Masya Allah, Indah dan Megahnya Masjid Raya Abdul Kadim di Desa Epil

351

MAKLUMATNEWS.com— Di tengah udara nan sejuk dan kesunyian warganya, masjid ini berdiri megah dan indah serta saat ini menjadi buah bibir masyarakat di Kabupaten Musi Banyusin (Muba) dan orang-orang yang melintasinya. Masjid ini bernama Masjid Raya Abdul Kadim, yang menjulang indah berada di Desa Epil, Muba.

Untuk masjid sekelas ini, Masjid Raya Abdul Kadim ini termasuk masjid yang bisa dihitung dengan jari yang ada di Sumsel. Arsitekturnya yang modern nan indah, megah ini hanya bisa ditemui di daerah-daerah lainnya, terutama di Pulau Jawa. Lalu siapa yang mendirikan masjid indah dan megah di Desa Epil ini? Masya Allah betapa mulianya sosok muslim ini?

Kepala Desa Epil, Armedi, memanggilnya dengan sebutan Anak Perantau Pengingat Kampung Halaman. Dialah Prof. H.Abdul Kadim, putra asli Desa Epil, Kecamatan Lais, inisiator pendiri masjid terindah dan termegah di Bumi Serasan Sekate.

Sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari Fb. Dispopar Muba Armedi menuturkan, H. Abdul Kadim dulunya adalah orang yang sederhana, namun berkat kerja keras dan kecerdasannya dia bisa menjadi orang sukses diperantauan.

Masjid Raya Abdul Kadim mulanya dibangun pada awal tahun 2018 dengan motivasi untuk mengajak ke jalan ibadah dan membanggakan Desa Epil, Kecamatan Lais, Muba.

Sebelum membangun masjid ini terlebih dahulu telah diadakan musyawarah keluarga, para tokoh masyarakat, dan juga meminta petunjuk dengan para tokoh-tokoh agama.

Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 1,1 Hektare dan di sisi samping ada jembatan yang melintasi kolam serta sedang dibangun juga tempat cinderamata oleh-oleh khas Muba.

Dilihat dari bentuknya, masjid ini memakai konsep arsitektur bangunan masjid turki (Hagia Sofia), sementara pintu masjid memakai konsep Masjid Nabawi.

Hermanto atau biasa dipanggil Tok, adik kandung H. Abdul Kadim menceritakan bahwa proses pembangunan masjid ini sudah hampir selesai. Insya Allah perkiraan bulan Maret tahun 2021 masjid ini akan diresmikan dan sudah bisa dipakai untuk ibadah.

Perihal bahan-bahan untuk masjid banyak yang didatangkan dari Yogyakarta dan ukiran-ukiran masjid didatangkan khusus dari Jepara. Sementara itu tempat bedug memakai konsep atap rumah limas Palembang, sedangkan bedugnya sendiri di datangkan dari Cirebon.

Salah satu keunikan pada masjid ini terdapat pada kursi besar berkaki tiga, yang dibuat seperti Broken Chair yang ada di Place des Nations, Jenewa.

Adapun filosopi kursi ini melambangkan tentang siklus kehidupan dalam mengejar kekuasaan dan kakinya patah satu mempunyai penafsiran sesuai dengan ekspektasi kita, yang bisa juga diterjemahkan kekuasaan tanpa diimbangi dengan ketakwaan akan kehilangan satu kaki yang membuat kita jatuh.

Terakhir, Hermanto (Tok) mengatakan, “kita berharap, masjid ini dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk beribadah, memberikan kebanggaan pada warga Desa Epil khususnya dan umat muslim umumnya, serta tidak menutup kemungkinan ke depan masjid ini juga dapat menjadi salah satu alternatif destinasi wisata religi yang memberikan manfaat perekonomian bagi masyarakat sekitar.

Keberadaan Masjid Raya H. Abdul Kadim yang menjadi buah bibir masyarakat ini, sudah ditinjau langsung Bupati Muba Dr. Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA, Ahad, 8 November 2020.

“Saya berkeyakinan Masjid Raya H Abdul Kadim ini akan menjadi pusat destinasi religi baru di Indonesia dan memberikan kontribusi positif untuk Kabupaten Muba,” ungkap Dodi.

Pemkab Muba siap memback up dan turut andil memfasilitasi penunjang kebutuhan proses pembangunan Masjid Abdul Kadim tersebut.

“Karena saat ini lahan parkir masih terbatas, kami mempersilahkan para pengunjung masjid Abdul Kadim untuk parkir di halaman SD Negeri 1 Desa Epil yang berada tepat didepan Masjid Abdul Kadim,” ujar Dodi sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari REPUBLIKA.COM.

 

 

Bupati Muba mengemukakan, dengan keberadaan masjid Abdul Kadim ini tidak hanya diharapkan menjadi destinasi wisata religi baru tetapi juga menjadi andil meningkatkan ibadah masyarakat.

Arsitektur Bangunan Masjid Raya Abdul Kadim, Surya menceritakan pembangunan masjid ini  dimulai pada April 2018 lalu yang mempekerjakan pegawai bangunan sebanyak 70 orang.

“Sejumlah material dan ornamen ada yang didatangkan dari pulau Jawa dan ada juga yang Impor dari Italia seperti marmer lantai dan dinding,” ungkap Surya.

Untuk konsep bangunan Masjid, lanjutnya tidak ada konsep secara khusus, hanya saja masjid yang memiliki Kuba diatas ketinggian 24 meter tersebut akan dibuat menjadi tempat senyaman mungkin agar khusyuk beribadah.”Sebenarnya pemilik Masjid tidak ada keinginan konsep khusus, kita juga di lapangan instan saja mendesain arsitektur bangunannya,” kata Surya.

Pantauan di lokasi Masjid H Abdul Kadim, uniknya dibagian depan Masjid tampak ada ornamen Broken Chair yang sama persis dengan yang di Kantor PBB Jenewa Swiss yang didirikan pada tahun 1997 sebagai bentuk sebuah penolakan terhadap kekerasan bersenjata terhadap warga sipil.

Keberadaan ornamen Broken Chair di halaman depan Masjid H Abdul Kadim ini juga diceritakan M Zuli salah satu pengurus Yayasan Ar Rohim yang merupakan Yayasan Masjid H Abdul Kadim. Zuli menceritakan, keberadaan ornamen kursi patah tersebut merupakan keinginan pemilik masjid.”Filosofi-nya kalau sedang duduk memimpin jangan lalai dengan agama dan ibadah,” ujar Zuli.

Zuli menambahkan, ornamen Broken Chair atau kursi patah tersebut dibuat dari kayu Unglen yang dipesan langsung dari pulau Jawa. “Jadi Broken Chair di dunia ini ada dua, satu di Swiss dan satunya lagi di Masjid H Abdul Kadim Desa Epil Muba,” bebernya.

Sementara itu, Camat Lais Demon Eka Suza SSTP MM mengatakan, atas keinginan sang pemilik masjid H Abdul Kadim nantinya juga akan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata religi.

“Nanti akan disiapkan spot foto dan juga dipajang beberapa kendaraan kuno yang akan diletakan di halaman belakang masjid,” ucap Demon.

Demon menambahkan, di Masjid H Abdul Kadim yang saat ini dikelola oleh Yayasan Ar Rohim ini juga nantinya setiap tahun akan mencetak 10 hafidz dan hafizdah Alquran. “Sang pemilik ingin setiap tahun Masjid H Abdul Kadim bisa mencetak minimal 10 hafiz dan hafiza Quran,” katanya.(*)

 

Editor : Aspani Yasland