MOZAIK ISLAM

Diri Sendiri Saja Bisa Menjadi Ujian

SEORANG sahabat, sepulang dari sebuah majelis ilmu, bertanya tentang maksud kalimat, ”Dirimu adalah ujian bagimu.” Kenapa dia bertanya seperti itu, karena sahabat itu tidak ingin ia gagal faham.

Memang harusnya begitulah seorang jamaah seperti kita ini, harus lebih dalam memahami tentang ilmu agama dan menyeluruh. Benar adanya apa yang diungkapkan di atas. Bahwa jangankan orang lain, diri sendiri pun adalah ujian bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya, jagalah hati, jagalah prilaku dan lisan agar tidak sampai ujian diri itu menusuk ke jiwa yang gilirannya merugikan diri sendiri.

Diri ini adalah ujian bagi kita sendiri, karena adakalanya kita bermain dengan hati yang kadang dibolak-balik. Malah syetan sangat dahsyat godaannya. Kadang dia katakana bahwa kita hebat, lalu ujub dan sombong karenanya. Ini adalah ujian yang harus disingkirkan agar tak terjerumus kepada keangkuhan yang merupakan ujian tersebut. Ini juga jadi pengingat untuk diri sendiri.

Seringkali kita merasa hidup tidak adil. Orang-orang di sekitar kita hidupnya terlihat begitu bahagia dan sukses dengan cara yang sangat mudah. Sementara kita, sulit sekali untuk menaiki satu tangga untuk bisa memiliki hidup yang lebih baik. Rasanya seolah-olah masalah kita jauh lebih berat dari orang lain.

Padahal yang sering kita lupa adalah bahwa tiap orang punya ujian dan masalahnya sendiri-sendiri. Karena jalan hidup setiap orang berbeda, rasanya tak pantas untuk terus membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apalagi sampai menghakimi atau menuduh orang lain, kita tak pernah tahu ujian berat apa yang berhasil dilaluinya sampai akhirnya bisa seberhasil atau sesukses sekarang.

Ustads, Lutfi Izzuddin, MA, dalam sebuah kajian di hadapan Majelis Masjid Al Furqon Palembang, baru – baru ini  menerangkan secara luas dengan mengutip sebuah hadis dijelaskan dari Syadad bin Aus r.a, tentang keutamaan intropeksi diri: “Orang yang berakal adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya, dan memperbanyak amalan untuk bekal mati dan orang yang lemah adalah seorang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berkahayal pahala kepada Allah Ta’ala. (HR.Tirmidzi).

BACA JUGA  Ustadz H. Bitoh : Al Qur'an Tak Pernah Membosankan, MT Masjid Syuhada Peringati Malam Nuzulul Qur'an

Kemudian ia juga mengutip AlQur’an; “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (QS. An Nazi’at: 40-41).

Inilah sesungguhnya yang harus dimiliki oleh seorang yang beriman baik. Mereka secepatnya mengoreksi diri dan merasa setiap tindakan yang dilakukan memerlukan pemahaman dan koreksi agar tidak sampai merugikan diri.

Perisai diri itu adalah bagaimana kita menjaga semua yang ada pada kita, baik lisan, gerak langkah maupun hati yang dimiliki jangan sampai tergoda oleh syetan yang setiap saat hendak menjerumuskan manusia. Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata: “Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” (HR. Tirmidzi).

Ujian Diri

Dalam kehidupan seringkali kita dilanda ujian yang rasanya bisa jadi diberikan oleh Allah, tetapi sejalan dengan itu kita marasa bahwa itu azab Allah. Padahal itu adalah ujian dari Allah agar manusia lebih bertakwa lagi. Jikalah prilaku yang kita lakukan bukan kemunkaran, maka inilah sebenarnya salah satu yang disebut bahwa diri ini sedang dalam ujian Allah.

 

Kadang hati tak bisa menerima atas ujian Allah tersebut. Banyak masalah kita, yang dapat membuat pertahanan diri bisa jebol, maka bisa jadi ada keinginan untuk lebih jauh lagi menyakiti diri, hingga nekat bunuh diri. Hukum melukai diri sendiri dalam islam adalah dosa. Untuk mencari ketenangan dalam islam dan mendapatkan jiwa tenang dalam islam hendaklah memperbanyak amalan istighfar dan berusaha meningkatkan ibadah. Bukannya lewat perbuatan-perbuatan yang sesat.

Dijelaskan dalam beberapa hadist bahwa orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri maka diharamkan surga. Dan kelak di akhirat akan memperoleh azab yang pedih. Dari Jundub bin Abdullah berkata, Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Dahulu pada umat sebelum kalian, ada seorang lelaki yang terluka. Dia tidak sabar, kemudian dia mengambil pisau dan ia potong sendiri tangannya. Belum lagi darahnya kering, orang itu pun meninggal dunia. Kemudian Allah ta’ala berkata: hamba-Ku telah mendahului Aku dengan nyawanya, maka aku haramkan baginya surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA  Kenapa Sulit Sekali Menerapkan Ajaran Islam

Dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda : “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka untuk selama-lamanya.” (HR.Muslim).

Sesungguhnya, yang ingin disampaikan dari banyak ungkapan firman Allah maupun hadist Rasulullah di atas, adalah bila ada ujian diri dari Allah maka bersiaplah untuk menahan diri dari kegalauan. Misalkan, rezeki yang dinilai kecil, bersabarlah dan berdoa agar Allah menunjukkan jalan untuk bisa menambah dan meluaskan rezeki itu.

Begitupun dengan ujian yang banyak dalam diri kita ini, yang membuat hati galau dan tak tentram, maka selalulah berusaha untuk bertahan dari godaan syeitan yang ingin mempengaruhi kita bahwa ujian ini sangat menyakitkan.  Carilah jalan Allah yang bisa menenangkan jiwa dan bertemanlah dengan orang-orang salih.

Seandainya kita dipuji karena kecantikan atau kesehatan dan lainnya, janganlah bersikap ujub atau sombong. Ingat, di atas langit masih ada langit. Dan kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala.

Rumuskanlah masalahmu sehingga masalah itu bukanlah sebuah azab yang pedih  melainkan ujian agar kita bisa tangguh dalam menjalani hidup menuju kampung akhirat dengan tenang dan melalui jalan yang mulus dan lancar. Hambatan-hambatan selalu ada, serahkan kepada Allah dengan usaha dan perjuangan yang memang kita bersabar dan bersyukur menjalaninya. Wallahu’alam(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button