CAHAYA RAMADAN

Apakah Puasa Orang Sakit dan Musafir Lebih Afdhal?

Oleh: Albar Sentosa Subari  ( Dosen FH Unsri dan Ketua Pembina Adat Sumsel )

MAKLUMATNEWS.com – Jika seorang musafir atau orang yang sedang sakit tidak menemukan kesulitan dalam berpuasa, maka dibolehkan bagi mereka untuk berpuasa.

Sebaliknya jika mereka merasakan kesulitan, maka keduanya harus berbuka. Dari Anas , dia berkata kami bersama Rasulullah Saw dalam sebuah safar. Di antara kami ada yang tidak berpuasa dan ada pula yang tetap berpuasa. Kemudian, kami singgah di suatu tempat hari yang sangat panas.

Sebagian besar orang yang dapat berteduh adalah mereka yang memiliki pakaian untuk berteduh dengan pakaian nya. Sedangkan beberapa dari kami hanya berlindung dengan tangan dari teriknya matahari. Setelah itu, orang orang yang berpuasa berjatuhan, dikarenakan tubuh mereka yang lemah.

Maka orang orang yang tidak berpuasa segera mendirikan tenda untuk berteduh dan memberi minum hewan tunggangan. Rasulullah Saw pun berkata Hari ini orang orang yang berbuka mendapat pahala. (Al Bukhari 2890 dan Muslim 1119).

Dari Qazaah , dia berkata. Aku mendatangi Abu Sa’id Al Khudri, ketika itu ia sedang dikerumuni orang orang.Saat orang orang sudah bubar, aku berkata kepadanya, Sungguh aku tidak akan menanyakan apa yang telah mereka tanya kan kepada mu.

Kemudian aku bertanya kepadanya tentang hukum berpuasa ketika sedang safar. Abu Sa’id menuturkan, Suatu ketika kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah Saw ke Mekkah, sementara itu kami sedang berpuasa.

Selanjutnya, kami singgah di suatu tempat. Rasulullah Saw berkata, Sesungguhnya kalian telah melemahkan diri di hadapan musuh. Sungguh, berbuka puasa itu akan lebih menguatkan fisik kalian.

Perkataan beliau ini adalah sebuah rukhsash atau keringanan.  Maka dari itu, sebagian kami ada yang berbuka dan sebagian lagi masih berpuasa saat itu. Pada kesempatan lain, kami singgah lagi di tempat yang berbeda.

BACA JUGA  Rasulullah Manusia Paling Bermanfaat

Rasulullah Saw berseru, Sesungguhnya kondisi kalian sekarang akan membuat musuh kalian senang. Sungguh, berbuka puasa itu lebih menguatkan kalian. Oleh karena itu, berbukalah kalian.

Padahal, pada saat itu kami telah mengambil azimah hukum yang semestinya, yakni tetap berpuasa. Maka kamipun berbuka puasa. Akan tetapi, kami juga pernah berpuasa ketika safar bersama Rasulullah Saw setelah itu. (Diriwayatkan oleh Muslim nomor 1120)

Dari Jabir bin Abdullah, Pada tahun penaklukan Makkah, Rasulullah Saw berangkat ke kota itu pada bulan Ramadan. Beliau terus berpuasa hingga tiba di lembah Kuraul Ghamim.

Ketika itu, orang orang masih berpuasa. Kemudian beliau meminta segayung air, lalu beliau mengangkatnya tinggi-tinggi sehingga orang orang dapat melihatnya.

Lalu beliau minum darinya. Setelah itu, ada yang berkata kepada Nabi Muhammad SAW bahwa sebagian orang masih ada yang terus berpuasa. Beliau berkata, Mereka adalah orang orang yang durhaka. Mereka adalah orang orang yang durhaka. (Diriwayatkan oleh Muslim nomor 1114)

Ibnu Khuzaimah berkata dalam Shahihnya III/256. Di dalam riwayat Abu Sa’id disebutkan bahwa beliau Rasulullah Saw mendatangi sebuah kolam yang terbentuk dari air hujan. Hadis ini senada dengan kisah riwayat sebelumnya. Hanya saja dalam riwayat itu disebutkan Aku tidak sama dengan kalian.

Aku berkendaraan, sedangkan kalian berjalan kaki. Kondisi ku lebih mudah dibandingkan dengan kondisi kalian. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya nomor 2022. Hadist inipun dishahihkan oleh Ibnu Hibban. (*)

 

Oleh: Albar Sentosa Subari

Dosen dan Ketua Pembina Adat Sumsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button