ADSCOPE

Berburu Barang di Pasar Loak Terkenal di Kota Palembang

251

 

MAKLUMATNEWS.com – Seorang teman pegawai BUMN Tambang Batubara di kota Tanjungenim, Sumatera Selatan (Sumsel) sengaja weekend ke kota Palembang hanya untuk mencari onderdil mobil di pasar ini. Sabtu sore dia sudah berada di kota pempek ini, karena pasar ini hanya buka pada hari Minggu pagi menjelang waktu dhuha, waktunya sangat terbatas sekali.

Ternyata kawan ini ingin berbelanja barang-barang bekas seputaran kawasan Pasar Cinde, Palembang yang memang sudah kesohor di sebagian besar warga kota ini.

Sebenarnya pasar loak ini bukan bernama Pasar Cinde, akan tetapi lokasinya berada di seputaran pasar yang sudah digusur tersebut, memanjang hingga kawasan Jalan Letkol Iskandar.

Lokasinya memang berada di pusat kota dan mudah dijangkau dari arah mana saja. Letaknya persis di Jalan Cindewalang. Ratusan pedagang menjajakan barang dagangannya dengan segala macam dan jenis barang hingga kuliner.

Entah kapan dimulainya, tapi yang jelas pasar terbesar dan terkenal di kota Palembang ini, sudah berlangsung puluhan tahun dan tumbuh dengan sendirinya. Uniknya pasar loak ini hanya bukan di Minggu pagi hingga pukul 11.00 Wib, karena lapak yang mereka tempati akan dibuka oleh para pemilik toko yang ada di sana. Jalan Cindelawang praktis ditutup sementara, termasuk pula Jalan Karet yang tembus ke arah Jalan Jenderal Sudirman, jalan Raden Nagling, Lorong Kebon dan Raden Muhammad.

Dulu, pasar loak ini memang terkenal dengan barang-barang bekas onderdil kenderaan seperti sepeda motor dan mobil, sebagaimana yang akan dibeli teman dari BUMN Tambang Batubara tadi. Nyaris semua onderdil kenderaan dari tahun berapapun bisa ditemukan di pasar ini, asal saja pembeli teliti dan sedikit bersusah-sudah mencarinya.

Namun seiring dengan makin ramainya para pembeli, maka pasar loak ini tidak saja menjual peralatan kenderaan bekas, tapi hampir seluruh kebutuhan masyarakat ada di sini, seperti sparepart seken,  mainan anak-anak, baju muslim, barang pecah belah, furnitur bekas, kaset rekaman jadul, radio dan tape lama, hanphone, tv, kulkas, batu cincin, aneka burung  hingga pakaian-pakaian eks Singapura yang dikenal dengan pakaian BJ, pun yang musim sekarang ini, bunga-bunga dan tanaman hias. Termasuk pula jajanan makanan, model, tekwan, nasi gemuk, pokoknya lengkap.

Untuk barang bekas tentu harganya agak miring dan bisa ditawar sesuai kesepakatan. Misalnya, untuk mesin jahit bekas yang masih bagus, dihargai bisa Rp 250 ribu, padahal mesin merek Singer yang sudah jarang dijual dan ditemui ini, barunya seharga Rp 2,5 juta, termasuk pula pak rem, kaki-kaki mobil dan lain sebagainya.

“Pasar Loak ini sudah puluhan tahun, aku masih SMP pasar ini sudah ada, tapi dulu sedikit,” ujar Satar, 56, warga yang tanahnya sudah ganti rugi untuk pembagunan masjid ini.

Pakain Bekas dai Singapura juga ada di pasar loak ini. Foto:MAKLUMATNEWS.com/Aspani

 

Satar yang dulunya bertempat tinggal di Lorong Satar ini, mengemukakan pasar loak memang unik, sebab hanya buka di hari Minggu pagi hingga bubar dengan sendirinya di sekitar pukul 11.

“Tapi kalau hari libur atau tanggal merah, bukan hari Minggu, pasar ini tidak buka, tak ada yang jual,” ujar Satar.

Bisnis di pasar loak ini cukup menggambarkan ratusan juta uang beredar di pasar yang hanya buka sekitar 5 jam ini, sebab ratusan pedagang menggelar di lokasi ini.

Namun demikian, dalam berbelanja di pasar yang sangat ramai ini, harus hati-hari akan aksi copet. Beberapa kali dari petugas pemantau aktivitas pasar mengumumkan dan memeringati akan aksi copet tersebut, dan diminta selalu waspada.

Kemudian barang-barang bekas yang dijual pun harus diteliti benar akan kondisinya, namanya juga barang bekas, seperti barang elektronik, nanti sesampai di rumah tidak bisa digunakan.

“Kalau mau barang seperti HP, TV atau strika, kita minta sedikit ongkos listrik kalau barang tersebut jadi dibeli, untuk di tes, hidup atau tidak,” kata Usman, pedagang mesin air bekas ini.

Para pedagang pun dimintai ongkos keamanan sebesr dua ribu perak, “ tapi banyak preman minta jatah seribu, pokoknya tiap jam dipalak seribu, apalagi kalau barang kita kelihatan laris,” ujar Usman lagi yang mengungkapkan kalau jatah preman itu tidak lebih dari lima ribu perak.

Karena bukanya hanya hari Minggu, maka yang paling dikhawatirkan para pedagang terjadi hujan lebat di pagi hari tersebut, sehingga praktis tidak bisa berjualan dan akan bertemu sepekan kemudian.

Pasar loak di kawasan Pasar Cinde ini memang menjadi salah satu potret kota Palembang. Lokasi berada di tengah kota d jantung kota bersandingan dengan Jalan Jenderal Sudirman yang merupakan jalan protokol di kota Jembatan Ampera ini. Kalau sewaktu-waktu ke kota ini, ada baiknya menyempatkan cuci mata di pasar loak terbesar di kota Palembang ini. Setidaknya ada cerita dan kisah tersendiri dari kota yang terkenal dengan kuliner pempek ini.(*)

Editor : Aspani Yasland