraman Jakarta, di tempat keluarga saya. Kebetulan di rumah keluarga saya itu ada yang bekerja di Majalah “Siaran Niaga” dan dia memperlihatkan majalah itu kepada saya. Majalah ini mengadopsi media di Amerika yang lebih fokus menggarap iklan, sementara di edisi cetaknya dibagikan gratis. Majalah ini dikelola olegh Sudibyo Nichlani cs.

BACA JUGA  Sridevi Prabumulih Raih Juara Pertama Dangdut Academy 5 Indosiar, Prestasi Luar Biasa
Bersama Gubernur Herman Deru

 

 

Saya mencoba bergabung atas saran dari kerabat keluarga saya tersebut. Tugas saya mencari iklan, sayangnya majalah ini tak pajang umur karena tak punya SIT (Surat Izin Terbit). Memang sempat pengelolanya tersebut mengajukan SIT tersebut ke Dirjen PPG Deppen. Namun tak direalisasikan Deppen karena nama majalah ini sama dengan program iklan di TVRI. Pada saat itu, pemerintah tengah merancang UU baru bahwa pers harus memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) bukan lagi SIT, maka majalah inipun akhirnya tenggelam.

Karena majalah ini sudah tidak terbit lagi dan saya sudah terlanjur mundur dari Unilever Indonesia tahun 1982, akhirnya saya aktif di organisasi buruh, sempat menjadi Wakil Ketua Federasi Serikat Buruh Minyak Gas dan Pertambangan Umum (SBMGPU) dan merangkap Sekretaris Litbang DPD FBSI Sumatera Selatan.

Di FBSI juga ada majalah dengan nama “Suara Buruh” yang SIT-nya terbit sejak tahun  1975. Saya pun bergabung di media ini pada tahun 1983. Tapi majalan ini terhenti karena FBSI berganti nama menjadi SPSI. Selanjutnya pada November 1983 ada lagi tawaran bergabung di Majalah Olahraga “Yasoma” (Yayasan Semoga Olahraga Maju). Media ini milik Laksamana Muda (Purn) Suparno.

Maret 1984, saya bergabung dengan koran Mingguan Suara Rakyat Semesta (SRS) Palembang, kurang lebih setahun. Pada 18 Agustus 1985, saya bergabung di Koran Harian Ekonomi Neraca. Koran ini terbit perkenalan pada Agustus  dan terbit rutin sejak 2 September 1985. Koran segmen ekonomi dan keuangan ini, milik  H. Zulharmans yang nota bene adalah Ketua Umum PWI Periode 1983-1988 dan juga Ketua SPS.

Kehadiran Harian Ekonomi Neraca, menjadi titik awal keyakinan saya untuk sukses  di dunia jurnalis. Pada 23 Desember 1986, saya ditunjuk sebagai perwakilan Sumsel menyusul pada 12 Januari 1987 ditunjuk sebagai Koresponden.

Ada banyak senior yang sebelumnya menjadi tempat saya belajar menulis berita, akhirnya menjadi rekan-rekan dalam menjalankan tugas menjari dan meliput berita. Seperti Wahab Manan (Kompas)  dan Abadi Temanggung (Kompas), Bahrum Abubakar (Merdeka) Syailana Amini dan Amin Sarwoko (Sinar Harapan/Suara Pembaruan) serta HT Wakeel dan HT Hasan (SRS), Jailani (Suara Karya) dan rekan lainnya.

Masa awal menjadi koresponden Harian Ekonomi Neraca, saya benar-benar meras enjoy. Apalagi media ekonomi ini, sangat segmented dengan berbagai rubrikasi yang mewakili semua institusi pemerintah. Karena rubrikasi yang segmented ini, berita yang dimuatun lebih banyak berita wawancara tatap muka, bukan liputan seremonial atau peristiwa. Setelah banyak kolega yang dikenal, saya mencoba mengkolaborasi profesi jurnalis dengan sirkulasi dan iklan. Caranya saya membuat keagenan tersendiri yang berbadan hukum, dengan nama Bayu Agency. Alhasil pola ini menghantarkan saya pada kehidupan jurnalis yang jauh lebih terjamin dari sisi pendapatan, meskipun butuh waktu panjang.

BACA JUGA  BACA EDISI TERBARU, SEPTEMBER 2023 M-SAFAR 1445 H

Selama berprofesi jurnalis, tentu banyak suka duku. Ketika menjadi wartawan pemula, antara tahun 1982-1986, saya harus meminjam mesik tik dengan teman sebelah rumah karena belum mampu membeli sendiri. Baru pada tahun 1987—ketika menjadi Koresponden Harian Ekonomi Neraca—bisa beli mesin tik merek Brother meskipun kredit.

Bersama Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Sudjasmin.

 

Selain itu, profesi ini membutuhkan nyali sekeras besi baja. Sebab tantangan yang dihadapi bukan hanya tuntutan hukum, tetapi juga ancaman keselamatan jiwa, bahkan hingga keluarga.

Pengalaman pahit dan manis yang tak bisa dilupakan, antara lain pada tahun 1993. Saat itu Gubernur Sumsel Letjen TNI Purn DR.(HC) H.Ramli Hasan Basri (RHB) akan mencalonkan diri untuk menjabat kedua kalinya. Saya bersama beberapa wartawan media lain, mewawancarainya seputar adanya kabar samar bahwa Golkar belum menunjukan akan mendukung RHB untuk jabatan kedua, karena Golkar masih menunggu gelagat Fraksi ABRI apakah akan mendukung RHB atau sebaliknya. Kala itu, RHB statusnya masih anggota TNI aktif.

Seusai wawancar, tiba-tiba alat komunikasi satu arah saya berbunyi. Pesannya, saya diminta segera menghadap Asintel Kodam II/Sriwijaya. Jika tak memiliki nyali sekeras baja, mungkin saya sudah minggat. Sebab kala itu, semua orang tau, Kodam sangat ditakuti apalagi dipanggil menghadap, bayangan masuk sel bawah tanah sudah di depan mata.

Memang, dalam wawancara itu. Gubernur RHB ditanya menyangkut pencalonannya untuk  menjabat gubernur periode kedua. Diantaranya soal belum adanya dukungan partai politik, termasuk dari Mabes TNI. Ternyata setelah wawancara itu, Gubernur Ramli langsung menelepon Panglima Kodam II/Sriwijaya, menceritakan dia baru saja diwawancarai wartawan dengan pertanyaan tadi. Pangdam kemudian menugaskan Asintel Kol.Inf. Suwaluyo dan Kapendam Letkol.Inf. Malian Syahri, memanggil kami.

Setelah panggilan dipenuhi, rupanya Asintel didampingi dua perwira Kodam lainnya, hanya menanyakan dari mana kami dapat sumber informasi soal belum adanya dukungan Golkar dan Fraksi ABRI. Sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik, saya pun mengatakan, wartawan punya hak melindungi narasumber kecuali diminta oleh pengadilan. Alhasil Asintel pun bisa mengerti.

Kasus kedua yang juga bikin cemas, karena adanya ancaman gugatan Kepala Inspektorat Kabupaten OKU karena sebuah pemberitaan. Tak tanggung-tanggung saya digugat ke Pengadilan Negeri Baturaja Rp 6 Miliar. Bayangkan di dekade-90-an uang Rp 6 Miliar bukan sedikit. Namun saya selamat karena gugat itu ditolak Pengadilan.

Sekedar catatan, Helmy Marsindang juga pernah menjadi pegawai Dispenda Tk.I Sumsel ketika itu kepala dinas-nya H. Naag Ali Solichin, namun tak pernah dilakoninya, sementara  media-media yang pernah saya geluti antara lain yakni (1983) Majalah Suara Buruh (Jakarta) Majalah Yasoma (1985), Suara Rakyat Semesta (1986), Harian Ekonomi Neraca (2014) sekarang mengelola Koran Rakyat Sumsel. (*)

 

Editor : Aspani Yasland

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button