Tantangan dan Harapan Kepulangan Habib Rizieq

257

Oleh : Prof. Dr. Badlihisham Mohd Nasir
Pengamat Politik Islam, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor Malaysia

MAKLUMATNEWS.com,– MUNGKIN nama Habib Rizieq Syihab tidak begitu dikenali di negara Malaysia, meskipun tokoh berkenaan pernah melanjutkan dan menyelesaikan studi pendidikan tingginya di Universiti Malaya. Nama Habib yang membawa kaitan dengan keturunanNabi lazimnya tidak dilihat dari sisi ancaman politik yang serius bagi kita di Malaysia. Mereka lazimnya akan dihormati oleh masyarakat dan diketengahkan dalam sambutan maulidurasul lalu tenggelam dalam laungan sholawat mengingati junjungan Nabi Muhammad Saw. Membayangkan seseorang yang dikaitkan dengan keturunan Rasulullah yang mulia dengan politik yang dianggap kotor dan penuh tantangan ini adalah suatu yang baru bagi kita Malaysia.

Berbeda dengan perjalanan hidup Habib Rizieq yang terpaksa terbang ke Arab Saudi pada pertengahan 2017 akibat terjebak dengan tuduhan memiliki isi kandungan pornografi di Polda Metro Jaya yang didakwa sebagai fitnah menjatuhkan wibawa beliau yang bersikap lantang menentang penistaan terhadap agama Islam. Sebelum itu beliau terlibat aktif menuntut hukuman penjara terhadap Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama atas tuduhan bahwa Gubernur Jakarta yang berketurunan Cina itu menghina Islam dengan mengutip surat Al Maidah ayat 51 dan memutar balikkan ayat tersebut dengan menuduh bahwa ulama yang menggunakan ayat ini sebagai pendusta, membodohi ummat Islam dengan ayat ini dan hanya menggunakan untuk kepentingan politik saja, pada 2016.

Selaku ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq menggerakkan demontrasi massaanti-Ahok bersama berbagai organisasi Islam lain seperti Forum Umat Islam (FUI) dan Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) dan banyak lagi. Demonstrasi besar-besaran sehingga mencapai jutaan orang itu menyentak pemerintahan pimpinan Jokowi yang dilihat liberal dan sangat terkesan anti Islam.Ahok akhirnya dipenjara selama dua tahun, sedangkan Habib Rizieq menjadi saksi ahli agama dalam kasus berkenaan.

Kembalinya beliau dengan disambut oleh lebih dari 6 juta orang yang menunggu dengan penuh emosi mencipta sejarah baru di negara Pancasila itu. Gelombang ini lebih besar dari demonstrasi sebelumnya bahkan sebagian pengamat melaporkan lebih besar dan hangat dari sambutan yang diberikan oleh rakyat Iran terhadap Khomeini pada 1979. Malah lebih mengujakan bangsa, beliau terus saja dikunjungi oleh Anis Beswedan, Gubernur Jakarta dan Ketua Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan Probowo Subianto. Kedatangan sosok dari kalangan mereka yang masih memegang kuasa ini pastinya memberi isyarat bahwa beliau mempunyai aura politik yang hebat. Justeru ada pengamat politik yang memberi peringatan bahwa kemungkinan beliau terjun ke kancah politik adalah besar.

Di sebalik semua kemungkinan itu, Habib Rizieq kelihatan masih kuat untuk melangkah khususnya mengukuhkan barisan oposisi dalam menghadapi Pemilu. Beliau menyatakan dalam pidato awalnya bahwa beliau diberikan pelayanan yang baik oleh kerajaan Saudi Arabia.Manakala aktivitas beliau menambah ilmu bakal memberikan kekuatan baru kepada seorang kepala keluarga bagi menyiapkan dirinya sebagai pemimpin revolusi Islam dengan cara dan pendekatannya yang tersendiri. Pengalaman beliau sebagai pemimpin massa itu dikuatkan dengan perjalanan kerohanian melalui peningkatan ibadah khusus baikdi Makkah atau di Madinah sepanjang tempoh pengasingannya itu.

Sebagai seorang tokoh karismatik yang mempromosikan dirinya sebagai penyatu umat melalui FPI, beliau didukung oleh tokoh agama populer seperti Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Tengku Zulkarnaen. Seperti yang diketahui, UAS sangat populer di rantau ini dan pernah diundang beberapa kali ke Malaysia. selain itu, tokoh reformasi seperti Amien Rais juga berada di belakang gerakan Islam yang sekian lama mencari jalan penyatuan yang berkesan di kalangan mereka. Sememangnya umat Islam di sana merindukan gerakan penyatuan politik Islam yang mantap khususnya dalam menghadapiisu kebangkitan kembali faham sosialis yang mendapat nafas baru dari kebebasan era reformasi dan sikap Jokowi yang memberi ruang kepada mereka.

Kebangkitan Habib sebagai pewaris perjuangan Nabi dan dari keturunan AhlulBait yang mulia, dilihat sebagai sosok yang berpotensi melakukan konsolidasi gerakan Islamdi Indonesia. Umat Islam telah lama menantikedatangan seorang ulama yang mampu melakukannya hari ini setelah berlalunya nama besar seperti Pak Natsir dan BuyaHamka ketika mencapai kemerdekaan. Kebangkitan umat kini diharapkan tampil melampaui kepartaian dan bersandarkan Ahli Sunnah wal Jamaah pegangan mayoritas penganut Islam di Indonesia. Apalagi dengan berdirinya Masyumi baru yang pernah menyatukan force Islam ketika dipimpin oleh Pak Natsir dapat menjadi wadah baru kebangkitan.

Perkembangan ini pastinya mencabar mereka yang menentang kepulangannya. Golongan yang pernah berhadapan secara langsung dengan pukulan keras beliau dulu kini mengusahakan berbagai cara untuk menghalanginya. Antaranya ialah membangkitkan kepulangan beliau justeru tindakan undang-undang oleh kerajaan Arab Saudi membatalkan penerbangannya atas sebab-sebab teknikal. Akun FB dan IG juga didakwa telah dihalangi dari menyiarkan postingan berkaitan beliau.

Di samping itu, forum-forum membincangkannya diawasidan diperhatikan agar tidak membabitkan isu ini. Antara yang pernah dibatalkan penyiarannya secara tiba-tiba ialah seperti rancangan tv populer iaitu Indonesia Lawyers Club(ILC) yang mencapai rating tontonan yang sangat tinggi. Forum yang dikemudikan oleh Karni Elias ini membincangkan isu-isu sensitif secara objektif dengan mengundang semua pihak yang terlibat berhadapan dan berdebat secara langsung di depan masyarakat.

Kepresidenan Jokowi yang dipengaruhi oleh aura penyokong Sukarno serta kebangkitan sosialis berwajah baru itu dilihat sangat gusar menghadapinya. Tindak-tanduk mereka sangat bertentangan dengan pegangan Habib yang memperjuangkan Islam dalam konteks kenegaraan serta bersikap kritis terhadap pengaruh komunis yang cuba dibangkitkan semula oleh sebahagian pendokongnya yang berselindung di belakang kekuasaan Jokowi. Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitnomenyatakan kepulangan Habib Rizieq menjadi ujian berat untuk Presiden itu menguruskan hiruk-pikuk demokrasi. Dilansir dari Ayosurabaya.com, Adi menyatakan, “Tentu ujian bagi Presiden dan Parpol pendukung karena selama ini narasi politiknya bersebrangan dan potensial memantik ketegangan ideologi politik.” Kata-kata Adi Prayitno ini pasti membuka ruang yang luas untuk kontroversi malah memicu konfrontasi yang lebih getir lagi.

Perang persepsi dalam melihat pertarungan antara dua tokoh jika dinilai dari sambutan yang diberikan oleh masyarakat dimenangi oleh Habib Rizieq. Sambutan jutaan terhadap Habib jauh melebihi Jokowi yang sedang berhapan dengan cabaran kemelut ekonomi negara yang makin merosot khususnya dalam menghadapi penularan Covids 19. Jokowi mungkin telah menang ketika berhasil menonjolkan imej sosialis yang sangat marhain ketika beliau muncul sebagai calon presiden suatu masa dahulu. Tetapi keakrabannya dengan golongan yang mencoba menghidupkan aura komunis serta membetulkan sejarah buruk yang terbeban kepadaOrde Lamaitu menyebabkan kepatuhannya terhadap keluhuran undang-undang negara dipermasalahkan.

Menurut Rocky Gerung seorang pengamat politik beragama Kristen; Habib ternyata lebih Pancasilais (memegang teguh Pancasila) berbanding Bapak Presiden itu sendiri. Habib dilihat lebih menghormati semangat Pancasila sebagaimana ia mulai dipertentangkan dengan Islam, berbanding Jokowi yang suka memberi muka kepada golongan yang mencoba menafsirkannya secara liberal. Beliau bahkan tidak ragu-ragu menyatakan kepulangan Habib Rizieq berarti kunci kejatuhan Presiden itu.

Ramalan ini dikuatkan dengan keadaaan Presiden Jokowi yang sedang berhadapan dengan kritikan keras dari mantan Paglima Tentara Idonesia, Jeneral Gatot Nurmantyo.Bermula dengan penentangan Gatot terhadap beberapa kebijakan Jokowi hinggalah kepada ketidakhadiran beliau menerima anugerah kenegaraan yang disampaikan oleh Jokowi baru-baru ini. Walaupun Gatot memberikan alasannya secara bersurat, ia ditafsirkan sebagai protes justeru penentangan beliau dengan Jokowi dalam banyak hal sebelum ini sehingga menimbukan ketegangan massa. Kecenderungan tentara walaupun hakikatnya perlu bebas dari pengaruh mana-mana parti politik perlu diambilkira. Apatahlagi tersebar kasus tangkapan terhadap seorang anggota tentara yang menyokong perjuangan HabibRizieq.

Jika Jokowi benar-benar belajar dari sejarah, tentara juga pernah masuk campur menamatkan riwayat pemerintahan Order Lama Soekarno yang tidak dapat mengawal keganasan yang didukung oleh partai komunis. Apakah sebenarnya sokongan tentara kepada beliau kini melampaui jawatan kepresidenannya atau ideologi perjuangan partainya, hanya Jokowi saja yang mampu menjelaskannya secara jujur. Apa yang jelas, tentara tetap berperanan dalam menumbang dan membangun pemerintah dalam sejarah Republik Indonesia. Ia amat terlihat jelas dalam Orde Baru yang dipimpin oleh seorang general tentara dan berperanan penting melanjutkan riwayat pemerintahan Presiden Suharto sehingga melewati 31 tahun.Ia berlarutan sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan calon Presiden Prabowo Subianto.

Apakah Jokowi akan menghadapi Habib Rizieq secara memberlakukan undang-undang seperti yang dilakukan kepada penceramah yang melanggar aturan berceramah di masjid atau beliau mempunyai cara tersendiri menghadapinya. Sebagai seorang yang bijak mengatur strategi, Jokowi perlu mendengar apa tawaran yang diberikan oleh Habib Rizieq kepada pemerintahan beliau. Jika kita halusi, Habib Rizieq tidaklah mengutamakan konfrontasi seperti lain-lain aksi kumpulan Islam bergaris keras. Banyak sisi lunak yang boleh disikapi dengan hikmah oleh pemerintahan Jokowi jika mereka ingin berbuat demikian.

Setibanya di Indonesia, Habib Rizieq menawarkan Revolusi akhlak yang meskipun nampak drastik tetapi cepat dan tegas dalam mencari solusi dari ajaran Islam. Beliau sedia berdamai dan taat kepada pemerintah jika mereka bersedia mendengar pandangan ulama dan umat Islam. Habib Rizieq menawarkan dialog hendaklah dibuka seluas-luasnya oleh pemerintah bagi saling bertukar pandangan. Namun begitu beliau tetap tegas dan istiqamah di atas dasar Islam hingga menolak slogan tanpa roh agama sepertirevolusi mental yang dipromosi oleh golongan pro komunis dan sosialis. Beliau mengulangi hasrat untuk rekonsiliasi atau perdamaian hendaklah diasaskan atas dasar menurut undang-undang negara dan semangat Pancasila

Justeru itu ada di antara pengamat politik yang menyarankan supaya Habib Rizieq sendiri yang memulailangkahnya berjumpa Jokowi di istana Presiden. Siapa yang cepat melangkah akan melakar impak positif untuk dirinya sendiri. Sekurang-kurangnya dia akan dianggap sebagai seorang pencinta kedamaian dan dapat mengenepikan kepentingan sendiri demi bangsa dan negara. Memperbanyakkan lawan bukanlah masa yang sesuai di saat negara berdepan dengan isu covid yang perlu ditangani secara penyatuan sikap dan tindakan yang padu.

Bagi Jokowi inilah tantangan getir dalam beliau mengendalikan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia itu. Beliau perlu berhati-hati untuk tidak mengulangi kesalahan Soekarno yang dahulunya terlalu memberi ruang kepada komunis di dalam negara sehingga sanggup memenjarakan rakan seperjuangannya sendiri yang terdiri dari kalangan ulama. Walaupun mereka dihukum di atas asas undang-undang, sokongannya kepada komunis menyebabkan beliau kehilangan jabatan Presiden. Sedangkan jika beliau lebih memihak kepada dukungan ummat Islam yang dibimbing oleh para ulama, nasib beliau akan lebih terbela oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Apakah Jokowi sanggup mengorbankan dukungan yang mengelilinginya seperti dalam kasus Ahok serta tunduk kepada kebangkitan baru ini dengan mengulangi pendekatan yang dilakukannya kepada lawan politik beliau, Probowo. Tawaran Habib Rizieq perlu direbut untuk memulangkan tanggungjawab membina negara kepada pengkritiknya. Sebarang kejayaan dan kegagalan akan ditanggung bersama. Jokowi perlu cepat menghentikan persepsi beliau adalah Presiden yang gagal memahami sejarah tetapi bijak mengunakan sejarah bagi kemakmuran 270 juta penduduk Indonesia.

Bagi Habib Rizieq, peranan beliau selaku jurubicara ummat Islam haruslah terus melampaui tradisi kepartaian yang selama ini menghalangiperjuangan Islam. Tugas besar beliau sesuai dengan gelaran pewaris Nabi itu ialah menyatukan umat Islam dalam satu saf perjuangan yang kemudiannya menjadi contoh dan tauladan pula kepada rakyat Indonesia. Umat perlu diperingatkan dengan perpecahan Masyumi yang efeknyaterjadi hingga ke hari ini. Inilah masanya umat Islam menawarkan dirinya untuk turut untuk memperbaiki kesalahan masa lalu atas kesadaran politik Islam yang sebenarnya. Ringkasnya umat Islam Indonesia harus melihat kepentingan gandengan antara ulama dan umara yang senantiasa diperlukan dalam sejarah kegemilangan Islam. Itulah dakwah!

Kuala Lumpur 13/11/2020