PENDIDIKAN

Inilah Ayat Alquran yang Membuat Umar bin Khattab Masuk Islam

MAKLUMATNEWS.com — Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa yang menurutnya telah memporak-porandakan tradisi.

Wajah yang memerah, langkah terburu dengan pedang terhunus membuat orang yang berpapasan, tahu persis Umar dilanda amarah dan akan menyelesaikan dengan kekerasan.

“Mau ke mana engkau,” tanya Nu’aim bin Abdullah saat berpapasan dengan Umar.

“Aku mau membunuh Muhammad.”

Ada keterkejutan saat Nu’aim mendengar tujuan Umar. Nama yang akan Umar bunuh kini telah menjadi orang yang paling ia cintai. Nu’aim rela berkorban apa saja demi melindunginya. Tapi melawan Umar sendirian sama dengan menyerahkan nyawa. Sesaat setelah memutar otak, Nu’aim mengingatkan Umar dengan tradisi Makkah.

“Kalau engkau membunuh Muhammad, apakah engkau siap menghadapi pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zaharh?” Umar tak menduga mendapat pertanyaan itu. Ya, di Makkah memang berlaku tradisi, siapa yang membunuh anggota kabilah, kabilah tersebut akan menuntut balas.

“Apa engkau juga sudah meninggalkan agama nenek moyang hingga membela Muhammad?”
“Bahkan adik perempuan dan iparmu juga sudah meninggalkan agama nenek moyang kita.”

Mendengar itu, harga diri Umar terusik. Ia merasa kehormatannya bisa dipermalukan Quraisy jika membiarkan keluarganya menjadi pengikut Muhammad, orang yang akan dibunuhnya.

Umar membelokkan langkah. Tidak jadi mencari Rasulullah, tapi kini menuju rumah adiknya, Fatimah.

Sebelum sampai di pintu, Umar sudah mendengar lamat-laman bacaan Al Qur’an.

“Bacaan apa yang barusan aku dengar?” Umar langsung masuk. Saat itu Fatimah dan suaminya, Sa’id bin Zaid, sedang belajar dari Khabab bin Al Art. Untungnya Khabab bergerak lebih cepat. Ia menyelinap ke bagian belakang rumah. Namun Fatimah tak sempat menyembunyikah shahifah (lembaran Al Quran) yang bertuliskan Surat Thaha.

“Tidak, hanya sekedar perbincangan di antara kami.”
Umar tak percaya. Ia yakin tadi mendengar suatu bacaan yang tak biasa. “Tampaknya kalian sudah mengikuti agama Muhammad.”

BACA JUGA  Gubernur Sumsel Herman Deru Puji Stisipol Candradimuka Tetap Survive Karena Kepercayaan Masyarakat

“Wahai Umar, bagaimana jika kebenaran itu ada pada agama selain agamamu?” Pertanyaan Sa’id membuat Umar marah. Ia menendangnya dengan keras hingga iparnya itu jatuh. Saat Umar melayangkan pukulan, Fatimah yang hendak menyelamatkan suaminya terkena pukulan itu hingga wajahnya berdarah.

Umar menyesal pukulannya bersarang di wajah adiknya hingga berdarah. “Berikan kitab yang tadi kalian baca.”

“Sesungguhnya engkau najis dan tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci,” kata Fatimah. Mandilah dulu jika ingin menyentuhnya.”

Umar menurut. Ia pun mandi. Air membersihkan kotoran di badannya. Air juga memadamkan kemarahannya.

Setelah mandi, ia baca shahifah tersebut. Baru membaca basmalah, Umar sudah terkesima dengan kalimat thayyibah  itu. “Sungguh nama-nama yang suci dan indah.”

Ia baca Surat Thaha di shahifah. Ketika sampai pada ayat 14 yang artinya :

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Hati Umar bergetar. Inilah ayat yang membuat benih-benih keimanan dalam diri Umar bersemi. Inilah ayat yang membuat Umar masuk Islam. “Alangkah indah dan mulianya kalam ini. Kalau begitu, antarkan aku menghadap Muhammad.”

Telah lama Rasulullah mendoakan Umar. Beliau menyadari bahwa perjuangan Islam perlu dikuatkan dengan hadirnya orang-orang kuat. Maka beliau berdoa: “Ya Allah, kokohkanlah Islam ini dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam.”

Keduanya adalah tokoh yang memiliki pengaruh. Keduanya adalah orang kuat. Nama keduanya sama-sama terdiri dari huruf ‘ainmim dan ra’. Amr bin Hisyam adalah Abu Jahal. Dan Allah lebih mencintai Umar daripada Abu Jahal.

BACA JUGA  FISIP UIN Raden Fatah Gelar Worskhop

Sebenarnya, dalam hati Umar sudah ada benih-benih iman saat mendengar Rasulullah membaca Surat Al Haqqah dalam shalatnya di Ka’bah. Namun fanatisme jahiliyah masih menghalanginya untuk masuk Islam.

Setelah membaca Surat Thaha ayat 14, Umar yang tadinya berangkat dari rumah untuk membunuh Rasulullah, kini datang menghadap Rasulullah untuk bersyahadat.

Kedatangan Umar sempat mengejutkan para sahabat yang tengah berkumpul di rumah Arqam bin Abi Arqam. Mereka menghunus pedang, siap bersama-sama membabat Umar.

“Biarkan dia masuk,” kata Hamzah. “Kalau niatnya baik, kita terima dengan baik. Kalau niatnya jahat, pedangnya sendiri yang akan mengakhiri hidupnya.”

Para sahabat yang tadinya terkejut dengan kedatangan Umar, kini lebih terkejut lagi. Sebab Umar datang untuk bersyahadat. Umar masuk Islam.

Takbir pun menggema. Dan hari itu babak baru bermula. Dakwah Islam memasuki fase jahriyatud da’wah wa jahriyatut tanzhim.

Keputusan Umar pun membuat dirinya sempat dikucilkan, mengingat, dahulu dia merupakan orang yang antipati terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Umar pun ikut bersama Rasulullah hingga beliau wafat, bahkan dirinya syok atas kepergian Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya beberapa orang munafik menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat. Sesungguhnya dia tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya, seperti dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya. Demi Allah dia benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa dia wafat, kaki dan tangannya akan ku potong,” ucap Umar.

Sementara itu, ketika Umar bin Khattab wafat, maka dia dimakamkan satu lokasi pemakaman dengan Rasulullah yakni bersebelahan dengan makam sahabat Abubakar Ash Shiddiq yang berada disamping makam Nabi Muhammad SAW, yang sampai saat ini dapat dilihat diziarahi oleh umat islam ketika berxziarah ke Masjid Nabawi di Madinah al Munawwaroh. [Berbagai sumber]

 

Editor : Aspani Yasland

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button