Nasib Batik Palembang di Hari Batik Nasional

122

MAKLUMANEWS.com – Hari ini, Jumat, 2 Oktober 2020, bangsa Indonesia memeringati sebagai Hari Batik Nasional. Produk asli dan khas busana tradisional Indonesia  yang diperingati setiap tahunnya pada 2 Oktober, berawal dari saat batik masuk dalam Daftar Perwakilan Warisan Budaya Tak-benda UNESCO  (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2009 lalu.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, perayaan Hari Batik Nasional tahun ini, tidak begitu heboh, namun di jagad media sosial, para warganet atau netizen ramai menampilkan pakaian batik sembari mengucapkan :” Selamat Hari Batik Nasional” yang jatuh pada 2 Oktober.

Dikutip dari tirto.id, Sejarah Hari Batik Nasional diinisiasi ketika batik diakui pada saat sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Tak-benda yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi, sembilan tahun lalu, 2 Oktober 2009. Agenda yang diselenggarakan UNESCO ini mengakui batik, wayang, keris, noken, dan tari saman sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia oleh UNESCO (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity). Pengakuan dari UNESCO ini adalah alasan masyarakat Indonesia menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Kota Palembang ternyata juga punya batik khas buatan orang Palembang sendiri, selain kain tenun songket yang memang sudah banyak dikenal luas oleh masyarakat. Namun Batik Palembang ini, tidak begitu memasyarakat dibandingkan dengan batik Jawa, bahkan tidak berlebihan juga bila dikatakan wong Palembang, masih banyak tidak mengetahui apalagi mengenal bahwa Palembang juga punya batik.

Batik Palembang masih banyak dijual oleh para pengrajin yang berada di kawasan sentra kain trasional Palembang yang berlokasi di Jalan Ki Ranggo Wiro Sentiko atau lebih dikenal kawasan Tangga Bungtung 32 Ilir, Palembang. Di pusat kerajinan kain Tenun Songket Palembang tersebut, batik Palembang masih bisa dibeli di beberapa gerai yang menjualnya.

Bagaimana motif khas Batik Palembang tersebut, umumnya bercorak Melayu, Cina dan India yang merupakan hasil akulturasi budaya nenek moyang tempo dulu. Palembang sebagai pusat perdagangan zaman dahulu, tentu banyak budaya pendatang yang memengaruhi budaya lokal Palembang, termasuk Batik Palembang ini.

Beberapa motif Batik Palembang.Foto:Antara

Namun disayangkan, Batik Palembang ternyata tidak banyak lagi diproduksi oleh pengrajin wong Palembang sendiri, melainkan dibuat dan dicetak oleh pengrajin dari Jawa. Terbukti Batik Palembang yang dijual di lokasi Tangga Buntung tersebut, justru didatangkan oleh para pedagang dari Jawa. Memang motifnya tetap dengan nuansa Melayu, Cina dan India.

Pemerhati Seni dan Budaya Palembang, Vebri Al Lintani mengatakan, saat ini sudah tidak ada lagi perajin batik asli Palembang. Jika pun masih ada produknya, namun bukan berasal dari perajin batik lokal, melainnkan dari Jawa. Selain itu, yang dikembangkan hanya motif dan coraknya. Lebih banyak terinspirasi warna kain songket Palembang.

“Dari data yang kami peroleh, sudah tidak ada lagi perajin asli batik Palembang, diperkirakan faktornya adalah regenerasi yang menjadi masalah. Sebenarnya motif batik Palembang nyaris tidak bisa ditiru karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi, seperti Batik Jeperi,” kata Vebri sebagaimana dikutip MAKLUMATNEWS.com dari Kumparan.com.

Di Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober ini, tentu di masa mendatang, Batik Palembang akan menjadi kebanggaan wong Palembang dengan adanya dorongan yang penuh oleh pemerintah kota Palembang dan instansi terkait untuk menumbuh-kembangkan serta membantu peningkatan ekonomi para pengrajin kain tradisional di kota pempek ini.(*)

Editor : Aspani Yasland