Fenomena Budaya Buka Bersama

MAKLUMATNEWS.com, Palembang — Tradisi setiap bulan Ramadhan, terutama menjelang akhir Ramadhan di masyarakat kita sering terjadi acara ” Buka Bersama” atau istilah nya yang lebih keren adalah BUKBER.
Entah kapan budaya itu timbul, kita juga tidak tahu dengan pasti. Bukber biasa’ dilakukan oleh instansi atau lembaga baik pemerintah maupun swasta serta komunitas komunitas masyarakat yang ada.
Tentu ini mempunyai tujuan tujuan tertentu yang tergantung dengan penyelenggara dan anggota anggota nya.
Tentu budaya ini baik dari sisi interaksi sosial setidak tidaknya menyambung silaturahmi sekaligus memberi sedekah satu sama lain.
Tapi di sisi lain sebenarnya perlu dipertimbangkan dari aspek ibadah khusus seperti untuk menyegerakan shalat maqrib dan berbuka puasa sesuai Sunnah Rasul.
Untuk itu perlu dipertimbangkan waktu dan lokasi di mana acara itu dilakukan. Sebab kadang kadang ( tidak semuanya), tapi karena kondisi ramai dan lokasi serta ruang shalat kecil ataupun juga tidak ada sama sekali, membuat shalat maqrib nya tertunda atau juga harus menunggu pulang ke rumah dan lain lain.
Sebab kadang kadang niatnya juga ada ( tidak semua) yang tidak tulus, karena faktor faktor yang tidak bisa dihindari, misalnya acara kegiatan buka bersama dilakukan di kantor pemerintah dan atau swasta yang dilaksanakan oleh pimpinan: ada merasa keterpaksaan kalau tidak hadir nanti diketahui oleh pimpinan ( tidak ikhlas).
Belum lagi sebenarnya mereka mereka ini ada rasa punya tanggung jawab untuk berbuka bersama keluarga (suami, isteri dan anak anak) yang tentu tidak mungkin di bawa ke acara bukber itu.
Inilah beberapa fenomena dari acara bukber tradisi yang menjamur di saat-saat bulan suci Ramadhan. Sebagai catatan kecil dari fenomena sosial yang sedang berkembang.
Heterogen
Dikatakan Buka Bersama sebagai budaya sebab itu merupakan hasil dari cipta, karsa dan karya manusia ( Koentjaraningrat), atau menurut Ki Hadjar Dewantara Buka Bersama adalah hasil Budi dan Daya Manusia untuk menghadapi tantangan alam dan zaman.
Di samping itu juga merupakan perilaku yang sesuai dengan situasi dan kondisi di mana masyarakat itu berkomunikasi satu dengan yang lain sesuai dengan sifat masyarakat modern yang heterogen berpola bukan guyub bahasanya Djojodiguno.
Kita teringat dengan filosofi bangsa Melayu yang tergambar dalam kalimat petuah:
Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah ”
Syara’ Berkata, Adat Memakai.
Oleh Albar Sentosa Subari, Ketua Pembina Adat Sumsel




