Menguak Gangster India (6) : Misteri Pembunuhan Mahatma Gandhi
Tragedi itu menyisakan sesak haru dan tangis masyarakat India. Mereka kehilangan orang yang paling dicintai. Pergi dengan tiba-tiba ….
MAKLUMATNEWS.com, India — Berawal pada malam hari tanggal 30 Januari 1948. Nathuram Vinayak Godse, menembak mati Mohandas Karamchand Gandhi dari jarak dekat, ketika pemimpin paling dihormati di India itu menghadiri pertemuan doa di Delhi.

Penembak berusia 38 itu merupakan anggota fanatik dari partai sayap kanan, Hindu Mahasabha.
Partai ini menuduh Gandhi mengkhianati para pemeluk Hindu karena dianggap terlalu pro-Muslim dan bersikap lunak terhadap Pakistan.
Mereka juga menyalahkan Gandhi atas pertumpahan darah yang menandai pemisahan India dan Pakistan usai merdeka dari Inggris pada 1947.
Setahun setelah pembunuhan itu terjadi, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Godse. Dia dieksekusi pada November 1949, setelah pengadilan tinggi memperkuat putusan tersebut.
Kaki tangan Godse yang bernama Narayan Apte juga dijatuhi hukuman mati, sedangkan enam orang lainnya dihukum penjara seumur hidup.
Sebelum bergabung dengan Partai Hindu Mahasabha, Godse merupakan anggota Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) atau Organisasi Sukarelawan Nasional.
RSS merupakan akar ideologis dari Partai Bharatiya Janata (BJP). Perdana Menteri Narendra Modi juga merupakan anggota lama dari kelompok nasionalisme Hindu. RSS sangat berpengaruh di dalam dan di luar pemerintahan Modi.
Selama beberapa dekade, RSS menggambarkan Godse sebagai seorang paria – kasta paling rendah di India – yang telah membunuh “Bapak Bangsa”, sebagaimana orang India suka menyebut Gandhi.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, satu sayap kanan Hindu mengagungkan Godse dan merayakan pembunuhan Gandhi secara terbuka.
Seorang anggota parlemen dari BJP dengan berapi-api menggambarkan Godse sebagai seorang “patriot” pada tahun lalu. Hal itu memicu kemarahan sebagian besar orang India.
Tetapi RSS, yang kerap dikaitkan dengan Godse, teguh pada klaimnya bahwa Godse telah keluar dari organisasi itu jauh sebelum dia membunuh Gandhi.
Sebuah buku yang diterbitkan mengeklaim bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar

Pemalu
Godse dulunya merupakan seorang yang pemalu dan putus sekolah. Dia bekerja sebagai penjahit dan berjualan buah sebelum bergabung dengan Mahasabha, di mana ia bertugas menyunting surat kabar milik organisasi itu.
Selama persidangan, Godse menghabiskan waktu lebih dari lima jam untuk membaca pernyataan sepanjang 150 paragraf.
Dia mengklaim, “tidak ada konspirasi” dalam pembunuhan Gandhi dan mencoba melindungi kaki tangannya dari kesalahan.
Godse juga membantah tuduhan bahwa dia bertindak di bawah arahan pemimpin Mahasabha, Vinayak Damador Savarkar, yang melahirkan gagasan Hindutva atau ke-Hindu-an.
Meskipun Savarkar bebas dari semua tuduhan, para kritikus meyakini bahwa tokoh sayap kanan radikal yang membenci Gandhi ini terkait dengan pembunuhan tersebut.
Di pengadilan, Godse juga mengaku bahwa dia telah memutuskan hubungan dengan RSS jauh sebelum dia membunuh Gandhi.
Dhirendra Jha, penulis buku berjudul Gandhi’s Assassin, menulis bahwa Godse merupakan salah satu “pekerja yang penting” di RSS. Tidak ada “bukti” bahwa dia telah keluar dari organisasi itu.
Sebuah pernyataan Godse yang direkam sebelum persidangan, menunjukkan bahwa dia “tidak pernah menyinggung kepergiannya dari RSS setelah menjadi anggota Hindu Mahasabha”.
Namun di pengadilan, Godse mengaku “bergabung dengan Hindu Mahasabha setelah meninggalkan RSS, tetapi bungkam mengenai kapan tepatnya dia meninggalkan RSS”.
“Ini adalah klaim yang paling diperdebatkan dari aspek kehidupan Godse,” kata Jha.
Jha meyakini “penulis pro-RSS” telah menggunakan klaim tersebut “secara diam-diam untuk mendorong gagasan bahwa Godse telah memutus hubungan dengan RSS dan bergabung dengan Hindu Mahasabha hampir satu dekade sebelum dia membunuh Gandhi”.
Peneliti asal Amerika Serikat, JA Curran Jr, mengeklaim bahwa Godse bergabung dengan RSS pada 1930 dan keluar empat tahun kemudian, tetapi tidak tidak ada bukti yang disertakan atas pernyataan itu.
Sedangkan menurut Jha, Godse pernah mengaku bahwa dia bekerja untuk kedua organisasi itu secara bersamaan melalui keterangannya kepada polisi sebelum persidangan.
Anggota keluarga Godse pun turut bergabung dalam perdebatan terkait masa lalu pembunuh Gandhi itu.
Gopal Godse, yang merupakan saudara laki-laki dari Nathuram Godse, mengatakan saudaranya “tidak meninggalkan RSS”.
Secara terpisah, keponakan laki-laki Godse mengatakan kepada jurnalis pada 2015 bahwa Godse bergabung dengan RSS pada 1932, dan dia “tidak pernah dikeluarkan maupun meninggalkan RSS”.
Jha, yang menelusuri arsip-arsip yang ada, juga mengendus hubungan antara Hindu Mahasbha dan RSS.
Menurut dia, kedua organisasi itu memiliki “hubungan yang tumpang tindih” serta ideologi yang identik. Keduanya “berhubungan dekat dan terkadang memiliki keanggotaan yang tumpang tindih” sampai saat Gandhi dibunuh.
RSS sempat menjadi organisasi terlarang selama lebih dari satu tahun setelah pembunuhan Gandhi.
Namun, RSS selalu menggaungkan klaim Godse di pengadilan, bahwa pria itu telah meninggalkan organisasi pada pertengahan 1930-an. Bagi RSS, hal itu membuktikan bahwa mereka tidak berkaitan dengan pembunuhan Gandhi.
“Mengatakan bahwa dia (Godse) adalah anggota RSS adalah kebohongan politis,” kata pemimpin senior RSS, Ram Madhav.
MS Golwalkar, salah satu pemimpin paling berpengaruh di RSS, menggambarkan pembunuhan Gandhi sebagai “tragedi yang besarnya tidak tertandingi – terlebih lagi, karena pelakunya merupakan seorang warga negara beragama Hindu”.
Para pemimpin RSS seperti MG Vaidya juga menyebut Godse sebagai “pembunuh” yang “menghina” Hindutva karena membunuh tokoh yang begitu dihormati di India.
Tetapi, penulis Vikram Sampath meyakini RSS dan Hindu Mahasabha memiliki hubungan yang penuh gejolak.
Sampath, yang menulis dua jilid biografi Savarkar, menganggap keputusan Mahasabha Hindu membentuk kelompok sukarelawan “masyarakat revolusioner rahasia” demi “menjaga kepentingan umat Hindu” yang telah “memperburuk” hubungan organisasi itu dengan RSS.
Selain itu, menurut Sampath, RSS “tidak lagi mendewakan individu tertentu”, tidak seperti pemimpin Mahasabha, Savarkar, yang meyakini “pemujaan berlebihan terhadap sosok yang dianggap pahlawan”.
Dalam buku lainnya yang berjudul RSS: A View to the Inside, Walter K Andersen dan Sridhar D Damle mengatakan bahwa organisasi itu “diselimuti keterlibatan mantan anggota mereka (Nathuram Godse) dalam pembunuhan Gandhi”, serta “difitnah sebagai fasis, otoriter, dan obskurantis”.
Bagaimanapun, keraguan bahwa Godse adalah bagian yang tidak pernah meninggalkan RSS tidak pernah pudar.
Sebelum Godse dieksekusi di tiang gantungan pada 15 November 1949, dia membaca empat kalimat pertama dari doa RSS.
“Sekali lagi, itu menegaskan fakta bahwa dia adalah anggota aktif di organisasi itu,” kata Jha.
“Memisahkan RSS dan pembunuhan Gandhi adalah upaya merekayasa sejarah,” katanya.

Doa Terakhir
Mohandas Karamchand Gandhi, itulah nama lengkap dari pemimpin politik dan spiritual gerakan kemerdekaan India yang dikenal dengan Mahatma Gandhi.
Namanya harum di dunia internasional, namun ia meninggal mengenaskan pada 30 Januari 1948 silam.
Tokoh yang memiliki ciri khas berkepala botak, bertongkat dan berkacamata ini tewas ditembak oleh seorang pengikut nasionalis Hindu garis keras.
Kala itu, sedang digelar acara doa bersama di New Delhi, India. Tiba-tiba saja seseorang mengacungkan pistol ke pria kelahiran 2 Oktober 1869 itu dari jarak dekat.
Saat itu ia tengah berjalan menuju panggung, di tengah-tengah keramaian warga India yang menantinya untuk memimpin doa. Tak disangka acara doa bersama itu adalah yang terakhir baginya.
Rakyat India merasa terpukul atas kematian Gandhi.
“Pemimpin kita yang tercinta, Bapu, demikian kita memanggilnya, bapak bangsa ini telah tiada,” demikian pengumuman Jawaharlal Nehru, perdana menteri pertama India, seperti dikutip Jagdishchandra Jain dalam buku berjudul ‘Gandhi, The Forgotten Mahatma’.
Massa di New Delhi pun menyemut untuk menyaksikan proses kremasi Gandhi pada 6 Februari 1948. Abunya lalu disimpan di sejumlah guci untuk disebar ke beberapa tempat khusus.
Abu jenazah Gandhi ini selama puluhan tahun disimpan oleh salah satu anggota keluarganya. Lalu sebagian dilarung di Laut Afrika Selatan Sabtu 30 Januari 2010.
Abu sang pahlawan, serta taburan bunga dan lilin apung dibawa aliran air dan angin menuju Samudera Hindia.
Prosesi tersebut dilakukan dini hari dari sebuah pelabuhan di Durban, Afrika Selatan. Diselenggarakan tepat 62 tahun peringatan kematian Gandhi.

Lima Kali
Sejak tahun 1934, ternyata telah ada lima upaya gagal untuk membunuh Gandhi di Rumah Birla (Gandhi Smriti).
Kisah pembunuhan Gandhi mulai dari rencana, kepentingan politik di sekitar dan pengadilan yang menjerat pembunuh Gandhi, yakni Nathuram Godse serta rekan-rekannya: Narayan Apte, Vishnu Karkare, Gopal Godse dan Madanlal Pahwa juga diabadikan di buku ‘The Men Who Killed Gandhi’.
Buku tersebut menyoroti alasan mengapa Mahatma Gandhi dibunuh dan bagaimana 5 orang tersebut datang bersama-sama dan merencanakan pembunuhan itu.
Penulisnya adalah Malgonkar yang tinggal di New Delhi, tak jauh dari Birla House, tempat Gandhi tewas.
Ketika peristiwa ini terjadi, Malgonkar memiliki akses ke beberapa anggota keluarga dari para konspirator. Alhasil, ia bisa menyaksikan foto-foto penting dan dokumen yang berkaitan dengan pembunuhan menggemparkan itu. Hingga tercipta masterpiece buku ‘The Men Who Killed Gandhi’.

4 Prinsip Perdamaian
Mahatma Gandhi terkenal lewat 4 prinsip perdamaiannya. Yakni Bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), Satyagraha (kekuatan kebenaran dan cinta), Swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan Ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua makhluk).
Lewat 4 prinsip perdamaiannya, Gandhi berhasil menjadi inspirasi dunia. Metode persuasif Gandhi bahkan mengilhami para pemimpin pergerakan hak-hak sipil di seluruh dunia, termasuk mendiang Martin Luther King Jr di Amerika Serikat.

Kisah Heroik
Dalam memoar Manuben Gandhi berjudul Last Glimpses Of Bapu, Mahatma Gandhi dijadwalkan bertemu Deputi Perdana Menteri India Vallabhbhai Patel sebelum doa yang dijadwalkan pukul 5 sore tersebut.
Manuben menyebut Gandhi dan Patel terlibat dalam diskusi yang sangat serius. Sampai-sampai melewati jadwal doa bersama.
“Tak seorang pun berani mengusik perbincangan mereka,” tulis Manuben dalam catatannya. Manuben adalah kemenakan Gandhi sekaligus merangkap asisten pribadi.
Khawatir Gandhi malah marah karena tak diingatkan jadwal doa bersama itu, Manuben memberanikan diri memotong pembicaraan. Gandhi terlambat 10 menit, ratusan orang beragam usia mulai dari pelajar, pengusaha, sampai anggota militer sudah memenuhi rumah tersebut. Pelan-pelan Gandhi menaiki tangga dengan memegang bahu asistennya menuju ruang belakang.
Manuben berjalan di sisi kanannya. Kerumunan orang berdesak-desakan melihat Gandhi lebih dekat. Perempuan muda ini melihat seorang pria dengan perawakan kekar memecah kerumunan dan mendekati Gandhi.
Tangan pria itu terlipat. “Saya pikir dia hendak menyentuh kaki Bapu, seperti kebiasaan muridnya. Meskipun Bapu tak menyukai kebiasaan itu,” tulis Manuben.
Pada murid yang sering menyentuh kaki dan mengambil debu bekas pijakannya, Gandhi berkata, “Saya hanyalah seorang manusia biasa.” Manuben berusaha menjauhkan lelaki tersebut dari Gandhi seraya berkata acara doa sudah terlambat.
Namun lelaki yang kemudian diketahui bernama Nathuram Godse itu mendorong Manuben. Barang-barang milik Gandhi yang dipegang Manuben seperti tasbih, tempolong tempat ludah, dan buku catatan terjatuh. Ketika Manuben berupaya mengambil barang-barang itu terdengar tiga kali letusan beruntun.
Gandhi masih berusaha berjalan namun kemudian terjatuh. Luka bekas tembakan terlihat di perut tokoh spiritual India itu.
Ratusan orang yang memenuhi tempat itu dalam beberapa detik tertegun karena kaget dan kebingungan. Namun tidak bagi, seorang diplomat muda Amerika Serikat bernama Herbert Thomas “Tom” Reiner Jr.
Reiner yang berdiri tak jauh dari sang penembak langsung bereaksi. Dia menghampiri Godse, memegang pundak dan kemudian memiting dengan keras. Sementara pengunjung lain melucuti pistol. Dalam pitingan Reiner, Godse dihujani pukulan bertubi-tubi. Reiner tetap memegang penembak itu sampai polisi tiba.
Reaksi cepat itu tidaklah mengherankan karena Reiner adalah perwira intelijen Angkatan Laut AS yang ditugaskan pada Kementerian Luar Negeri.
India merupakan daerah penugasan pertamanya sebagai seorang diplomat. Reiner yang saat itu masih berusia 32 tahun seperti yang dikutip dari The Washington Post mengagumi Gandhi.
Gerakan nonkekerasan yang ditempuh Gandhi melawan penjajahan Inggris menginspirasi dunia termasuk Reiner. Setelah tiba di India pada akhir 1947, dalam surat pada ibunya, Reiner mengaku punya harapan besar melihat langsung sosok Gandhi.
Rasa penasaran atas Gandhi itu, membimbing wakil konsuler Kedutaan AS di New Delhi itu menghadiri pertemuan doa bersama di Birla House.
Dalam buku yang ditulis Roy Olin Stratton berjudul SACO, the Rice Paddy Navy, Reiner sebenarnya merasa heran karena tak ada penjagaan yang ketat pada Gandhi mengingat 10 hari sebelumnya ada bom yang meledak di tempat itu.
Setahun setelah peristiwa itu, Reiner dipindahkan ke Korea. Dia menjabat di negara tersebut sebagai konsul jenderal. Sementara Godse, dijatuhi vonis hukuman mati.
Godse berkeyakinan Gandhi mendukung tuntutan politik umat Islam yang ingin berpisah dari India. Eksekusi atas aktivis organisasi sayap kanan itu digelar November 1949.
Sumber tulisan :
Liputan6.com
BBC com
Detik.com




