DI KONTEN

Rektor Universitas IBA Palembang Dr. Tarech Rasyid Ungkap Sosok Aktivis Munarman : Aneh dan Berlebihan Dia Dituduh Terlibat Terorisme

371
ramadan oki

 

 MAKLUMATNEWS.comRektor Universitas IBA Palembang, Dr. Tarech Rasyid, M.Si, sahabat karib Munarman, SH., saat aktif membangun Gerakan Reformasi di Sumatera Selatan pada masa Orde Baru, menilai bahwa tudingan terhadap Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) itu sangat berlebihan.

“Sungguh aneh, dan berlebihan menuding Munarman terlibat terorisme,” cetus Rektor Universitas IBA yang dikenal juga sebagai mantan wartawan Sriwijaya Post dan Sumatera Ekspress.

 Menurut Tarech Rasyid, selama mengenal dan berdiskusi dengan Munarman di LBH Palembang, bahkan saat ia memimpin YLBHI, sangat jauh dari pemikiran-pemikiran Islam fundamentalis, terlebih terlibat dalam terorisme.

Namun, Tarech Rasyid mengakui bahwa Munarman memiliki watak yang temperamental, namun rasional dan berani. Keberanian ini ditunjukkan Munarman saat melakukan penelitian tentang kekerasan militer. Selain itu, keberaniannya semakin menonjol saat ia menerima tugas dari KONTRAS di Aceh yang masih bergolak, dan dikenal dengan sebutan Daerah Operasi Militer (DOM).

“Aku diminta untuk ke Aceh. Sebab, Di YLBHI, KONTRAS, LBH Jakarta dan lainnya, tidak ada satupun orang yang berani mengemban tugas di Aceh, ya, sudah, aku yang ke Aceh,” ujar Tarech Rasyid mengenang ucapan Munarman saat membicarakan keberlangsungan KIPP Sumsel.

Usai Pemilu yang terakhir di masa Orde Baru, Pimpinan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP Sumsel) telah diserahkan Tarech Rasyid kepada Munarman. Namun ditengah-tengah penguatan organisasi KIPP Sumsel, ia mendapat tawaran dari  Munir Said Thalib selaku Ketua Dewan Pengurus KONTRAS untuk bertugas di Aceh.

Tarech mengungkapkan, kekosongan pimpinan KIPP Sumsel itu pula yang memaksa mereka  berdua mendiskusikan figur yang tepat untuk memimpin KIPP Sumsel.

“Saya dan Munarman sepakat menunjuk Anwar Putra Bayu untuk memimpin KIPP Sumsel dan menggantikan posisi Munarman yang akan berangkat ke Aceh,” ujar Tarech Rasyid yang saat itu telah mendapat mandat dari Sri Bintang Pamungkas untuk memimpin Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) Sumsel.

Rektor Universitas IBA yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi di Sumsel ini menilai bahwa Munarman itu orangnya sangat rasional. Dalam arti, ia selalu mengedepankan akal pikiran dan argumen-argumen yang logis dalam diskusi maupun memecahkan masalah.

Rasionalitas tersebut tentu saja terlatih saat dia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya , juga terbentuk saat ia terlibat aktif sebagai mahasiswa aktivis lingkungan yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam (GEMAPALA) WIGWAM Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

Tarech Rasyid bersama Chairilsyah, SH, Mantan Direktur LBH Palembang dan Febuar Rahman, SH, Pengacara/Advokad, sempat membesuk Munarman dan Habib Rizieq Syihab di rumah tahanan Polda Metro Jaya berkaitan dengan kasus Monas. Dalam kesempatan itu, “ saya terlibat dialog kecil dengan Munarman terkait Ahmadyah”.

Saat itu, ungkap Tarech, Munarman menjelaskan bahwa Ahmadyah itu menyimpang dari ajaran agama Islam. Sebab, ia mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mira Ghulam Ahmad. Jadi, jelas bahwa Ahmadyah itu merusak akidah dan tidak rasional.

Dari dialog-dialog dengan Munarman tersebut, Rektor Universitas IBA itu berpendapat bahwa tudingan terhadap mantan Ketua YLBHI itu terlibat teorisme sangat berlebihan, dan tidak masuk akal sehat. Bahkan, mengesankan sebagai upaya pembungkaman terhadap tokoh kritis.

Sebagaimana diketahui Munarman sangat kritis terhadap kematian enam (6) orang laskar FPI di Jalan Tol Jakarta-Cikampek Tol KM 50. Sikap kritisnya itu pun terlihat saat menghadapi atau menangani kasus kerumunan Habib Rizieq Syihab. Dia ditangkap di rumahnya oleh im Densus 88 Antiteror, Selasa, 27 April 2021. (Ril)

 

Editor : Aspani Yasland