SMB IV Berharap Provinsi dan Kota Palembang Bisa Bersinergi Terkait Benda-Benda Heritage di Palembang

53

MAKLUMATNEWS.com, PALEMBANG — Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn, berharap kedepan semua pihak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terutama di kota Palembang dapat bersinergi dengan membentuk sebuah tim bersama dalam membangun kedepan secara bersama-sama.Karena saat ini , dirinya melihat semuanya masih berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing dan sesuai dengan program kerja masing-masing.

“ Saya harap kedepan semuanya kita bisa membentuk forum masyarakat kota atau gimana , atau apapun mananya untuk membuat benda-benda heritage di Palembang ini bisa dirasakan oleh masyarakat,” katanya saat didampingi R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah, Pangeran Surya Kemas A. R. Panji , Beby Johan Saimima, Minggu (25/10).

Menurut pria yang berprofesi sebagai notaris dan PPAT ini , kedepannya partisipasi masyarakat terhadap benda-benda bersejarah dan budaya ini memang sangat diperlukan.

Mengenai revitalisasi Benteng Kuto Besak (BKB), pihaknya sudah mengirimkan surat kepada ke Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto dan meminta agar Benteng Kuto Besak (BKB) di revitalisasi supaya dirubah fungsinya agar jangan sekadar menjadi tempat pariwisata saja tapi juga sebagai sebagai Defense Heritage (Cagar Budaya Pertahanan).

“ Ini adalah salah satu cara kita untuk menumbuhkan cinta kepada bangsa kita sendiri dengan menghargai saja pahlawan dan tempat sejarah tersebut memiliki nilai-nilai perjuangan, disitu kita minta tentara dimana BKB dikuasai tentara dibawah Kementrian Pertahanan, kalau bisa Kementrian Pertahanan memberikan izin kepada tentara agar BKB bisa di revitalisasi diubah dari kekuatan militer menjadi untuk kepentingan defense heritage,” katanya.
BKB sendiri dan bangunan yang ada di dalamnya menurutnya harus di lestarikan karena BKB bukan dibuat oleh Belanda karena Belanda tidak anggaran untuk membuat Benteng baru pada waktu itu.

Sejatinya menurutnya BKB dibuat oleh Kesultanan Palembang Darussalam dan itu adalah nilai-nilai perjuangan dari Kesultanan Palembang.

“Kalau bisa , kita bisa menceritakan kembali , menarasikan sejarah itu seperti apa awalnya mungkin bisa menciptakan rasa cinta dan bela tanah air, cinta bela negara itulah yang kita dengungkan supaya direvitalisasi, bisa kita manfaatkan ,” katanya.

Karena itu pihaknya berharap kedepannya BKB itu semua orang bisa masuk untuk mengetahui isi sejarahnya seperti apa, semua orang bisa menikmati isi dalamnya dengan nilai-nilai kesejarahan dan dengan akar budaya yang tujuannya adalah meningkatkan cinta tanah air melalui defense heritage.

Sedangkan Konsep Defense Heritage menurutnya merupakan konsep yang melihat peninggalan-peninggalan pertahanan yang ada , bisa digunakan untuk meningkatkan rasa cinta dan bela negara.

Dia mencontohkan peninggalan-penininggalan pertahanan di Eropa sudah di ubah dan dimanfaatkan, hal ini menurutnya penting guna mengaktualisasika di masa mendatang agar masyarakat bisa mencintai dirinya sendiri, mencintai negaranya dengan mengetahui ternyata leluhurnya telah berjuang dengan membuat bentuk-bentuk sejarah yang bisa diketahui anak cucu melalui Defense Heritage.

Sedangkan Pangeran Suryo Febri Irwansyah yang juga budayawan Palembang melihat masyarakat Palembang sudah lama menunggu agar BKB itu difungsikan sebagai cagar budaya yang bisa di kunjungi oleh masyarakat sehingga terasa nilai-nilai yang diturunkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam.

“ Kita memahami satu-satunya benteng yang dibangun oleh pribumi yang itu Benteng Kuto Besak, ditempat lain tidak di bangun oleh pribumi dibangun oleh orang Eropa semua, oleh penjajah, di Bengkulu oleh Inggris, di Jogya sendiri yang sultannya masih utuh sampai sekarang bentengnya di bangun oleh Belanda, Benteng kita dibangun sendiri oleh pribumi digagas Sultan Mahmud Badaruddin I diselesaikan oleh Sultan Bahauddin , itu sangat luar biasa,” katanya.
BKB sendiri menurutnya bukan hanya memiliki nilai pertahanan juga didalamnya ada kediaman sultan, pada masa Belanda menjadi pertahanan Belanda sekarang dimanfaatkan militer untuk pemukiman , kantor dan Rumah Sakit Dr Ak Gani di kawasan BKB.

“ Harapan kita, kalau di katakan sultan tadi, BKB sebagai defense heritage, artinya cagar budaya bernilai pertahanan, Kesultanan sudah mengirimkan surat Ke Kemenhan sebagai orang pengelola langsung dari itu agar lebih cepat prosesnya yang penting BKB digunakan untuk publik , diberdayakan itu dulu , karena pengalaman selama ini pemkot dan Pemprov dari tahun berapa, selalu gagal, selalu menemui hambatan-hambatan, mungkin hambatan utamannya anggaran dan lain sebagainya,” katanya.

Karena itu pihaknya mencoba satu cara yang agak berbeda mencoba Kemenhan mengelola sendiri BKB itu .
“ Ya nanti dibuat tim pusat nanti tim pusat baru kemudian di bawa ke tim kecil, artinya perlahan-lahan, tidak bisa sekaligus harus gradual,” katanya.

Harapan lain, menurut mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) bukan hanya BKB tapi juga kawasan di BKB dimana terdapat Museum SMB II yang dibangun di atas puing-puing kehancuran Istana Kuto Kecil atau Kuto Lamo kemudian sebelah Jalan Tengkurok ada pasar 16 Ilir peninggalan kolonial dan ada beberapa tempat di BKB peninggalan kolonial seperti seperti Kantor Ledeng , itu semua menurutnya kawasan cagar budaya yang layak harus diberdayakan kembali dan bisa menjadi aset wisata.

“ Semuanya harus dijadikan kawasan cagar budaya tapi di mulai dari Benteng Kuto Besak, mungkin pertama dibuka untuk publik, relokasi dulu para pemukim di Benteng Kuto Besak kesatu tempat , karena di dalam ada juga taman, ada Kraton Sultan, pengembangan berikut memindahkan rumah sakit Dr AK Gani, saya kira kalau duitnya banyak sekaligus boleh kalau du itnya sedikit gradual saja yang penting ada goodwill atau political will dari pemerintah kota atau pemerintah provinsi dan tentunya pemerintah pusat yang sebagai pengelola BKB sekarang,” katanya.
Editor : Sgw