Penyesalan  Selalu Datang Belakangan

Lakukanlah kebaikan dan taatlah sebelum akhir itu datang

136

Oleh: Bangun Lubis [ Wartawan Maklumatnews.com ]

Penyesalan! Inilah salah satu kata yang sangat tiada berarti dalam kehidupan seorang manusia. Penyesalan adalah satu rasa yang tidak ada lagi gunanya pada hari kiamat. Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Jangankan di dunia ini, atau dalam kehidupan sehari-hari. Saat mengerjakan sesuatu, namun tidak sungguh-sungguh dan tidak sempurna, maka akan ada rasa menyesal dikemudiannya. Begitu kiora-kira yang dialami manusia bila tidak istiqomah atau sungguh-sungguh dalam berbuat termasuk beribadah.

Dalam Al-Quran, disebutkan beberapa bentuk penyesalan manusia. Kali ini akan kita simak bentuk sesal dengan lafal “layta”. Dalam bahasa Arab, ungkapan “layta” menunjukkan angan-angan yang mustahil tercapai.

Andaikan kami taat kepada Allah dan Rasul-Nya. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS. Al-Ahzab: 66)

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Duhai, alangkah baiknya andaikan tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).‘” (QS. Al-Haqqah: 25) .  “Duhai, andaikan kematian itu menyelesaikan segala sesuatu.” (QS. Al-Haqqah: 27)

 “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Ya laitani kuntu turoba – Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS. An Naba : 40).

 

*Seandainya Tanah*

Begitulah manusia ketika segala sesuatunya di dunia sudah tak berguna lagi, dia pun menyebutkan penyesalannya. Allah mengatakan, bahwa manusia itu menyesal dan mereka berkata, alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. Padahal, Allah sudah mengatakan bahwa ungkapan itu tiadalah berguna dan itu merupakan sebuah kemustahilan apalagi bila dunia telah berakhir.

Orang-orang  kafir di hari itu berkhayal seandainya dirinya sewaktu di dunia berupa tanah dan bukan makhluk manusia serta tidak dikeluarkan ke alam wujud. Sebab kini dihadapan mata  yang terjadi adalah azab Allah terpampang di hadapannya dan ia melihat semua amal perbuatannya yang telah dicatat oleh para malaikat juru tulis . Semua amal perbuatannya penuh dengan kerusakan dan dosa-dosa.

Namun bagi mereka yang beriman adalah suatu kepastian yang begitu menentramkan jiwa.

Kata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam;” Besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Kalau kamu ridha dengan semua takdir Allah maka ridho Allah pula yang kamu dapatkan. Jika kamu marah dengan takdir Allah maka murka Allah yang kamu dapatkan

Menghindari penyesalan adalah dengan tidak menjadi orang yang lebih menginginkan kehidupan dunia ketimbang akhirat. “Kamu tahu akan bagaimana menyesalnya dirimu di akhirat nanti kalau kamu menyia nyiakan waktumu yang sangat berharga?  Janganlah sampai kamu berangan angan di akhirat nanti seperti yang orang kafir katakan dalam ayat terakhir surat Annaba,” Ujar Ustad Yuwono dalam sebuah Kajian Ahad Di Masjid Al Furqon Januari lalu.

Kutipan Firman Allah;’ //“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS An Naba ayat 40)

Kita manusia yang beriman hendaklah perlu istiqamah dalam ketaatan, agar penyesalan bukan menjadi milik kita. Wallahu’alam.(*)