Perlunya Kita Jujur Dalam Berniaga..!
Oleh : Aminudin (Pegiat Keislaman dan Literasi Sumsel)

MAKLUMATNEWS.com, Palembang—TAK bisa dipungkiri masih banyak di antara kita yang tidak jujur dalam berdagang. Misalnya pedagang buah. Kita katakan kepada pembeli kualitasnya baik, tapi setelah dicicipi setibanya di rumah, bikin hati kecewa. Atau kita jual barang dengan harga yang berlipat-lipat. Kita jual baju harga, misalnya Rp 50 ribu. Pembeli menawar separonya. Tapi kita tolak sambil berkata, “Kalau segitu mana untung lagi. Ambilnya saja Rp 50 ribu.” Padahal tidak demikian besarnya. Dijual separo harga masih bisa untung walau sedikit. Kita tidak menyadari, akibat ketidakjujuran kita ini pembeli merasa dirugikan.
Rugi karena merasa dibohongi. Apa enggak berdosa? Tapi untunglah mereka tidak neko-neko.
Paling ngomel sebentar karena kecewa. Setelah itu lupa sendiri. Padahal dengan bersikap jujur dalam jual beli banyak manfaat yang kita peroleh. Di antaranya rezeki yang kita peroleh ak an berkah dan diberi keberkahan oleh Allah SWT. Bukan itu saja. Hidup kita jadi tenang tanpa beban. Tentunya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Dihormati dan disegani oleh sesama manusia karena semua orang menghargai kejujuran kita. Selamat dari bahaya karena kejujuran akan membawa manusia ke jalan yang benar. Pastinya banyak teman dan memperoleh
kemudahan dalam hidup. Dijamin masuk surga dan dicintai oleh Allah SWT serta rasul-Nya.
Diceritakan, ada seorang saleh selalu mewasiatkan kepada pekerjanya untuk selalu meminta kepada para langganan nya agar diberitahu kalau ada barang dagangannya yang cacat. Setiap kali ada pembeli datang, ia memin ta untuk mengecek barangnya terlebih dahulu. Suatu hari, seorang Yahudi datang ke to konya dan membeli sebuah baju yang ada cacatnya.
Pada waktu itu pemilik toko tidak ada di tempat, sementara Yahudi tidak mengecek baju ini terlebih dahulu keburu pergi. Tidak lama kemudian, pemilik toko datang dan menanyakan perihal baju yang cacat tersebut. Maka dijawab, “Baju itu telah dibeli oleh seorang Yahudi.” Lalu pemilik toko itu bertanya perihal Yahudi tadi, “Apakah ia sudah mengecek cacat yang ada pada baju itu?”
Lalu dijawab, “Belum.” Pemilik toko bertanya lagi, “Sekarang mana dia?” Dijawab kembali, “Ia sudah pergi bersama rombongan dagang.” Seketika itu pula, sang pemilik toko mem bawa uang hasil pembayarannya dari baju cacat itu.
Lalu ia mencari rombongan dagang yang dimaksud dan baru mendapatinya setelah menempuh perjalanan tiga hari, seraya berkata, “Hai fulan, tempo hari kamu telah membeli sebuah baju yang ada cacatnya. Ambil uang kamu ini dan berikan baju itu.”
Yahudi itu balas menjawab, “Apa yang menyebabkan berbuat sampai sejauh ini?”
Lelaki itu menimpali, “Islam dan sabda Rasulullah saw., “Siapa yang menipu bukan berasal dari umatku.”
Yahudi balik menimpali, “Uang yang aku bayarkan kepadamu juga palsu. Maka, ambillah uang tiga ribu ini sebagai gan tinya dan aku tambahkan lagi lebih dari itu, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasulullah.”
Wallahu a’lam bishshawab__
Sumber Literasi :
– 100 Kisah Teladan Tokoh Besar; Muhammad Said Mursi & Qasim Abdullah Ibrahim
– Haidunia.com