DI KONTEN

Aneh, Masih Ada Larangan Jilbab di Palembang Darussalam

638
ramadan oki

 

 

MAKLUMATNEWS.com — Dalil dan ayat Alquran sudah jelas menggariskan bahwa  wajib hukumnya perempuan untuk berjilbab dan dilarang perempuan untuk membuka auratnya kecuali pada orang-orang muhrimnya.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

 

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)

Ayat ini secara eksplisit menjelaskan bahwa wanita harus mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh. Artinya adalah berkewajiban untuk menggunakan kain yang menutupi tubuh dan auratnya sehingga tidak terlihat.

Untuk itu, bagaimanapun seorang perempuan yang sudah baligh harus menutupi auratnya dan tubuhnya. Apalagi, hal ini ditambah dengan berbagai penelitian bahwa hampir seluruh tubuh wanita memiliki keindahan dan dapat menarik hasrat seksual bagi lawan jenis.

 

Kemudian di dalam QS Al A’raf : 26 dijelaskan pula

 

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

 

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raf :26)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia untuk menutup aurat. Perintah ini sudah diberikan sejak Nabi Adam Alaihissalam ada dan artinya memang secara fitra manusia diperintahkan untuk melakukan hal tersebut sejak ia ada.

Perintah menutup aurat bukan hanya pada saaat Nabi Muhammad melainkan saat Nabi terdahulu pun sudah melakukannya. Untuk itu,perempuan khususnya yang memiliki aurat yang harus dijaga oleh dirinya harus memahami dan mengerti akan perintah ayat ini.

 

Jilbab juga diatur dalam QS An Nur : 31

 

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.  Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur : 31)

Ayat di atas menjelaskan bahwa terdapat ‘Hukum Wanita Tidak Berjilbab’. Dimana, seorang wanita wajib untuk menahan pandangan dan kemaluannya. Mereka diperintahkan untuk menutup kaing kudung ke dada, yang hari ini adalah jilbab atau kerudung.

Dada seorang wanita tentu saja adalah aurat, untuk itu perlu ditutup dan jangan sampai terlihat. Hal ini karena secara natural akan membuat menarik dan memancing lawan jenis untuk memiliki hasrat bagi yang tidak mampu mengendalikannya.

Di era keterbukaan informasi, era digital dan era demokrasi di Indonesia saat ini, ternyata masih ada pihak-pihak atau segelintir oknum yang masih mencoba “ main-main” dengan berbagai kesepakatan anak bangsa yang menjujung tinggi asas bhineka tunggal ika. Walapun dilakukan secara diam-diam, tapi toh suatu saat ketahuan juga karena makin masifnya keterbukaan informasi yang bisa diakses segenap masyarakat.

Inlah yang coba dilakukan oleh pihak manajemen Supermarket Diamond Palembang yang melarang karyawannya menggunakan jilbab ketika tengah berkerja di pasar swalayan di kawasan Jalan Veteran Palembang tersebut. Padahal sudah tidak ada bahasan lagi soal jilbab ini. Jilbab adalah hak asasi warga yang dilingdungi undang-undang di negeri ini, lagi pula jilbab ini adalah simbol dari seorang muslimah yang menjalankan kaidah Islam di tengah-tengah pergaulan masyarakat. Maka tak pelak lagi, manajemen Diamond mendapat respon yang tidak baik oleh berbagai kalangan.

Kasus larangan jilbab ini mencuat ketika Komisi IV DPRD Palembang langsung turun ke lokasi bersama Disnaker Palembang, Selasa, 16 Maret 2021, untuk memastikan kebenaran informasi dari masyarakat terkait larangan penggunaan jilbab saat jam kerja.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Palembang Sutami Ismail mengemukakan, “atas laporan masyarakat. Kami koordinasi dengan Disnaker Palembang, setelah kami turun ke lokasi. Ternyata benar, larangan penggunaan jilbab bagi karyawan saat jam kerja oleh manajemen Diamond Supermarket”.

Mantan Gubernur Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN RF Palembang yang juga saat ini menjabat Ketua DPC PKB Palembang langsung mendesak, agar manajemen perusahaan segera mencabut aturan tersebut.

Menurut dia,  pelarangan ini sangat sensitif ditengah hegemoni masyarakat Kota Palembang yang rukun damai dan bersahabat.

“Setelah koordinasi dengan perwakilan manajemen. Kami mendesak agar manajemen segera mungkin mencabut aturan itu,” katanya.

Sutami menegaskan, semua perusahaan yang berdiri di Metropolis Palembang iniotidak boleh melarang atau memaksakan atau melarang karyawan menggunakan atribut agama apapun, termasuk agama Islam dengan penggunaan jilbab.

“Kita minta secepatnya mereka (manajemen Diamond) mencabut aturan itu. Kita meminta Disnaker Palembang melakukan pengawasan ini,” katanya waktu itu.

Hadir dalam sidak itu, Sekretaris Komisi IV, Patra Wibowo, anggota, Adzanu Getar Nusantara, Yulfa Cindosari, Peby Anggi Pratama, Muliadi, Siti Suhaepah, anggota Komisi I, Idrus Rofik, Kepala Disnaker Palembang dan lainnya.

Sementara itu, Kepala Disnaker Kota Palembang, Yanuarpan mengatakan saat ini sudah menerima koordinasi dari pihak Diamond untuk mengikuti permintaan dari pihak DPRD Kota Palembang.

“Pihak Diamond sudah menghubungi kita, ia berjanji dalam satu dua hari ini akan segera mensosialisasi kepada karyawan atau pegawainya untuk mempersilakan memakai jilbab bagi muslim,” ujarnya, Rabu, 17 Maret 2021.

Artinya, pihak Diamond akan mencabut larangan tersebut dan Jumat nanti akan diberlakukan aturan baru bagi pegawai mereka.

“Kita lihat saja nanti sama-sama , kalau janji pihak Diamond Jumat sudah berlaku. Kita sama-sama mengawasi saja. Kita juga meminta pernyataan tertulis dari mereka,” ujar mantan Kadis Kominfo ini.

Kata Yanuar, saat meninjau kelapangan bersama anggota dewan pada selaasa kemarin memang ditemukan fakta tersebut.

“Setelah ditanya mereka beralasan karena untuk menyeragamkan agar tak ada simbol-simbol  perbedaan. Tapi sudah kita jelaskan pemahaman ini dan pihak Diamond juga sudah mengerti,” ungkap dia.

Ia mengatakan dalam aturannya memang tidak ada larangan bagi perusahaan di kota Palembang untuk tidak boleh mengenakan jilbab bagi muslim.

“Tidak ada dan kita juga minta masyarakat sama-sama mengawasi. Kalau ada temuan semacam ini ya laporkan juga. Kita akan tindak lanjuti,” ungkap dia.

Yanuar mengatakan ada sebanyak 200an pekerja Diamond dan hampir 80 persen itu muslim.

“80 persen itu termasuk SPG- SPG juga dan ada pria wanita. Jadi nanti setelah pihak Diamond sudah sosialisasi silakan pegawai yang bekerja mau berjilbab itu hak,” tegasnya.

Mereka pun mendesak manajemen supermarket agar mengubah aturan larangan berjilbab.

Alhamdulillah, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Pemko Palembang Yanuarpan Yany mengungkapkan, perusahaan sudah mengizinkan karyawannya mengenakan jilbab.

Kasus cukup viral di media sosial sehingga mengundang cuitan mantan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ustadz Tengku Zulkarnain menyorot pemberitaan soal larangan berjilbab bagi karyawan suatu supermarket di Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut Tengku Zulkarnain, aturan tersebut luput dari pemberitaan televisi. Dia pun membandingkan dengan heboh aturan wajib berjilbab bagi pelajar di Sumatera Barat.

Melalui akun Twitter @ustadtengkuzul, Rabu (17/3/2021), Tengku Zulkarnain menyinggung aktivis hak asasi manusia.

“Kenapa pelarangan karyawati di Diamond Supermarket Palembang senyap dari pemberitaan Televisi dll? Beda sekali dengan kasus jilbab pelajar di Sumatera Barat yg digoreng siang malam. Hoi…kalian yg sok pahlawan hak asasi mana suara kalian, jika umat Islam yg dirugikan? Mingkem?” kicaunya.

Tengku Zulkarnain juga sempat menyerukan boikot terhadap supermarket tersebut.

“Umat Islam seluruh Palembang wajib memboikot Supermarket Diamond biar dia tahu kekuatan Umat Islam… Biar larangan berjilbab di situ dicabut. Halo, Pemkot Palembang. Jika perlu cabut izin usahanya… Semakin hari semakin berani orang orang anti Islam di NKRI…,” tulisnya.

Sedangkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palembang KH.Drs. Saim Marhaban menegaskan pihak manajemen supermarket Diamond sama sekali tidak boleh melarang karyawannya memakai jilbab ketika tengah bekerja.

Dia meminta pihak Diamond selekasnya mencabut peraturan larangan berjilbab tersebut. Saim Marhaban juga menegaskan kasus pelarangan berhijab oleh pimpinan Supermarket Diamond harus jadi yang pertama sekaligus terakhir.

“Kasus Supermarket Diamond ini jangan sampai terulang di Kota Palembang. Jangan ada lagi aturan perusahaan, yang melarang karyawati-karyawati mengenakan jilbab saat bekerja,” tegas Ketua MUI Saim Marhaban, Kamis, 18 Maret 2021.

Menurut dia,  kebebasan hak melaksanakan ajaran agama bagi karyawan mesti diberikan oleh perusahaan, apakah ia harus mengenakan hijab atau tidak. Sebab hal ini bersinggungan dengan agama dan aurat.

“Meskipun toko itu punya orang non Muslim, ya mereka harus bisa toleran kepada para karyawa. Kebanyakan orang yang bekerja adalah Muslim. Begitu juga jika yang punya toko adalah Muslim, tidak bisa juga memaksakan karyawannya yang non Muslim memakai hijab, ” tuturnya.

Saim mengimbau perusahaan yang karyawannya yang adalah rata-rata seorang Islam mengedepankan toleransi,  agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi.

“Ya kami imbau sekaligus ingatkan, toko atau perusahaan itu jangan membatasi hak karyawan,” tegasnya.

Menutup aurat adalah salah satu kewajiban perempuan muslimah. Salah satu cara menutup aurat ini adalah dengan berjilbab atau berhijab. Berjilbab pun juga merupakan kewajiban perempuan setelah menikah dan menjaga pergaulan dalam Islam, apalagi dalam mencari nafkah atau berkerja diluar rumah. Jadi sangat aneh masih ada larangan jilbab di kota Palembang Darussalam yang mayoritasnya warganya beragama islam.(*)

 

Reporter   : Hasandri Agustiawan

Editor        : Aspani Yasland