OPINI

Ditangkap Densus 88, Ustaz Farid Okbah: Anggap Saja Lagi Iktikaf

Oleh Mursalin Yasland (Jurnalis)

BAGI KALANGAN penuntut ilmu (majelis taklim) ahlul sunnah wal jamaah, boleh dikata mengenal sosok Ustazd Farid Achmad Okbah, MA. Sudah tiga bulan tak terdengar kabarnya, ia menuliskan kisahnya dalam jeruji besi pada bukunya setelah ditangkap Tim Densus 88 pada 16 November 2021.

Selepas Shalat Subuh, pendiri dan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI) itu ditangkap tim Densus 88 dengan tuduhan terorisme di Yanatera II, Perumahan Bulog, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat.

“Saya sadar bahwa hidup ini adalah ujian untuk menentukan kualitas manusia di hadapan Allah,” kata Ustaz Farid Okbah dalam bukunya berjudul: “Hikmah Ditangkap Densus 88 (Renungan dan Pelajaran dari Tahanan)”.

Farid Okbah selain pendakwah dan pejuang agama, juga dikenal penulis buku. Kelas III SMP tahun 1973, ia telah ditinggal bapaknya. Otomatis pengganti bapaknya, ia menanggung ibu dan empat adik-adiknya, juga tiga saudara dari ibunya.

Masa itu, ia diterpa kehidupan yang keras dan menantang. Sambil sekolah,  ia bekerja untuk keluarga. Bekerja di bengkel, berjualan es, buat sepatu bola, dan bahkan bekerja buat mercon di industri rumah tangga. Sama dengan anak lainnya, ia hobi main bola dan hujan-hujanan.

Mengenal Islam sudah dirintis sejak masih sekolah. Ia juga mendalami agama melalui kajian-kajian Islam dari berbagai ustaz di masjid lingkungan rumah di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Corak keislamannya beragam. Keluarganya Al-Irsyad, pamannya Persis, lingkungan rumahnya NU, sekolahnya Muhammadiyah, gurunya habaib dan masyayik, dan dilengkapi tetangganya ada Syiah.

Cikap bakalnya mengenal dunia luar, tatkala ia merantau ke Jakarta pada tahun 1982. Iku tes di Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) Jakarta tapi gagal. Setelah ditelusuri, ternyata ia lulus dengan nilai bagus, masuklah ia langsung semester 4, dan mampu menyelesaikan kuliah 1,5 tahun.

BACA JUGA  Sejarah Peringatan Malam Nisfu Sya'ban

Jadi sarjana, ia balik kampung membantu ustaz di sana mengajar agama dan mendirikan pondok pesantren di Bangil. Setelah santrinya 14 ribuan itu, ia dipanggil almamaternya untuk bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Arab (LIPIA) ganti nama LPBA.

Selanjutnya, ia merantau ke Australia, dan bekerja. Siang bekerja, malam harinya kuliah lagi. Lengkap sudah jenjang pendidikannya, S-1 Pendidikan Islam tahun 2000, S-2 Politik Islam di PT Al Aqidah Jakarta tahun 2002 dan kursus-kursus lainnya.

Sejak itu, ia banyak berdakwah di pelosok Tanah Air mulai dari Aceh hingga Indonesia Timur, dan juga berbagai negara di luar negeri, sampai ia menjadi anggota Persatuan Ulama Dunia bermarkas di Qatar. Hobi menulisnya tersalurkan, saat di penjara Polda Metro Jaya. Ustaz Farid tak mau melewatkan momentum bersejarah selama dakwahnya. Di sela-sela ibadahnya, ia menuliskan kisahnya mulai dari hari pertama masuk jeruji besi.

Selama di penjara, ia tidak banyak mengeluh atau menyesal. Aktivitas ibadahnya justru semakin meningkat, dibandingkan saat ia berada di alam bebas dengan segudang aktivitas dakwah dan terakhir partainya.

“Tapi Alhamdulillah, dari hari pertama sampai ketujuh ini, saya diperlakukan dengan baik, bahkan diperhatikan khusus. Pakaian, makanan, ibada semua nyaman. Anggap saja lagi iktikaf. Cuman sepesialnya dikawal polisi sampai depan kamar mandi. Saya kira sudah melebihi presiden, ha.. ha….,” tutur Ustaz Farid.

Dalam bukunya yang penuh nasehat, ia berpesan, tidak ada manusia yang hidup tidak terkena musibah, karena itu adalah sunnatullah dalam kehidupan.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah: 155).

BACA JUGA  Mengenal Hukum Adat Ambon - Lease

Maksudnya, kata dia, agar orang beriman itu mempunyai karakter sabar, tidak mudah mengeluh, karena ujian terberat itu para nabi. “… Sesungguhnya manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang mengikutinya, kemudia orang-orang yang mengikuti mereka….” (HR An-Nasai).

Ustaz Farid mengakui ujian saat ditangkap Densus 88 dengan tuduhan tidak tanggung-tanggung terorisme, mengerikan. Ia menjalani dengan syar’i dan konstitusional, dan berharap Allah SWT melepaskannya dari tuduhan yang berat itu. Menurut dia, ini hanya salah faham saja.

Ujian dan cobaan terberat bagi manusia bukan ujian keburukan (musibah) dan ujian kesenangan. Tapi, menurut salafus shaleh, semua musibah itu kecil selama tidak menimpa agama. Bila menimpa agama itulah musibah yang sebenarnya.

Rasulullah SAW memberikan panduan, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur, itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Selama ditahan Densus 88, ia diperlakukan dengan baik bahkan dibelikan kebutuhan pakaian untuk beberapa hari. Ibadah lancar, bahkan bisa khatam Alquran tiga hari sekali yang selama ini belum bisa karena kesibukan.

“Jadi, kalau ingin jadi orang shaleh biar ditangkap Densus 88, ha.. ha..,” tulis Ustaz Farid di akhir pengantar bukunya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button