Dr. Tarech Rasyid Rektor Universitas IBA Palembang

653

 

DOKTOR TARECH RASYID Insya’Allah, Selasa, 4 Agustus 2020 bakal resmi dilantik sebagai Rektor Universitas IBA Palembang. Sebuah jabatan akademik tertinggi di sebuah perguruan tinggi. Baginya, Universitas IBA sudah tak asing lagi, sebab Bang Tarech—demikian sapaan akrabnya—adalah memang seorang dosen di perguruan tinggi swasta yang ngetop ketika masa-masa tumbangnya era Orde Baru tersebut. Universitas IBA dikenal juga sebagai Kampus Reformasi, dimana Bang Tarech ada didalamnya bersama mahasiswa yang turut mengukir julukan tersebut.

Bagaimana jabatan Rektor di mata Dr.Tarech Rasyid? Ternyata, menurut dia, jabatan rektor bukanlah di sesuatu yang prestisius atau katakanlah untuk “bangga-banggaan” saja. Sebagai teman dekat, Bang Tarech dengan jujur mengungkapkannya. Begini ceritanya. Beberapa bulan lalu, jauh sebelum corona mewabah, ketika saya ikut mobilnya sama-sama melayat sahabat Ismetri Rajab, wartawan senior, Bang Tarech yang juga mantan wartawan Sriwijaya Post, Palembang ini bercerita, bahwa dia baru saja dipanggil pihak yayasan Universitas IBA dan menawarkan pada dirinya untuk menjadi rektor, “makanya aku agak terlambat jemput awak,” ucap dia.

Alumnus S3 Universitas Pajajaran ini, lalu mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya tidak ingin jabatan rektor tersebut karena kesibukannya sebagai Tenaga Ahli DPRD Sumsel sudah menyita waktunya.

“Lagi pula, kalau saya mau sudah lama jabatan rektor ini ditawarkan padaku sebelum-sebelumnya,” ujar mantan Redaktur Pelaksana Harian Sumatera Ekspress dibawah Manajemen perusahaan Surya Paloh tersebut.

Lalu banyak hal dikemukakan Bang Tarech kenapa dia seakan menolak jabatan tersebut, tapi sebagai teman dekat, saya memberikan berbagai pertimbangan dan masukan. Ceritanya putus sampai disitu, bersamaan dengan tibanya di rumah duka.

Hari berganti hari, bulanpun begitu, pada suatu malam, Tarech yang bersama-sama komunitas seniman Palembang pernah memperjuangkan keberadaan Gedung Taman Budaya Sriwijaya (sekarang sudah jadi Palembang Square Mall) ini, mengirim WA kepada saya yang mengungkapkan kira-kira bunyia begini :” gara-gara saran awak Pan, maka aku ambil jabatan rektor itu, mohon doanya, aku dilantik awal Juli nanti (waktu itu,red)”.

Pemilik nama lengkap Moestarech Noor Rasyid ini adalah seorang teman yang sangat berjasa bagi kehidupan saya. Sarjana muda Ilmu Kulit inilah yang menjadikan dunia kewartawanan untuk saya sebagai wahana menafkahi anak istri hingga sekarang ini. Dialah yang membawa saya berkenalan dengan orang kepercayaan Surya Paloh waktu itu, Sabar Hutapea, yang akan mendirikan harian Sumatera Ekspress dan langsung diterima tanpa tes dengan nol pengalaman.

Bang Tarech adalah seorang pekerja keras, berpendirian, ngemong dan sangat toleran. Nilai-nilai kejujuran dan humanis selalu dipegangnya. Dia juga teman diskusi yang hangat. Salutnya lagi, biarpun pendiri Sekolah Demokrasi dan Yayasan Puspa sudah bergelar doktor, dia tidak pilih kasih dengan lawan diskusinya yang derajat pendidikannya hanya sekolah menengah misalnya. Semua diladeninya dengan menyodorkan berbagai teori-teori filsafat diluar kepalanya. Bahkan terkadang sampai azan subuh.

Ada satu hal yang saya sedikit khawatir adalah soal penampilan sarjana filsafat jebolan Universitas Gajah Mada ini. Karena dalam kesehariannya selalu tampil santai, pakaian casual bahkan cenderung “selonong boy”, bagaimanapun seorang rektor adalah wajah terdepan dari sebuah universitas. Pakem-pakem keformilan mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakoni seorang Tarech Rasyid. Oke… Selamat, semoga amanah dan membawa Univeritas IBA lebih cemerlang lagi ke depannya, barokallah. Sebagai seorang teman dekat, saya bangga. []Aspani Yasland