OPINI

Mudik lah, Jangan Tunda Selagi Kau Sehat dan Mampu

oleh Aminuddin / Pemerhati Keislaman

MAKLUMATNEWS.com, PALEMBANG — KENDATI, lewat kemajuan teknologi, kita bisa me lakukan video call dengan orang yang kita cintai dan rindukan, tapi belum puas dan leganya hati ini jika bisa bertemu muka langsung.

Karena selain bisa menumpahkan rasa rindu yang sudah lama tersimpan, antara kita dan orang yang kita rindukan itu bisa saling curhat, berbagi rasa dan bersilaturahmi.

Inilah agaknya yang melatar belakangi kenapa sebagian besar kita ingin melakukan mudik le baran. Setahun tidak bersua terasa bertahun-tahun lamanya.

Mum pung kita masih hidup dan tetap sehat hingga saat ini, kenapa mesti ditunda hingga tahun depan.

Semangat Fitrah

Jika ditelaah lebih dalam, ada makna yang sa ngat mendalam dari tradisi mudik ini, yakni semangat “kembali ke asal” (fitrah).

Secara psikologis, “udik” (kampung halaman) adalah tempat, ruang dan waktu yang masih murni, bersih, religius, dan belum dikotori oleh polusi peradaban materialis kota.

Ketika mudik kita akan merasakan kedamaian suasana udik, kampung halaman asal kita, jauh dari “kejamnya” kehidupan di kota.

Kota adalah tempat kerja, mencari uang, menge jar cita-cita duniawi, berupa kekayaan ataupun popularitas dan jabatan.

Ketika semua diperoleh, “udik” memanggilnya untuk memberikan kedamaian dan ketenangan.

Penceramah, Ustadz Abdul Somad men jelaskan, tujuan mudik atau pun meraya kan hari raya Idul Fitri di kampung hala man tidak lain untuk menyambung tali silaturahmi.

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim.” (HR. Bukhari, Muslim).

Menurutnya, tidak ada yang lebih baik selain menyenangkan hati orang beri man. Apalagi, masyarakat perantau yang mencari rezeki dan nafkah di luar daerah nya, kemudian membawa hadiah ke kampung halamannya untuk menyenangkan orang lain.

BACA JUGA  Budaya Malu dan Budaya Bersalah

“Saling berbagi hadiahlah kamu, maka kamu akan berkasih sayang,” kata dia di kanal YouTube VDVC religi, dikutip Selasa (19/4/2022).

Asalkan, lanjut pria 44 tahun ini, hadiah tersebut diberikan dari hasil yang baik, dan tidak bersumber dari yang haram. Maka diperbolehkan hadiah tersebut untuk dimakan dan dipakai.

“Tapi jangan terlampau berlebih-lebihan dan tidak untuk kesombongan. Terlebih tujuannya untuk menyambung tali silaturahmi, maka akan sangat baik,” katanya.

Selain itu, dengan silaturahmi atau bertemunya dua orang muslimin yang saling berjabat tangan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, bahkan sebelum mereka berpisah.

Rindu kepada Allah SWT

Mudik sebenarnya mencerminkan kerinduan kita, manusia, yang luar biasa pada asal- muasalnya. Karena asal-muasal kita yang hakiki adalah Allah SWT, maka mudik ini sebenarnya merupakan se buah bentuk kecil dari kerinduan kita yang luar biasa kepada-Nya.

Dengan mudik, kita sudah merasakan keindahan kembali ke tempat asal (kampung halaman). De mikian pula “mudik” kepada fitrah, yakni iman-Islam, jiwa tauhid, atau syariat Islam sebagai pedoman hidup.

Islam adalah “kampung halaman” kita, tempat kita menikmati dan menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah SWT.

Semoga perjuangan berat menuju mudik, kita lakukan pula dengan ikhlas untuk “mudik abadi” menuju alam akhirat, asal-musal kita, yakni Allah SWT.

Jika untuk mudik ke kampung halaman kita rela berkorban apa saja, maka demikian pula hen daknya ketika kita “mudik” ke hadirat Allah SWT kelak.

Kita harus rela berkorban jiwa dan harta, tenaga dan pikiran, demi tegaknya syariat Islam, agar saat kita “mudik” ke tempat asal kita, yang memiliki kita, yakni Allah Swt, kita diterima di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

BACA JUGA  Asas Kerakyatan dan Musyawarah Di lingkungan Masyarakat Adat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button