MOZAIK ISLAM

Kesalahan yang Dilakukan Selepas Shalat

MAKLUMATNEWS.com, Palembang — Salah satunya adalah kesalahan ketika salam dan berjabat tangan.

Bukankah para ulama yang mendalam ilmunya telah menukil tentang berjabat tangan seusai shalat.

Al Izz IBN Abdussalam berkata berjabat tangan sesuai shalat subuh dan ashar merupakan perbuatan bidah.

Kecuali bila orang yang baru datang dalam sebuah majelis, lalu dia mengajak salaman orang lain sebelum shalat dikerjakan.

Sebenarnya berjabat tangan merupakan hal yang disyariatkan ketika seseorang baru datang.

Sedangkan berjabat tangan seusai shalat tidak disyariatkan disebabkan Rasulullah SAW membaca zikir yang telah disyariatkan seusai shalat.

Beliau juga beristighfar sebanyak tiga kali, baru setelah itu menyingkir.

Sebenarnya perbuatan yang dianggap baik itu hanya dengan mengikuti cara yang telah diperbuat oleh Rasulullah SAW..

Jika bidah ini hanya dilakukan pada dua waktu shalat saja yaitu subuh dan ashar, pada zaman sekarang malah dikerjakan di setiap waktu shalat.

Al Kanawi berkata, telah tersebar luas perbuatan perbuatan bidah dan fitnah pada zaman kita sekarang ini di banyak negara.

Yang paling mencolok adalah dua hal yang seyogyanya untuk ditinggalkan.

Pertama, mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk ke masjid pada waktu shalat subuh.

Bahkan mereka langsung masuk begitu saja dan langsung mengerjakan shalat sunnah. Baru melakukan shalat fardhu.

Mereka malah mengucapkan salam kepada sesama mereka seusai shalat. Ini perbuatan buruk.

Sesungguhnya salam itu hanya disunnahkan ketika pertama kali saling jumpa.

Kedua, berjabat tangan seusai mengerjakan shalat subuh dan ashar, setelah shalat dua hari raya dan sholat Jumat.

Al Kanawi berkata lagi, di antara ulama yang melarang berjabat tangan seusai shalat adalah IBN. Hajar Al Haitami, Al Syafei dan Quthbuddin IBN Alauddin Al Makki Al Hanafi.

BACA JUGA  Inilah Doa Memohon Pertolongan Kepada Allah

Sedangkan Al Fadlil Al Rumi menganggap perbuatan bidah yang keji.

Beliau juga berkata, selain itu ulama bermazhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki menganggap perbuatan makruh dan sebagai bidah.

Dikatakan dalam kitab Al Multaqath, berjabat tangan seusai shalat merupakan sesuatu yang dimaksudkan dalam kondisi apapun.

Karena para sahabat tidak pernah berjabat tangan setelah shalat.

Selain itu berjabat tangan seusai shalat termasuk kebiasaan yang dikerjakan oleh orang orang Rafidhah.

Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, IBN Hajar berkata, berjabat tangan yang dikerjakan orang seusai shalat lima waktu merupakan hal yang dimaksudkan.

Karena perbuatan itu tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. (Baca Al Si aayah fii Al Kasyf ammaa fii Syarah Al Wiqaayah, hal. 264 dalam Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman hal. 292).

Simpulan Rahimahullah menjelaskan ini melalui hasil ijtihad sehingga menjatuhkan pilihan bahwa para ulama telah sepakat berjabat tangan seusai shalat itu tidak memiliki dasar syariat yang kuat.

Kemudian para ulama berbeda pendapat apakah dia berhukum makruh ataukah sunnah, maka dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh dikerjakan.

Karena menolak kemudharatan itu lebih diutamakan ketimbang menarik kemaslahatan.

Padahal berjabat tangan seusai shalat disangka oleh orang orang zaman sekarang sebagai sesuatu yang TERPUJI.

Bahkan mereka akan mencela orang yang mencegah perbuatan tersebut.

Dengan dalil dalil yang tidak jelas asalnya, apalagi dengan mengqiaskan pula dengan memperluas hadist hadist padahal bukan orang ahlinya.

Terakhir yang perlu diperingatkan bahwa seorang muslim tidak boleh memotong atau menghentikan tasbih saudaranya sesama muslim kecuali karena ada sebab syar’i.

Padahal banyak kita saksikan dewasa ini, banyak sekali kaum muslimin yang memutuskan dzikir dzikir yang disunnahkan dibaca saudaranya setelah shalat dengan cara mengulurkan tangannya kepada mereka untuk berjabat tangan.

BACA JUGA  Mencintai Saudara Se Iman Karena Allah, Allah pun Mencintaimu

Padahal dengan mengajak mereka berjabat tangan berarti telah memutuskan hubungan tasbih dan dzikir yang sedang dijalin dengan Allah SWT.

Dengan demikian sekarang menjadi jelas mengapa berjabat tangan bisa status nya berubah menjadi sesuatu yang bidah.

Betapa banyak orang yang pandai memberikan mau-idzah dan ahli memberikan nasehat, namun dia tetap mengerjakan kebodohan yang melanggar sunnah.

Oleh karena itu, bagi orang yang berilmu dan para penuntut ilmu harus mengerjakan sesuatu yang baik.

Karena bisa saja orang yang menuntut ilmu ada yang ingin mengingkari sesuatu yang mungkar akan tetapi salah dalam memilih.

Sehingga dia malah terjerumus ke dalam perbuatan mungkar itu sendiri.

Wahai para da’i Islam, cintailah umat muslimin dengan keilmuan akhlak kalian sehingga kalian akan berhasil menguasai hati mereka.

Kalau sudah seperti ini, kalian akan menjumpai mereka selalu membuka telinga dan hati untuk menerima nasehat.

Karena susah menjadi tabiat manusia menghindari hal hal yang kasar dan tidak baik.

Maaf bukan menggurui hanya mencoret kan sedikit hasil bacaan yg rasanya perlu disampaikan, karena dalam masyarakat masih sering kita jumpai. (*/ril)

 

* Kiriman Albar Sentosa Subari, Ketua Pembina Adat Sumsel

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button