OPINI

“Kartini” yang Hampir Terlupakan

Oleh : Albar Sentosa Subari, Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan

 

MAKLUMATNEWS.com, Palembang –TULISAN ini baru tergores di saat duduk menyendiri menanti matahari pagi terbit di ufuk Timur.

Tanpa sadar dalam lamunan tersebut terbayang seorang wanita yang bernama KARTINI, sosok seorang wanita yang hidup di tengah tengah budaya timur yang masih tebal adat istiadat dan kebiasaan nya.

Hampir lima belas referensi yang dapat kita telusuri tentang siapa dan apa kegiatan nya semasa hidup beliau, sebut saja pada tahun 1943, terbit karangan Vierhout, M dengan judul Raden Ajeng Kartini, 1879-1904.Terakhir tulisan ke lima belas oleh Idjah Chodidjah, 1984 berjudul Rintihan Kartini.

Dan banyak lagi buju buku yang masih bisa kita telusuri, misalnya Habis Gelap Timbullah Terang, sudah dicetak sampai ke 11 tahun 1985.

Ada satu buku yang menghimpun surat surat Kartini yang ditulis nya kepada Ny. RM. Abendanon – Mandiri dan suaminya.yang diterbitkan oleh Seri Terjemahan KITLP-LIPI ( perwakilan koninklijk instituut voor Taal, Land en Volkenkunde dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), memuat saling surat surat tersebut lebih kurang 150 surat.

Surat pertama ditulis Kartini tertanggal 13-8-1900. Cerita singkat cukilan dari beberapa sumber.

Cita cita Kartini hendak ke Negeri Belanda yang setelah berteman dengan Abendanon tidak jadi.

Kuat dugaan Abendanon khusus ke Jepara untuk membatalkan niat Kartini tersebut. Namun ternyata Abendanon ke Jepara adalah permintaan yang amat sangat dari Kartini.

Bahwa singkat cerita perkawinan Kartini dengan Bupati Rembang yang diberitakan telah mempunyai 6 anak.

Tragedi berikut harus dialami Kartini sendiri pada saat Kartini menunggu surat keputusan dari pemerintah untuk belajar di Betawi karena tidak jadi ke negeri Belanda.

BACA JUGA  Cerpen Minggu Ini : Anak yang Dermawan

Datanglah lamaran bupati Rembang tadi. Terjadi lah responden antara Kartini dengan Ny. Abendanon. Sembari juga banyak lamaran yang menginginkan Kartini sebagai isterinya.

Namun ada yang ditolak oleh orang tuanya karena beberapa alasan. Akhirnya Kartini jatuh sakit keras, beserta keluarga nya yang lain.

Di sisi lain Kartini masih memikirkan kesehatan ayahnya yang kerap kali sakit dan emosinya harus dijaga, jangan sampai menanggung beban batin.

Akhirnya dengan syarat tertentu sesuai dengan cita cita nya akan kemajuan bangsa nya dalam bidang pendidikan Kartini tunduk pada keinginan orang tua nya.

Sehubungan dengan itu ayah nya menulis surat kepada Abendanon bahwa dia memang tidak keberatan anak anak perempuan nya yang tua melanjutkan sekolah, tetapi kalau ada pasangan yang cocok bagi mereka, dia lebih suka anak anaknya kawin.

Pada hari hari putus harapan, penderitaan jiwa dan pergulatan itu Kartini mengeluh tidak tahan memikul beban batin itu dan menanyakan apakah obat tidur yang mujarab?

Pakaian yang akan dikenakan pada hari perkawinan disebut Roekmini Jain kafan. Dengan sikap demikianlah gadis gadis itu menerima nasib perkawinan.

Menurut paham modern prinsip tidak mengenal kompromi, tetapi dalam latar belakang sosial budaya zaman Kartini, bakti dan kepatuhan kepada orang tua mengatasi segala galanya.

Sehubungan dengan penyerahan diri ini salah satu tabiat khas Kartini juga menurut pengakuannya sejak kecil akrab dengan penderitaan ialah orang harus mencari semua bagian yang terang: apabila tidak ada, maka yang gelap itu agak digosok; itulah seninya agar dapat hidup dengan gembira. (Terbitlah diangkat Menjadi judul buku Habis Gelap Timbullah Terang).

Maka setelah perkawinan yang sangat sederhana dan di sana sini menyimpang dari upacara tradisional dilangsungkan dan Kartini pindah ke Rembang, dia berdamai dengan nasibnya dan berusaha sekuat tenaga mencari titik titik terang dan menggosok gosok yang gelap.

BACA JUGA  Korelasi antara Strategi dengan Faktor Emosional

Dengan perjuangan Kartini itu semakin hari semakin sadar orang tua saat itu dengan membuka seluas-luasnya pintu pendidikan bagi putrinya.

Kartini tidak pernah bermimpi bahwa surat surat akan tersebar luas di dunia dan Hindia Belanda pada khususnya.

Mudah mudahan artikel ini menjadi inspirasi kita bersama untuk masa depan sehingga tidak akan ada Kartini Kartini lagi seperti dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button