Malam Mingguan di Pondok Nyeruit Cungkadiro dan Bundaran Air Mancur JSC Jakabaring
MAKLUMATNEWS.com, Palembang — Tiba-tiba ingat lagu ini …
Palembang di waktu malam
Di kala terang bulan
Bersinar di atas sungai musi
Beriring nyanyi sang dewi
Terbayang semua harapan
Dalam keindahan itu
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku
Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku
Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku
Ketika kami memasuki kawasan Jakabaring di malam Minggu, 29 Juni 2024.
Palembang di malam hari, ingat lagu Mutiara Palembang. Enak kita mendengarnya.
Mengutip Mongabay.co.id, di tahun 1970-an hingga 1980-an, lirik lagu “Mutiara Palembang” ini dapat dikatakan hampir dinyanyikan setiap remaja dan anak-anak di Palembang.
Bahkan, lagu milik kelompok musik Golden Wing ini juga dikenal di kalangan remaja di luar Palembang.
Tak heran, mereka yang dilahirkan tahun 1950-an hingga awal 1970-an memiliki kenangan tersendiri dengan lagu ini.
Pada lirik lagu “Mutiara Palembang” ini keindahan Sungai Musi menjadi inspirasi bagi grup yang digawangi Piter Kenn (gitar), Kun Lung alias Iksan (bass), Carel Simon (vokalis), Adhi Mantra (keyboard), dan Victor Eky (drums) saat meluncurkan album lagu ini di tahun 1974.

Pondok Nyeruit Cungkadiro
Hampir jam delapan malam kami tiba di Pondok Nyeruit Cungkadiro Jakabaring. Sebuah rumah makan sederhana bergaya lesehan dan natural.
Banyak pengunjung di malam itu. Ada mengambil tempat di depan, gaya makan seperti biasa dengan memakai kursi dan meja.
Kemudian masuk ke dalam, disinilah makan secara lesehan. Duduk bersila menghadap meja panjang.
Uniknya, kita bisa melepas dan menaruh sepatu dan sandal yang kita pakai di dekat tempat kita makan.
Lalu apa menu yang disajikan?
Pondok yang latar interior dindingnya dari anyaman bambu ini antara lain menawarkan es teh dan es jeruk.
Lalu ada nila bakar, patin bakar, pepes patin tempoyak, pindang jando, tempe mendoan, jukut goreng, sambal nyeruit dan pete bakar/goreng.
Harganya lumayan murah dan terjangkau. Paket hemat Nyeruit Rampai untuk 4 orang hanya Rp 150.000.
Lumayan enak dan tentu saja mengenyangkan.

Kawasan Air Mancur JSC
Dari Pondok Nyeruit Cungkadiro kami mampir di kawassn bundaran Air Mancur Jakabaring Sport City (JSC).
Malam di kawasan ini ramai pengunjung. Mobil berbaris rapi mengelilingi kolam air mancur.
Anak-anak bermain ditemani kedua orang tuanya. Pun remaja mengambil tempat di bibir kolam, menikmati indahnya malam dan kucuran air mancur.
Sementara di sekitar bundaran Air Mancur JSC, persisnya di seberang jalan, pedagang gerobak makanan berjejeran.
Beragam kuliner dijajakan. Mulai dari bakso bakar, sate, kemplang panggang, aneka minuman hingga yang populer jagung bakar.
Untuk jagung bakar kita tinggal pilih. Mau pedas atau biasa. Tersedia kursi di sepanjang trotoar.
Kita bebas menyantap makanan yang kita beli di kursi atau duduk bersila bergaya lesehan.
Makin malam pengunjung semakin ramai. Apalagi hari itu udara cerah. Kita leluasa menikmati malam sambil dengerin tembang dari pengamen jalanan.

Jalan Sudirman dan Masjid Agung
Bukan hanya di Jakabaring, di trotoar sepanjang Jalan Sudirman, tepatnya mulai dari bundaran air mancur hingga simpang Gaya Baru dan sekitarnya banyak dijajakan kuliner.
Kita bisa singgah di New Pedesterian Palembang ini. Menikmati gorengan atau menu khas kota ini.
Atau bisa menepikan mobil sebentar di sekitaran kawasan Masjid Agung SMB I Jayo Wikramo. Istirahat sambil menikmati gorengan lezat dengan harga terjangkau.




