Kisah Bulu Ayam
MAKLUMATNEWS.com — Pada suatu kesempatan, seorang kyai sedang menyampaikan ilmu kepada para santrinya. Setelah ilmu selesai disampaikan, seorang santri mengacungkan tangannya hendak bertanya, lantas kyai tersebut mempersilakannya untuk bicara.
“Guru…. saya ingin tahu bahaya ghibah itu seperti apa. Bisakah guru memberikan gambaran yang mudah dan jelas tentang hal ini?
Kyai berpikir sejenak, kemudian menjawab.
“Ambillah olehmu seekor ayam yang sudah mati. Cabutilah olehmu seluruh bulunya dan hitung olehmu berapa jumlahnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, tebarkanlah beberapa helai bulunya di jalan yang kau lalui itu sampai habis. Setelah itu kumpulkan kembali bulu-bulu ayam itu besok pagi dan temuilah aku.”
Santri itupun mengangguk tanda mengerti. Lalu , diperbuatlah olehnya seperti yang diperintah oleh gurunya tersebut. Dicarilah seekor ayam yang sudah mati, lalu dicabutilah bulunya.
Setelah itu ia menghitung berapa jumlah bulu yang berhasil diperolehnya. Dalam perjalanan pulang, ditebarkanlah beberapa helai bulu ayam itu disepanjang jalan yang dilaluinya.
Setelah pagi datang, iapun bergegas mempersiapkan diri untuk menemui sang guru. Dengan melewati jalan yang sama, ia mengumpulkan bulu-bulu ayam yang kemaren ia tebarkan disepanjang jalan yang dilaluinya.
Tapi, sungguh susah ia melakukannya karena sebagian dari bulu-bulu ayam itu sudah terbang hilang entah kemana.
Sesampainya ia di kediaman sang guru, jumlah bulu ayam yang berhasil dikumpulkannya tidak sesuai dengan jumlah awalnya, berkurang hampir dua pertiganya.
“Nah, muridku, bagaimana keadaanmu hari ini? Dapatkah engkau mengumpulkan seluruh bulu ayam yang kau tebarkan itu?”
Santri ini menggelengkan kepalanya, lalu bertanya apa hikmahnya, sang kyai menjawab.
“Sesungguhnya begitulah ghibah itu. Walaupun engkau sudah menarik kembali ghibah itu dari lidahmu, tapi engkau tidak dapat menghapus seluruh pengaruh dari ghibah itu. Sama seperti bulu ayam yang telah kau sebarkan kemarin, hari ini engkau tidak dapat mengumpulkan seluruhnya. Karena dua pertiga dari bulu-bulu ayam itu sudah hilang terbawa angin entah kemana”
Ghibah (bergunjing keburukan orang lain) itu sifatnya cepat menyebar dan sulit menemukan siapa yang memulai terlebih dahulu dalam berghibah.
Dalam QS Al-Hujarat 12 yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.
Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Rasulullah ketika melewati sebuah kuburan berkata:
“Sungguh penghuni dua kuburan ini sedang disiksa dan keduanya disiksa bukan karena mengerjakan dosa besar, adapun salah satunya ia suka menggunjing dan yang kedua diazab karena tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya”
Lalu Rasulullah SAW meminta pelepah korma dan beliau menancapkan diatas 2 kuburan itu.
Kemudian berkata, “Semoga pelepah korma ini dapat meringankan siksanya sampai kering” (HR Bukhari dan Muslim)
MENEPIS GHIBAH
Diriwayatkan dari Abu Darda bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menghindarkan (tuduhan) tentang kehormatan saudaranya, niscaya itu akan menjadi pelindung baginya dari api neraka”
“Barangsiapa yang menghindarkan (tuduhan) tentang kehormatan saudaranya, niscaya Allah menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat”
Diriwayatkan dari Asma binti Yazid bahwa Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang mempertahankan kehormatan saudaranya yang terkena ghibah (gunjingan), pasti Allah akan membebaskan nya dari api neraka.
Diriwayatkan dari Sahl bin Muadz bin Anal Aljauhari dari ayahnya, dari nabi…
“Barangsiapa yang melindungi seorang mukmin dari orang munafik (pengghibah) yang ia ketahui. niscaya Allah mengutus seorang malaikat untuk melindungi dagingnya dari api neraka pada hari kiamat.Barangsiapa yang melontarkan suatu (tuduhan)
kepada seorang muslim dengan maksud untuk mencela orang muslim itu, niscaya Allah menghentikan nya diatas jembatan jahanam sehingga ia keluar dari apa yang ia tuduhkan
Umar bin Dinar berkata :
“Ada seorang laki-laki dari penduduk madinah yang saudara perempuannya meninggal dunia, lalu ia dikuburkan,
kemudian setelah kembali ia teringat bahwa barangnya ikut tertanam dalam kubur, lalu ia meminta sahabatnya untuk menemaninya, Kamipun menggali kuburnya dan kami dapatkan barang tersebut.”
Laki-laki itu berkata ; “Saya akan melihat keadaan saudara perempuan saya”, maka ia mengangkat sedikit kafannya, tiba-tiba menyemburlah api.
Ia kemudian menutupi dan menguburkannya kembali, Sesampainya dirumah ia bertanya pada ibunya,
“Wahai ibu, bagaimana sebenarnya saudariku semasa hidupnya?”. Ibunya merasa heran dengan pertanyaannya, “Mengapa engkau tanyakan hal tersebut? ia telah meninggal dunia”.
Namun anak laki-lakinya terus bertanya “Wahai ibu, bagaimana sebenarnya saudariku itu?”
Akhirnya ibunya menceritakan, “Dahulu ia sering mengakhirkan shalat, dan pergi kerumah tetangga, menggunjing dirumah mereka dan menyebarkan rahasia-rahasianya.”
Saudari muslimah, sekarang kita telah lihat balasan bagi wanita ini yang mengakhirkan waktu shalat, Ghibah (menggunjing ) serta menyebarkan aib mereka. Sungguh kubur telah berubah menjadi neraka jahanam.
Dari sini kita bisa melihat akibat yang ditimbulkan dari ghibah, baik terhadap orang yang kena ghibah maupun oleh pengghibah itu sendiri. Naudzubillahiminzalik…
Kisah bulu ayam dan orang yang memiliki hobi gibah namun ingin bertobat juga diceritakan oleh Ustadzah Oki Setiana Dewi
Dalam sebuah video ceramah yang diunggah akun TikToknya sendiri bernama @okisetianadewi13 yang berasal dari cuplikan ceramahnya dari program Cahaya Pagi Trans 7 dan dikutip MAKLUMATNEWS.com dari pikiran-rakyat.com, Ustadzah Oki mengisahkan ada seseorang yang memiliki kegemaran suka menggunjing orang lain namun menyesali perbuatannya.
Orang tersebut kemudian bermaksud meminta maaf kepada orang yang pernah digunjingkannya.
Dia lantas mendatangi orang tersebut. Sang penggibah kemudian mengutarakan maksud kedatangannya.
Jawaban dari orang tersebut sungguh tak diduganya. Dia diminta untuk membeli sebuah kemoceng ke pasar.
Walaupun dengan penuh tanda tanya, si penggibah lantas melaksanakan permintaan orang tersebut.
“Tapi dia lakukan saja, dan disebar-sebarkannya,” ucap OKI.
Setelah berhasil membeli kemoceng tersebut, si penggibah datang lagi menemui orang tadi dan menyerahkan kemoceng itu.
Namun orang itu memintanya mencabut kemoceng atau bulu ayam itu kemudian menyebarkan bulu-bulunya hingga ke berbagai arah.
Penggibah itu kemudian datang lagi dan menyampaikan bahwa dia telah melakukan tugasnya. Namun sang penggibah diminta untuk memungut kembali bulu ayam yang telah tersebar tak tentu arah tadi.
Tentu saja sang penggibah tak mampu melakukannya karena bulu ayam yang ringan telah tertiup angin entah kemana.
“Bagaimana caranya saya bisa pungut, bagaimana caranya saya bisa ambil, itu sudah tersebar kemana-mana bulu ayam itu,” kata ustazah Oki menirukan jawaban si penggibah.
Lantas apa yang dikatakan oleh orang yang digunjingkan itu?
“Begitulah ketika kau menjelek-jelekan nama saya. Kau menjelekan pada si A, si B, si C, dan berita itu tersebar kemana-mana dan tidak tahu lagi sampai dimana berita itu,” ungkap ustadzah Oki.
Ustadzah yang pernah memerankan Film Ketika Cinta Bertasbih ini mengatakan, hikmah dari kisah itu adalah agar kita semua lebih berhati-hati menjaga lisan.
Karena, kata Ustadzah Oki, bisa saja kita hanya bercerita pada satu orang namun orang tersebut membicarakan kepada orang lain begitu seterusnya hingga menyebar.
“Kita mungkin hanya menjelekkan dia pada satu orang, tapi orang ini mungkin tidak aman. kemudian dia menjelekkan lagi, menjelekkan lagi..sampai satu kampung, sampai satu tempat, dosanya luar biasa,” tuturnya.
Lantas bagaimana kalau sudah terlanjur seperti itu? Ustadzah Oki mengatakan tak ada cara lain selain mengganti dengan kalimat yang baik untuk membersihkan nama orang yang telah digunjingkan.
“Setelah itu bertobat kepada Allah Subhanahuwataallah. Begitu caranya,”
“Jadi sebelum menjelek-jelekkan orang lain, sebelum mengambil harta orang lain, coba mikir dulu nih, masalahnya nanti di hari akhir, dia bisa menuntut kita,’ ungkapnya lagi.
Dan yang paling menyedihkan, kata Ustadzah Oki, adalah orang itu bisa menuntut kita di hadapan Allah agar membalas kezoliman yang pernah dilakukan terhadapnya.(Berbagai sumber)
Editor : Aspani Yasland