OPINIPENDIDIKAN

Modal Histori Dalam  (RE) Aktualitas Jati Diri Sumatera Selatan : Sebuah Catatan

Oleh: Dr. Dedi Irwanto, M.A.

Dosen FKIP Universitas Sriwijaya dan Penggiat Sejarah Sumatra Selatan

MAKLUMATNEWS.com, PALEMBANG — Siapakita? JATIDIRI  berkenaan dengan kata viral saatini: “Siapakita? Indonesia”. Maka kalau ditanyakan “Siapakita? Sumatra Selatan”. Apajawabannya? Menjadi Sumatra Selatan adalah kebanggaan sekaligus beban. Kenapa? Sumatra Selatan identik dengan Palembang. Dari mana pun daerah asal kita. Jika sudah diluar disebut “Wong Plembang”. Kenapa?Dalam framehistoris, Sumatra Selatan “kata baru”, dibandingkan “kata” Palembang yang jauhlebih “tua”. Masa lalutidakpernahdisebut Sumatra Selatan.

Sumatra Selatan barumunculsecararesmisekitarawalsampaipertengahanabad ke-20. Belanda yang memulaipenyebutannya. Pernah pada tahun 1931 yang dirintissejak 1916, PemerintahKolonial Belanda berusahamembentukProvinsi Zuid Sumatra (Sumatra Selatan) menggabungkandaerah Palembang, Jambi, Lampung, Bengkulu dan Babel. Namungagal. Sejakawal Sumatra Selatan disebutsebagaiKesultanan Palembang dan Keresidenan Palembang. Artinya, seluruh wilayah Sumatra Selatan disebut Palembang. Oleh sebabnyatakmengherankan, Sumatra Selatan lebihdikenalsebagai Palembang atau Negeri Palembang, budak (anakmudo) Palembang.

Tahun 1946, tepat 15 Mei yang menjadipatokan HUT Sumatra Selatan. Sumatra Selatan dijadikan sub provinsidibawahProvinsi Sumatra. Sub Provinsi Sumatra Selatan meliputiKeresiden Palembang, Lampung, Bengkulu dan Babel. PemimpinnyadisebutGubernur Muda, pertama dr. AK Gani (Mei-Agustus 1946), kedua dr. M. Isa (1946-1948), ketiga dr. AK Gani lagi (DMI SS, setelahAgresi II Belanda-17 Des 49), Keempat Kembali lagike dr. M. Isa (1949- 17 Agustus 1950, pembentukanProvinsi Sumatra Selatan 15 April 1948 (UU No. 10/48, pemekarandari Prov. Sumatra,  RISdibubarkan 1950, UU 3/50 (10/Mar/50 Pembentukan Prov. SS -1953), Kelima, Gubernur R. WinarnoDanuatmodjo (Des 1953).

Kembali kenarasikenapamenjadi Sumatra Selatan adalahkebanggaansekaligusbeban? Pertama, kenapa “beban” karenastereotifWong Plembangselalubersisinegatif “di luar”, “berdarahpanas/mlawan/jagoan”, “identikcuranmor”, “tukangrusakanak gadis”, dan lain-lain. Selanjutnya, kenapaharus “bangga” karenastereotifWong Plembangjugaselalumemilikisisipositif “di luar”, “royal”, “blagak/tampan/cantik”, “parlente/necis”, dan lain-lain. Kenapaadaduasisiambiguini? Sisi positifdisebabkankemakmuranekonomi yang luarbiasa di negeri Palembang. Sisi negatiftidaklepasdariada dan munculnyaberbagai masa transisi di Palembang.

BACA JUGA  Diknas Sumsel Minta Siswa Yang Terindikasi Gejala Covid Belajar Daring

Jati Diri Makmur “Wong Plembang”

Kenapa kita Makmur? Pertama, membayangkan masa lalu Palembang tidakseperti masa kini. Sebelumabad 20. Negeri Palembang terpetakansecarageografis oleh berbagaisungai yang memanjang. Sungai inisatu-satunyasaranatransprotasi dan penghubungantardaerah. Sungai membentukkesatuansuku-sukusebagailandasan wilayah genealogis di Sumatra Selatan. Sungai juga sekaliguspemisahantar wilayah. Sehingga ,contohnya di masa itumasyarakatsukuKomering di Martapura, tidakmudahberhubungandenganmasyarakatsuku Musi di Sekayu. Jadi masyarakatkita, Sumatra Selatan, terpisahkan dan membentukkesatuan wilayah secaragenealogis. Awalnyaperkawinansilang (eksogami) antarsukusulitdilakukan.  Kita di Sumatra Selatan, mengental di masing-masing suku. Pada waktuitu, inikeuntungankarenakitamencobamandiri masing-masing. Membentukkesatuanotonomterkecildalamkonsepmarga. Marga carakitamengaturdiri masing-masing. Marga inibentukasli system pemerintah, adat dan budaya di Sumatra Selatan. Kenapaasli, memang pada abad ke-17 istilahinimengadopsi kata sankrit “varga”. Namunsebelumnyaistilahini identic dengan kata lokal, Melayukuno, seperti “margga” di dalamprasasti Talang Tuwo, “Marsi-haji” dan “Hulun-haji” dalamprasasti Telaga Batu, atau “gotrasantana”dalamprasasti Kota Kapur. Namunsemuamengacu pada maknakesatuan wilayah yang menyerupaimargaini. Kenapaberbeda, kemungkinankarenaawalnyapenyebutanmargaitutidaktunggal di masing-masing wilayah Sumatra Selatan, sepertimarga, kebuwaian, sumbayataupetulai.

Lalu apauntungnyakitahidupmandiridalam wilayah margatersebut? Karena munculekonomikemakmuran di masing-masing marga,  0tonomi ni menyebabkan marga menciptakan berbagai kegiatan ekonomi mandiri dan kreatif. Misalnya masyarakat marga diberi hak luas atas tanah, bisa mengelola tanah untuk pertanian ditanami segala rempah dan tanaman substansif (masa prakolonial) dan tanaman komersial macam karet dan sawit (masa kolonial), serta menyangkut kepentingan bersama sepertilebak-lebung, hasilhutan, dll dikelola marga untuk kepentingan masyarakatnya. Perdagangan dan ekonomi uang secarameratatumbuhberkembang di marga. Pergolakanperdagangan di marga-margauluanbermuara di/keibukota, Palembang. Maka Sumatra Selatan munculsebagai negeri para pedagang. Setiapkekuasaanbesardibangunatasperdagangan.

Hubunganperdagangandenganluarmenyebabmunculnyaapa yang disebut Hasbullah (1996) dalambukuMamang dan Belanda: Goresan-goresan Wajah Sosial Ekonomi dan Kenedudukan Sumatera Selatan Zaman Kolonial dan Refeleksinya Hari Ini sebagai “outward looking” (pandangankeluar). Orang asingdihargai, sehinggakomunitas Arab, Cina dan Timur Asing sertasuku di Nusantara lainnyatentrammenetap di Negeri Palembang. sekaligus “inward looking” Ketika berhubungankedalam, tanpaadasegregasikesukuan, Negeri Palembang zero conflict.

BACA JUGA  FKIP Unsri Kuatkan  Masukan Materi Marga  Dalam  Sistem Pemerintahan Dalam RUU Provinsi Sumsel

Simbiosismutualismemunculantarmasyarakat, marga-marga di ulu sebagaisumberkomoditas, ilirpemasarkomoditas. Kemakmuran Bersama berkembangdalambentuk “oedjan mas” di seluruh Negeri Palembang. Manusia Palembang bisamunculdalambentuk “royal”, “parlente” dan “blagak/cindonian”.Kelebihaninidinikmatimisalkalau yang kuliah era 1950-1970-an di Yogyakarta denganstereotif “perusakanak gadis”, pacaranakrab di sana, namundisuruhpulangkarenadijodohkan di uluan.

Namunkemakmuranekonomiini juga inimemunculkanberbagai masa transisi, terutama di masa kolonial. Pengelanadarimasyarakatdusun di marga-margauluanmigrasipermanenataupunmenetap di Kota Palembang. Kebanyakanmerekatanpa skill, bekerjaserabutanataumenempu “jalanpintas”, bersisinegatifmenjadi “centeng, jagoan” di toko-toko, ataumohonmaaf “halusnyamlawan/ngagangi, kasarnyapemalak” di kota. Karena merekaberbudayabaru, budayawongkota yang cenderungbebas, karenaterlepasdariakarnyaaturanmarga di dusun-dusunmereka. Stereotifinimakindipertegas, ketikahapusnyamarga di uluan Sumatra Selatan.

Perlindunganmargaatashakkepemilikantanahmasyarakat ulu mulaitercerabut. Perusahaan-perusahaanperkebunan (baca PT) banyak yang membeli, kalautidak “merampas” tanah-tanahmereka. Semakinkesini, semakinbanyakmerekamenjadipengangurandalamdusunnyasendiri. Akibatnya, selainmembanjiri Kota Palembang, banyak juga muncul “preman-preman” baru “berbaju” suruhan PT ataupamongdesa “berwajahbaru” penerbit SKT dan penikmat “proyek” yang semakinjauhdengansimbolkebesaran para proatin, pamong zaman marga.

Saat ini, penguasaanekonomibersama dan perdagangan yang menjadi modal historisberimplikasipolitis, ekonomi dan sosbud pada masyarakatterdepan, margasemakinmenukitturuntajam di uluan. Jika halinitidakdiperbaiki, makakitaakansemakinkehilangan modal historiini. Salah satusolusinya, kembalikansistemmarga di Sumatra Selatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button