PELANGIKU

Polisi Ditangkap Polisi, Wartawan Diberitakan Wartawan

MAKLUMATNEWS.com — Ditengah perhatian publik menyaksikan proses sidang mantan Kadivpropam Irjen Polisi Ferdy Sambo Cs yang dramatik, tiba-tiba masyarakat dikejutkan pula munculnya  berita penggerbekan dugaan perselingkuhan seorang oknum polisi Iptu JS dengan istri Kapolres Baubau AKBP EP di sebuah hotel. Dilansir dari detikSulsel, AKBP EP dan anak buahnya Iptu JS langsung dimintai klarifikasi oleh Propam Polda Sultra. AKBP EP dan Iptu JS pun sama-sama ditarik ke Polda Sultra untuk mempermudah proses klarifikasi isu perselingkuhan tersebut.

Kasus Polisi Ditangkap Polisi memang masih banyak terjadi di tanah air ini. Polisi yang tugasnya sudah sibuk menangani banyaknya kasus kriminal, narkoba, korupsi dan lain sebagainya, justru masih pula dipusingkan dengan penangangan kasus yang dilakukan anggotanya sendiri. Memang ada prinsip hukum, aquality before the law.

Sebelumnya Polisi Ditangkap Polisi, juga geger dan heboh se-Indonesia yakni kasus  tertangkapnya seorang oknum polisi berpangkat bintang dua yakni Irjen Pol Teddy Minahasa yang diduga terlihat bisnis narkoba.Bersamaan dengan Mantan Kapolda Sumbar ini, polisi juga menangkap empat polisi yang terlibat dalam perdagangan barang haram tersebut.

Publik merasa bingung sendiri sebab apa lagi yang dikejar oleh seorang oknum polisi yang berpangkat bintang dua, yang dengan tragisnya menceburkan dirinya dalam ke lubang kehinaan. Harta sudah banyak, kehormatan pun sudah disandang, status sosial pun begitu. Teganya menjeruskan harkat martabat keluarga besar kedalam jurang kenistaan yang berkepanjangan. Karir cermerlang tiba-tiba redup.

Banyak lagi kasus Polisi Ditangkap Polisi di tanah air ini. Kasus oknum polisi mencuat ke permukakan dan menjadi perhatian publik lantaran mencuatnya kasus polisi mega bintang akhir-akhir ini.

Selain Polisi Ditangkap Polisi, ada kasus Wartawan Diberitakan Wartawan. Profesi wartawan ini memang rentan dan banyak rayuan, tawaran untuk berbuat miring. Namun banyak pula oknum wartawan melakukan perbuatan melanggar Etika Jurnalistik seperti memeras. Dan jangan salah, perbuatan oknum ini tentu menjadi bahan pemberitaan bagi wartawan lainnya. Tidak ada embargo berita, meski yang menjadi objek pemberitaan itu adalah rekan sesama profesi.

Wartawan Diberitakan Wartawan karena memeras kepala sekolah, pengusaha,dokter, pengawai ASN, kepala desa dan lainnya sebagainya.

Tentu saja masih banyak polisi yang baik yang berbudi luhur di nusantara ini. Tentu juga masih banyak wartawan yang menjalankan profesinya sesuai Kode Etik Jurnalistik.

Polisi Ditangkap Polisi dan Wartawan Diberitakan Wartawan, mencerminkan di dunia ini tak ada yang kebal hukum, tidak ada yang mendapat keistimewaan di muka hukum. Namun demikian, terjadi kasus-kasus tersebut, itu juga membuktikan bahwa manusia itu dhoif (lemah), mudah tegiur oleh harta, tahta dan wanita. Ketika ketiga “TA” itu terbuka kesempatan maka muncul sikap dan prilaku irrasional untuk segera meraupnya, mumpung ada kesempatan, bisikan iblis atau setan. Padahal dibelakangnya tentu ada pertanggung-jawaban yang harus dipikul bilamana perbuatan tersebut merugikan orang lain.

Mengutip muslim.or.id dalam Surat An Nisa Ayat 28, Allah berfirman,

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 28)

BACA JUGA  Rekonstruksi Kasus Brigadir J, Sambo Tersenyum Meski Tangan Terikat

Ahli tafsir Al-Quthubi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita, beliau berkata

وَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ

“Berkata Thawus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [Al-Jami’ liahkamil Quran 5/149, Darul Kutub Al-mishriyah, Kairo, cetakan kedua Asy-Syamilah]

Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat sebelumnya berbicara tentang motivasi menikah. Beliau berkata,

لأن من الأحكام المتقدمة ما هو ترخيص في النكاح

“Karena hukum-hukum yang dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.” [At-Tahrim Wat Tanwir 5/22]

Akan tetapi ada ulama juga yang menafasirkan bahwa bahwa lemah tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.

Ibnul Qayyim menjelaskan,

والصواب أَن ضعفه يعم هذا كله ، وضعفه أَعظم من هذا وأَكثر : فَإنه ضعيف البنية ، ضعيف القوة ، ضعيف الإرادة ، ضعيف العلم ، ضعيف الصبر

“Yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran.” [Thariqul Hijratain 1/228]

Tafsir dari para ahli bahwa laki-lali lemah terhadap wanita ini didukung dengan berbagai nash.

Misalnya hadits bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi laki-laki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-lakiyaitu (fitnah) wanita.” [HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122]

Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqamah beragama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” [HR. Bukhari no. 304]

Bahkan godaan wanita lebih dahsyat dari goadaan setan. Godaan setan itu disebut lemah, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.

Allah berfirman,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً

“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’:76)

Dan Allah berfirman tentang godaan setan,

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim” (Yusuf:28)

Selanjutnya, mengutip Hidayatullah.com,  iblis memang telah bersumpah untuk menyesatkan manusia. Sumpah ini diucapkan iblis di hadapan Allah Ta’ala sebagaimana tertera dalam al-Qur’an surat Sad [38] ayat 82, “…Demi kemuliaan-Mu (Allah), pasti aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya.”

Mengapa manusia lebih banyak memilih jalan setan ketimbang jalan Tuhan?

Jawabnya, karena manusia tidak betul-betul mengimani petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, sehingga otomatis tidak pula sungguh-sungguh menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

BACA JUGA  Cara Berbisnis dengan Allah yaitu Memperbanyak Baca Alquran

Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nahl [16] ayat 99 dan 100;

إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
إِنَّمَا سُلْطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشْرِكُونَ

“Sungguh setan itu tidak ada pengaruhnya terghadap orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan mempersekutukannya dengan Allah.”

Iblis sendiri mengakui hal ini. Dalam sambungan ayat yang telah dipaparkan sebelumnya, yakni surat Sad [38] ayat 83, iblis berkata bahwa ia tak mampu menyesatkan “hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Iblis dalam surat Al-Isra [17] ayat 62, “…niscaya benar-benar aku (setan) akan sesatkan keturunannya (Adam), kecuali sebagian kecil.”

Siapakah sebagian kecil itu? Yakni, orang-orang yang memilih jalan lurus karena keimanannya kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam surat Al Hijr [15] ayat 42. “Sesungguhnya engkau (iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yakni orang-orang yang sesat.”

Jadi, karena ini perkara iman, maka hendaklah kita senantiasa meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari setan. Kita tak bisa menjamin iman kita akan senantiasa kuat. Ada kalanya iman kita lemah sehingga mudah digoda, dirayu, diganggu, bahkan dihalang-halangi dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Kita harus senantiasa melafazkan a’udzu billahi minasy syaithaanirrajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna doa di atas adalah permohonan kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari gangguan setan atas agama, atau dunia, atau menghalangi dari melakukan apa yang diperintahkan, atau mendorong untuk melakukan apa yang dilarang.

Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan jika setan datang menggodamu maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui,“ (Al A’raf [7]: 200].

Selain berdoa, kita juga hendaklah berada dalam jamaah agar tak mudah diganggu oleh setan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Tidak ada tiga orang di suatu desa atau padang, tidak didirikan shalat berjamaah pada mereka, kecuali setan menguasai mereka. Maka bergabunglah dengan jamaah, karena sesungguhnya srigala itu akan memakan kambing yang menyendiri.”

Dengan berjamaah kita bisa saling menjaga, mengingatkan, menasehati, dan berbagi ilmu. Bahkan, dengan berjamaah, kita tak sekadar saling membantu dalam urusan akhirat, juga urusan dunia. Sebab, seringkali manusia tergelincir karena tak kuat dengan urusan dunia.

Dengan demikian, benang merah dari “Polisi Ditangkap Polisi dan Wartawan Diberitakan Wartawan” adalah para oknum pelakunya tidak bisa menjaga iman kepada Allah, keimanan mereka nyaris tidak ada pada waktu itu. Wallahu’alam bisshawab. (*)

 

Editor : Aspani Yasland  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button